Haya ingat, beberapa bulan sebelum Isyana menikah, temannya itu pernah ragu dan berkata jika ia baru tahu seberapa tidak cocoknya ia dan Esa setelah liburan ke Bali, di tingkat di mana ia hampir membatalkan pernikahan jika nekat. Kalau bukan karena venue sudah dipesan lunas dan Esa berhasil membuktikan bahwa ia (masih) pantas, barangkali tidak akan ada percakapan antara Haya dan Isyana di telepon—yang berujung dua kesimpulan: pernikahan Esa-Isyana tetap dilanjutkan dan Haya perlu pikir-pikir ulang mengenai Darius.
Haya selalu ingat kejadian itu. Mampu ia ceritakan semalam suntuk mengenai seberapa tegasnya Isyana menyarankan ia dan Darius untuk travelling bersama sebelum mantap memutuskan menikah. Haya juga ingat bila saran itu lebih tepat disebut desakan, mengingat baik Isyana dan dirinya merasa ajakan Darius untuk cepat-cepat menikah adalah sinyal bendera merah yang telah dikibarkan sembunyi-sembunyi.
Saat itu Haya hanya menanggapi dengan kekehan tipis, mengiyakan saran Isyana yang menggebu-gebu, meski tahu persis jika ia tidak punya keberanian untuk mencoba. Jika Esa yang selama ini terlihat baik dan budiman saja mampu mengecewakan Isyana, Haya tahu benar travelling bersama Darius adalah ide buruk dan hanya kegagalan dan mati rasa yang ia akan temui di akhir perjalanan. Itu adalah upaya menyabotase mandiri sebuah hubungan.
But this time, she actually goes with William, and Haya ready to argue about it.
Apabila ada kata yang dapat mendefinisikan lebih dari mantap dan yakin, Haya dengan senang hati menyematkan itu pada kekasihnya seorang. Dipikir-pikir perasaan itu telah lama hadir, hanya saja semakin menguat ketika keduanya menghabiskan 9 hari penuh di Jepang.
Bagi Haya, William adalah sebaik-baiknya versi kaum Adam dapat diciptakan. Pada 190 cm tubuhnya, tidak ada ego—atau setidaknya berhasil ia kendalikan demi wanitanya—hanya kesabaran, lemah lembut, dan sikap bertanggung jawab yang Haya temui di sepanjang perjalanan.
Semua dimulai dari kejadian di Bandara Internasional Osaka pukul satu siang. Pasangan tersebut baru saja landing, hendak istirahat sebelum mengisi "agenda" malam ketika mengetahui bahwa hotel yang sudah dipesan dari jauh-jauh hari tiba-tiba tidak bisa check in di jam tersebut. Alhasil, keduanya tertahan di lobby selama dua jam, menunggu menghabiskan waktu. Sebetulnya tidak bisa dibilang tiba-tiba mengingat tulisan check-in jam 3 sore di laman utama pemesanan telah tertulis dengan jelas dalam aksara Jepang.
Haya lalai dan sebagai manusia yang tahu malu ia minta maaf berkali-kali. Dan meskipun William kelihatan capek dan ingin tidur—selayaknya manusia yang menghabiskan 26 jam di udara—pria itu tidak pernah gagal untuk selalu berkata—dengan nada bicara yang pelan dan lembut seolah suaranya hanya diperkenankan untuk didengarkan oleh Haya seorang—sesuatu seperti, "It's okay, Sayang. Hotel di Osaka emang kadang aneh. Bukan salah kamunya."
Dan pada setiap percakapan yang terbagi, wanita itu kembali menggembungkan pipi. Dengan kepalanya mendongak menatap manja penuh binar bibir sang kekasih—yang ia pinjam bahunya untuk bersandar selagi mereka duduk di ruang tunggu.
"Maaf ya, Will. Aku harusnya tanya kamu dulu kalau bahasa Jepang. Coba kalau aku gak sotoy pesan dan tanya kamu dulu, pasti kita udah tidur kan?"
"Loh enggak papa, Ay. Aku juga udah lupa bahasa Jepang," balas William tertawa renyah, menutupi kenyataan jika faktanya Haya memang kurang riset.
Berangkat dari track record-nya, Haya merupakan planner yang baik dan perempuan mungil kesayangannya itu selalu ingin ambil bagian dalam hubungan, sekecil dan sebesar apa pun perannya. Maka ketika Haya mengatakan ia telah mengurus tiket-tiket yang dibutuhkan dengan nada bangga penuh percaya diri disertai kata-kata hiperbola seperti, "Udah deh. Kamu serahin aja urusan tiket sama aku. Kamu ke sana tinggal bawa pantat aja", William tidak sampai hati untuk ikut campur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Kondangan
FanfictionPenggalan kisah cinta antara William dan Haya, si penikmat buffet kondangan dan fake extrovert yang gak bisa apa-apa tanpa teman kondangannya. *Contain Harsh Word *Rating might change to 18 - 21 ke atas (This story based on AU from X. For full story...
