[24 Desember 2023]
Sudah satu setengah jam William ada di dapur. Sudah setengah kilo adonan halus daging babi campur udang ia habiskan untuk membuat dumpling, yang dalam tradisi keluarganya hanya boleh dibuat tangan sehari sebelum natal tiba. William tidak yakin benar, tidak seperti ia peduli juga, tetapi seingatnya tradisi ini terkait dengan keberuntungan.
Alah, pria skeptis sepertinya mana percaya keberuntungan. Kalau pun ada, keberuntungannya pasti sudah habis di Haya.
Lagi-lagi selalu tentang Haya, si cantik kecil pink itu.
Hari ini panas William masih tinggi. Memeluk Haya seharian tanpa baju, skin to skin, memang metode yang ampuh untuk menghantarkan panas ke tubuhnya. Dan meskipun menurut konsensus kebanyakan pria paling rewel saat demam, William tidak keberatan dengan itu. Biarlah ia yang sakit, jangan pacarnya yang kecil mungil itu.
Hari ini panas William masih tinggi. Harusnya ia istirahat di rumah saja. Tetapi memikirkan Haya akan sendirian di kediaman orang tuanya di Kelapa Gading membuatnya gelisah hingga pada akhirnya memutuskan untuk ikut, meski kepalanya sudah berdenging di sepanjang jalan.
Hari ini panas William masih tinggi. Setidaknya, ia bisa istirahat di kamarnya. Tetapi karena Haya ikut membantu di dapur, ia yang biasanya sangat enggan melaksanakan tradisi itu, telah membuat setidaknya 50 dumpling. Selalu dan selamanya, sifatnya yang praktis mengatakan lebih mudah membeli ketimbang membuatnya sendiri.
Lagi-lagi selalu tentang Haya, si cantik kecil pink itu.
"Nih, Kokoh harus belajar ini juga." Sang Mama, Tante Ajeng, menunjukkan layar handphone kepadanya, sesaat setelah Haya—subjek yang hendak dibicarakan—melipir agak jauh ke sisi dapur yang lain.
Rumah keluarga Boen di Kelapa Gading luasnya kurang lebih 1000 meter persegi dengan 2 lantai. Dapur terbagi menjadi 3 ruang; ruang utama untuk memasak, ruang kedua di sisi kiri untuk penyimpanan bahan makanan, dan ruang ketiga di kanan untuk preparation. Yang terakhir paling jarang digunakan selain untuk acara-acara besar seperti Natal, Tahun Baru, dan Paskah.
Haya ada di dapur utama, mengecek rebusan yang dititip oleh mamanya untuk keluarga Boen sebagai ucapan terima kasih, sementara William ada di dapur ketiga sedang cemberut, namun telaten, membuat dumpling.
"Apa tuh, Ma?" William mengintip dari duduknya. Seperti pria kantoran lainnya yang rabun jauh, lehernya yang panjang sangat berguna dalam mengulurkan matanya ke layar HP. Silau cahaya ponsel membutakan matanya sesaat, membuatnya menyipit menjauh.
"Ini sup bagus untuk tambah darah," sambung wanita berumur 50-an awal tersebut. Ia kemudian duduk di samping anaknya yang terlihat bingung, menambahkan konteks, "Buat wanita saat menstruasi."
"Oohh...let me see." William mengangguk kalem.
Setelah melepas sarung tangan, ia ambil handphone mamanya, membaca instruksi resep chinese tradisional di dalamnya dengan saksama. Ternyata lumayan sulit untuk dibuat. Tetapi selama ini tentang Haya, si cantik kecil pink itu, dan rasa sayangnya yang tidak habis-habis, William bertekad untuk mencoba. Dalam kepalanya, ia selipkan agenda untuk first trial membuat sup tersebut di rumah, selambat-lambatnya awal tahun, hitung-hitung wishlist untuk awal tahun.
Maka saking fokusnya, ia sampai tidak mendengar mamanya telah berkali-kali berbisik, bertanya hal yang sama hingga harus mengeraskan suara untuk meminta perhatian. "Koh, Haya haidnya lancar?"
Duar!
Bulu kuduknya meremang, matanya pelan-pelan melarikan dari tatapan interogasi ibunya, menerka-nerka ke mana pertanyaan ini akan bermuara. "Lancar kayaknya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Kondangan
FanfictionPenggalan kisah cinta antara William dan Haya, si penikmat buffet kondangan dan fake extrovert yang gak bisa apa-apa tanpa teman kondangannya. *Contain Harsh Word *Rating might change to 18 - 21 ke atas (This story based on AU from X. For full story...
