Kiss and Make Up (21+)

9.9K 285 58
                                        

Peluh, deru nafas, aroma persetubuhan yang khas, dan kewarasan yang tercecer di segala tempat.

Entah di kasur; di segenggam kulit punggung William yang diremasnya sebagai tumpuan; di antara kunci paha keduanya yang saling adu; atau di langit-langit kamar hotel yang bertemu mata setiap tubuhnya melengkung ke atas karena urgensi yang tidak mampu dikandung oleh badannya yang mungil—bagai ombak yang beriak-riak.

Haya mabuk. Dibuat mabuk lebih tepatnya.

Kekasihnya tahu bagaimana cara memperlakukan tubuhnya dengan benar dan lembut, sekaligus tidak sopan dan tanpa ampun. Haya, di pangkuan William, dipancing untuk menyumpah dengan keras setiap pasangannya itu bergerak liar di bawah sana, masuk dan keluar mengisi dirinya, dengan ritme yang sama pada tarikan nafas di lomba maraton, menunggu momentum yang tepat untuk berlari kencang menuju garis finis.

Bedanya ia telah finis dua kali, dan meski otaknya sudah mengirimkan sinyal untuk istirahat, tubuhnya masih merongrong akan William, membuatnya bertanya-tanya terbuat dari apa pria ini hingga sangat adiktif?

Dia diam-diam tidak mengerti mengapa orang-orang menggunakan narkoba saat ada surga dunia semacam William.

Williamnya yang tampan, yang hanya ada satu di dunia, yang masih sempat-sempatnya bertanya, "Enak, Sayang?" menuntut jawaban seolah desahan dan ringisan Haya memanggil namanya kurang sebagai afirmasi bahwa yang ia lakukan pada tubuh gadis itu lebih dari sekadar kata enak.

Atas pertanyaan itu, Haya hanya bisa mengangguk lemah mengiyakan, kemudian kembali memohon dan memuja, memotivasi kekasihnya untuk menekan titik-titik sensitifnya tepat sasaran seolah ia telah diprogram untuk serba tahu.

Melayang mungkin kata yang tepat tuk gambarkan perasaan Haya saat ini.

Bukan semata-mata karena kakinya yang melingkar di pinggang William hampir terlepas—karena tidak makan waktu lama hingga pria itu berhenti untuk mencengkeram pahanya agar kembali terpilin sempurna, menarik badannya agar semakin menempel, dan membubuhkan ciuman lembut di bahu dan lehernya—melainkan sebab di setiap inci kulit yang bergesekkan; di setiap kecupan-kecupan kecil yang saling bertukar; dan di setiap tatapan yang keduanya bagi, ia yakin William merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan, memujanya dengan sama tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi.

Maka oleh sebab itu, di bawah pengaruh William, Haya sadar betul jika ia (lagi dan lagi) akan selalu rela menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya.

Beberapa saat lalu, bahkan mungkin tidak sampai sejam, ia ingat ia masih bertengkar hebat dengan William di dalam mobil. Perkara kekasihnya yang tersayang itu memutuskan untuk cilukba bagai jin gosok di restoran Sunda tempat ia dan timnya mampir makan. Ia juga ingat seberapa kaget dan gugupnya ia dan para karyawan yang serta merta berdiri menyambut kedatangan William, lantas membungkuk sejenak menyapa salah satu bos besar tersebut.

Yang disapa hanya nyengir lebar. Kemudian berjalan lurus pada tujuannya tanpa memandang sekitar, memberi petunjuk bahwa ia memang datang untuk bertemu wanitanya.

Dan karena terlalu kentara, Haya bingung harus bereaksi seperti apa, alih-alih kemudian mengangkat piringnya dan menawarkan, "Nyambel, Pak? Enak!"

Berdasarkan senyum karirnya yang kaku, William seharusnya membaca pesan minta tolong Haya, untuk kemudian menjawab secara kasual saja, lalu duduk dan makan dengan tenang.

Skenario terbaiknya sih begitu.

Tetapi terinspirasi dari lagu Taylor Swift "I knew you were trouble when you walked in" yang terputar tidak sengaja beberapa kali sepanjang perjalanan; sifatnya yang keras kepala; dan motivasi dibalik ia jauh-jauh datang ke Solo, William merasa ia perlu membuat gebrakan maha dahsyat. Sehingga ketika ia lihat ada bekas sambel kecap dengan ukuran mikroskopik di ujung bibir Haya, jempolnya datang mengusap, lalu menyesap sisanya di mulut dengan gerakan sensual yang dibuat-buat.

Teman KondanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang