Curiosity Killed The Cat (18+)

5K 149 3
                                        

Minggu, 24 Maret 2024

Sebagai feminis tulen, Haya tidak pernah membayangkan ia bersiap dari hulu ke hilir hanya untuk memuaskan seorang pria.

Berlulur selama 30 menit; menggosok sel kulit mati dari leher sampai ke tumit; mencukur bulu kemaluannya hingga licin meski rumit.

Ia siap disantap bulat-bulat. Siap digagahi hingga raganya terbang ke awan. Dan jika ia beruntung, memori persetubuhan mereka mungkin bisa menemani William dalam perjalanannya kembali ke Singapura.

Haya siap mencetak sejarah.

Sayangnya, ekspektasi tidak selalu bertemu dengan realitas. Antusiasme tersebut justru direspons ala kadarnya oleh William.

Dan Haya mulai gamang. Pertama kalinya di malam itu.

Tepatnya jam 11 malam. William pulang dari rangkaian dinas "singkatnya" ke Singapura. Kebetulan kali ini agak lebih panjang. Atau mungkin terasa lebih panjang karena kesabaran wanita itu diuji seiring waktu.

Dari jam 9 malam, Haya duduk di sofa ruang tamu dengan gaun tidur satin model saru selutut, menunggu kekasihnya pulang sembari membayangkan hal-hal senonoh yang akan mereka lakukan di kamar utama.

Jam di ruang tamu berdetik menghabiskan waktu. Satu jam terlewat, batinnya mulai tidak sabar. Dua jam terlewat, ia mulai kehilangan sabar. Lebih dari itu, rasa sabarnya berganti menjadi rasa khawatir, takut William kenapa-kenapa di jalan.

Untungnya, jam 11 malam lebih beberapa menit, William masuk ke dalam apartemen dalam keadaan utuh dan lengkap. Dengan masih menenteng kopernya, Haya menghambur, loncat ke tubuh kekasihnya yang macam tiang itu, yang selalu dengan sigap memahami ia ingin digendong.

Kaki bergelung di pinggang, tangan bergelung di leher, keduanya penuh urgensi untuk mendekap William tidak mau lepas. Prianya juga tidak punya niat untuk melepas. Ia angkat pantat Haya lebih tinggi, mengaturnya agar lebih nyaman

"Eungg....kangen," rengeknya manja di kuping yang lebih tua. Sesaat setelahnya mencium leher William sekilas lalu merebahkan kepalanya di sana, menanamkan pemahaman bahwa ia butuh. Butuh akan kekasihnya.

"Sayang, belum tidur?" William mengusap-ngusap punggungnya, selaras dengan ujung hidungnya yang menggesek-gesek leher sang adam manja.

"Mau nungguin kamu."

"Kan udah kubilang tidur aja. Tidur gih. Kasihan kamu besok kerja."

Meski perhatian, William tampak lelah malam itu. Haya sulit menjelaskan secara objektif tanpa melibatkan sentimen dan rasa sakit yang tajam di ceruk hatinya, tapi jika ia coba jabarkan: ada sesuatu pada nada yang William gunakan malam itu yang membuatnya terdengar netral dan berjarak.

Inisiatif (barangkali lebih besar rasa kecewa), Haya turun dari badan William, berhenti menjadi koala. Berdiri di kakinya sendiri, ia beranjak ke kamar, meninggalkan William dengan koper dan bawaannya di ruang tamu.

Masuk ke dalam selimut, ia berharap dibujuk. Tidak berapa lama, William masuk ke dalam kamar dan bukannya bergabung dan mencumbunya hangat (seperti yang Haya imajinasikan), pria itu melenggang ke kamar mandi.

Bunyi kucuran air yang khas terdengar, menandakan William mandi. Dan Haya tidak bisa menghentikan pikiran-pikiran cabulnya berkelana setiap William mandi. Kesayangannya, calon suaminya, terlihat paling maskulin saat ia mandi.

Mandi bersama adalah kegiatan rutin bagi keduanya, yang jika tidak ditunaikan karena satu dan lain hal, dapat membuat salah satunya ngambek merasa tidak diperhatikan. Tentu saja kebanyakan dilakukan oleh sang pria yang ngotot jika itu harus jadi agenda resmi mereka.

Teman KondanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang