Sabtu, 6 April 2024 (16.30)
Ujung sepatu hak putih Haya mengetuk-ngetuk genangan air di tanah, membuatnya muncrat mengotori punggung kakinya yang putih. Tak berhenti, cuff celana jeans putihnya pun perlahan-lahan jadi jorok kena cipratan.
Haya tidak pernah benci hujan. Namun, selayaknya warga Depok pada umumnya, perempuan itu punya kebencian tersendiri pada hujan yang begitu deras dan berlangsung semalam suntuk hingga rumahnya kebanjiran.
Dalam perjalanan pulang setelah menghadiri kondangan kedua bersama William, hujan sempat turun dengan amat deras. Haya berceloteh pada William bahwasanya ia tidak begitu suka mengendarai motor ketika hujan dan oleh sebab itu merasa bersyukur William membawa mobil. William, yang mendengarkan lamat-lamat waktu itu, menanggapi dengan janji jika ke depannya Haya tidak perlu merasa takut kehujanan karena ia akan selalu ada untuk mengantar gadis itu ke mana pun, saat yang bersangkutan tinggal berpuluh kilo meter jauhnya.
Haya juga ingat waktu itu ia menolak godaan yang penuh determinasi itu dengan ringan, mengatakan jika pria itu tidak usah repot-repot karena ia sudah terbiasa. William menanggapi dengan kekehan canggung kemudian berceloteh balik panjang lebar tentang bagaimana hujan di Indonesia tidak bisa diromantisasi, selayaknya yang tertera di novel teenlit Amerika dan Eropa. Menurutnya, Indonesia terlalu lembap sehingga kuman-kumat gampang berkomplot untuk membuat penyakit baru yang aneh-aneh ketika hujan. Karenanya, Haya sebaiknya nurut saja.
Haya ingat ia tertawa terbahak-bahak mendengar cara William berbicara, cara ia bersikeras agar gadis itu diantar jemput olehnya, dan cara ia cemberut ketika gagasannya ditolak dengan sopan tanpa mengetahui beberapa tahun setelahnya William membuktikan perkataan tersebut dengan mengantarnya ke mana-mana, tidak membiarkan ia kehujanan.
Tidak lagi terbiasa merasakannya, mungkin itu penyebab utama mengapa Haya mulai membenci hujan—tidak sampai pada taraf di mana ia mengutuk bila hujan turun, tetapi jelas tidak pernah mengidam-idamkan kedatangannya.
Tetapi di sinilah ia, duduk di halaman toko baju pengantin yang telah tutup, bermain dengan genangan air dari hujan yang turun 15 menit yang lalu sebab ia kehilangan akal. Kesabarannya mengungsi ke selatan, menyisakan perasaan hampa yang setia menemaninya belakangan ini.
Hening. Ia cocok berteman dengan hening. Kehidupan yang gemerlap dan berisik bukan dirinya sama sekali. Seharusnya ia sudah tahu itu sejak William datang ke hidupnya. Memberinya penghidupan, gairah, dan segala mimpi yang rasanya mustahil untuk terlalu sempurna.
Haya termenung. Rautnya memilukan. Matanya sayu menatap genangan air di bawah kakinya, yang dengan lancang merefleksikan tubuhnya yang bergetar; rambut dan badannya yang basah kuyup; tangannya yang mengepal dan memutih; serta kelopak mata yang menahan baik-baik air matanya agar tidak jatuh.
Haya tampak hancur, baik pada bayangan di genangan air maupun pada realitasnya. Pikirannya terisi penuh dengan serangkaian kejadian memilukan yang ia hadapi belakangan ini. Memorinya berputar kacau. Imlek berlangsung begitu menyesakkan; mimpi yang membuatnya nelangsa berkepanjangan; segala wejangan nenek William yang memberatkan; dan segala upayanya untuk bersandiwara pada dirinya sendiri dan William, bersikap seolah tidak ada yang terjadi, bersikap seolah ia tidak tahu apa-apa.
Dan mereka baik-baik saja.
Semua upaya itu hancur dalam sebuah unggahan story Alya tadi siang bersama William. Keduanya makan siang bersama. Dan meski ada beberapa orang lain di foto tersebut, ia dan William duduk berdampingan. Haya perhatikan diunggah beberapa jam lalu. Yang jika dihitung mundur ke belakang adalah tepat sebelum William berangkat ke bandara.
William, dalam foto tersebut, tampak damai. Tidak ada tanda-tanda kecemasan ia akan terlambat menghadiri janjinya pada Haya hari itu. Ia baca-baca lagi pesannya dengan William, berusaha menemukan apakah ada miskomunikasi atau ia lagi-lagi salah paham karena terlalu marah, tetapi yang ia temukan justru kenyataan bahwa pria itu berbohong padanya. William pulang jam 9 malam hari itu, ia tidak salah baca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Kondangan
FanfictionPenggalan kisah cinta antara William dan Haya, si penikmat buffet kondangan dan fake extrovert yang gak bisa apa-apa tanpa teman kondangannya. *Contain Harsh Word *Rating might change to 18 - 21 ke atas (This story based on AU from X. For full story...
