Special Chapter: Insomnia (18+)

1.9K 128 15
                                        

Haya dipaksa bangun oleh bunyi ketik laptop pada jam satu pagi yang sunyi dengan bulu kuduk merinding. Saat itu sudah masuk musim hujan yang dinginnya bangsat. Pengatur suhu tidak cukup menghangatkan ruang beku di kasurnya, ditinggalkan oleh sang suami yang tampak terjaga di meja kerja dengan kacamata baca, tampang tertekan, dan cahaya laptop menyorot wajah tampannya.

"Will, kapan tidur?" tegur Haya, mulut menguap dan wajah kukang. "Kelelawar aja tidur jam segini loh, Sayang."

Lambung perempuan itu sakit ketika duduk, perlu diganjal oleh bantal untuk menahan rasa nyerinya. Pelupuk matanya masih berat seakan dipasangi bandul yang tergantung di sela-sela bulu matanya yang lentik. Belakangan ini Boenno sedang sibuk-sibuknya. Ia saja butuh tidur lebih dari 12 jam sehari sebagai kompensasi. Haya tidak mengerti bagaimana William masih dapat duduk dengan postur yang sempurna setelah baru saja kembali dari Malaysia beberapa jam lalu.

Melihat siluet suaminya yang pekerja keras itu—atau lebih tepat disebut dipaksa bekerja keras—punggungnya jadi ikutan nyeri. Demikian, langkahnya ringan menghampiri sang suami, berada di belakang untuk memijat bahu William, yang kalau dari dekat, terlihat kaku juga.

"Kamu aja yang tidur, Ay." tegur William balik. Menoleh sekilas pada sang istri yang tengah ngambek, segera tangan Haya diciuminya singkat, sebelum perhatiannya kembali pada dokumen yang harus diketik. Haya berdecak. Niat awalnya mengomel mengetahui sang suami diam-diam mematikan lampu demi dirinya dapat tertidur nyenyak. Haya bukan istri yang egois. Entah berapa kali ia telah katakan, William wajib menjaga matanya agar minusnya tidak tambah. Keputusan untuk memindahkan meja kerja ke dalam kamar tidur juga berangkat dari dirinya yang kasihan pada sang suami yang sering ketiduran di ruang kerja.

"Kita bukan makhluk immortal ihhh..." Haya mengeluh. Bibirnya mengerucut manja setiap kali sang suami, yang biasanya penurut itu, mengabaikan perhatiannya. Di sisi lain, William merupakan pribadi yang fokus. Ia multitasking. Tak ada pengabaian di kamusnya, apalagi jika menyangkut perempuan itu. Kenyataannya, William dengar semua keluhan Haya, termasuk kebiasaan istrinya untuk bicara random saat nyawanya belum terkumpul.

"Nokturnal kali, Ay?" koreksinya.

"Sama aja!"

"Beda, Sayang."

"Di otak aku sama! Sama-sama gak tidur."

Tersenyum sedikit sembari menepuk pinggang dan pantat istrinya lembut dengan satu tangan, William mengalah. "Iya iya sama, Sayang."

Sedetik kemudian Haya buru-buru mengoreksi. Insomnia William tidak dapat disandingkan dengan hewan nokturnal karena mereka tidak bekerja di siang hari sekeras yang William lakukan.

Soal itu juga William sependapat.

Ia yang mungkin paling berwenang menjabarkan efek buruk dari kerja nonstop selama seminggu penuh di depan layar, dengan durasi tidur 2 hingga 3 jam. Bukan hanya mata, tangan, kaki, punggung, dan semua inci badannya serasa terlepas satu sama lain. Untuk mengeluh pun, tenaganya telah habis terkuras.

"Enggak bisa tidur aku, Ay. Berkasnya masih banyak," tunjuk William pada deretan dokumen di atas meja kerjanya. Jeda dalam sunyi sebagaimana Haya juga tidak berniat untuk berhenti membujuk. Membalik kursi beroda empuk miliknya, William tahu istrinya yang cantik itu sedang memandanginya jengkel dengan mata besarnya yang menuntut. "Dan satu fakta lagi, kelelawar keluarnya jam segini, Sayang. Mereka enggak tidur."

"Cih, itu kan bercanda." Haya berdecak. "Bercandaan aja kamu seriusin. Giliran serius, kamu bercandain."

Kaki-kakinya yang mungil menghentak-hentak, membuat gaun tidurnya yang pendek menjadi tempat mata sang suami bermuara. Penyegaran mata dimulai. William tidak pernah luput memperhatikan bagaimana kaki-kaki Haya tampak bening bebas bulu. Kelihatan baru saja dicukur di salon, membuat pikirannya mau tak mau berkelana ke bagian-bagian lain di tubuh istrinya—yang akan selalu memukau dan menggairahkan di setiap jengkalnya meski dengan bulu-bulu lebat sekalipun.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Teman KondanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang