Rekonsiliasi

4K 190 25
                                        

[Minggu, 7 April 2024, 22.30] 

Baru ditinggal sehari, Haya hampir tidak mengenali apartemen yang selama ini ia diami bersama William. Botol beer di ruang tamu penyok; kulkas masih menyala dengan pintu terbuka lebar; sampah botol alkohol dan anggur di dapur yang biasanya hanya dikeluarkan di saat-saat tertentu; dan kamar tidur keduanya ditemukan dalam keadaan berantakan bagai kapal pecah.

William merupakan pria yang luar biasa rapi. Hanya nelangsa yang mampu membuatnya sekacau ini.

Mata gadis itu berkaca-kaca selagi ia menggotong William ke kamar tidur, terseok-seok karena perbedaan bobot keduanya. Namun, 73 kg daging pria itu tidak sebanding dengan beban berat yang menggelayut di hatinya.

Sakit. Kenyataan yang barusan ia ketahui menyakitkan. William sengsara dan itu karenanya.

Diingatnya kata-kata Ansel sesaat sebelum ia meninggalkan kos yang bersangkutan di daerah Jakarta Timur sembari menggotong William di bahunya yang mabuk berat. Masih begitu melekat wajah lelah dan kesal Ansel, seperti mau memukul Haya jika saja dirinya laki-laki.

"Haya, kalau lu gak bisa maafin dia setelah gue kasih tahu semuanya lu jahat sih." Pesannya begitu pasangan itu masuk ke dalam taksi. Sekilas ia pikir tampaknya kalau ia tidak jadi menikah dengan William, Ansel bisa menggantikan, mengingat pria itu lebih memahami William daripada Haya sebagai pasangan.

"Gue ngerti kalau mau nikah tuh setannya banyak. Tapi kalau lu masih mau ngikutin perkataan setan ketimbang William, mending lu gak usah nikah deh. Kasihan William." Haya mengangguk paham, mulutnya patuh diam tidak memberikan pembelaan. Ia salah dan akan memastikan egonya tahu ia salah.

Sampai di tempat tidur, ia menurunkan William dengan hati-hati ke atas kasur. Yang bersangkutan tidak mau lepas hingga ia ikut terduduk. Merasa canggung, Haya bangkit berdiri, sementara telunjuk William tergantung pada celah di jaket rajutnya. Dengan keadaan setengah sadar, setengah pingsan, William bergumam, memohon agar Haya tetap tinggal.

Maka ia tinggal.

Merapikan posisi tidur William agar nyaman, melepas baju pria itu, dan berencana untuk membersihkan rumah setelahnya, Haya memutuskan untuk menghabiskan beberapa saat di samping William yang tertidur pulas. Ia duduk meringkuk di atas kasur, memperhatikan pria itu tidur.

Kembali, kata-kata Ansel ketika Haya mendapati William mabuk berat, meraung menangis di kamar kos sempit 25 meter persegi itu, terngiang-ngiang di belakang telinganya.

"Pas lo pacaran sama Darius, William try to kill himself. Dia emang gak akan ngaku kalau ditanya tapi gue tahu banget dia pernah nyoba."

"It's so depressing at that time. Gue pun bingung harus apa saat itu sampai gue pernah mikir untuk cut off dia karena gue stress banget gak bisa bantu apa-apa. Tapi cuma karena lo ngelihat storynya dia, William bahagia banget. Lu tuh kayak...apa ya, Haya...satu-satunya alasan dia hidup tahu."

"Gue yang suruh dia buat move on karena gue sendiri juga capek dicurhatin tentang lu terus dan di satu sisi dia kayak gak mau nemuin jalan keluar selain elu. Pokoknya harus elu, selain itu haram."

"Menurut gue sih dia sakit, tapi apalah gue pertama kali putus sama Siska juga pengen loncat dari gedung jadi gue pikir dia paling patah hati aja."

"Eh ternyata lama banget, Haya. Berlarut-larut. Sampai akhirnya dia nyoba sama Sarah. Itu pun juga karena gue maksa terus dan Sarah juga ngegas banget."

"Terus yang paling gue inget tuh dia bilang gini di telepon, gue lupa gimana tepatnya, intinya 'Kalau gue sama Sarah mungkin gue bisa ke-distract. Kalau gue ke-distract mungkin gue gak akan kepikiran aneh-aneh. Kalau gak kepikiran hal aneh-aneh mungkin gue bisa tetap ada di sini. Gue harus tetap ada di sini sampai pulang ke Indo ketemu Haya lagi'. Gue sampe.... apa ya, Hay..... speechless pas doi ngomong gitu. Kok jadi gitu sih tuh anak? Mau gue marahin juga gue gak tega. He suicidal. Gue harus hati-hati banget nasehatin dia. Lu tahu sendiri gue orangnya gimana."

Teman KondanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang