Hari demi hari berlalu, dan perlakuan keluarga Salvatici terhadap Arlo hanya semakin buruk. Bukan hanya cacian dan tamparan, tapi juga tugas-tugas berat yang terus-menerus diberikan kepadanya. Arlo seperti terjebak dalam siklus penderitaan tanpa akhir.
---
"Pekerja Tanpa Upah"
Pagi itu, Arlo baru selesai membersihkan halaman depan mansion. Keringat mengalir deras di wajahnya yang pucat. Tangannya yang kecil sudah mulai lecet karena harus mengangkat pot-pot besar. Namun, ia tahu pekerjaannya belum selesai.
“Arlo! Cepat bawa ini ke dapur!” suara keras Dante memanggilnya dari ruang makan.
Arlo buru-buru berlari, mengambil tumpukan piring kotor yang diletakkan Dante di meja. Piring-piring itu berat, dan tangan Arlo yang kecil hampir tidak mampu menahannya. Tapi ia tetap berjalan, mencoba menjaga keseimbangan.
Sialnya, di tengah jalan, salah satu piring terjatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.
"Clatter!"
“Dasar Anak Sialan !” seru Dante yang langsung mendekat. Ia menjambak rambut Arlo dan mendorongnya ke lantai.
"Bugg!"
“Lio... maaf, Bang,” kata Arlo dengan suara gemetar.
“Lo itu cuma tahu bilang maaf! Lo pikir itu cukup?” Dante mengangkat tangannya, hendak menampar Arlo lagi.
Namun sebelum tangannya melayang, Rico muncul dan menahan pergelangan Dante.
“Sudahlah, dia memang cuma anak bodoh . Jangan buang waktu,” kata Rico dengan nada dingin sebelum berjalan pergi.Dante melepaskan Arlo dengan kasar. “Bersihkan semua ini, atau Gw akan pastikan Lo nggak makan malam ini!”
---
"Malam yang Sunyi"
Malam itu, Arlo duduk di pojok kamarnya yang gelap. Tubuhnya gemetar, dan bekas tamparan di pipinya masih terasa perih. Ia memeluk lututnya sambil menangis pelan.
Hiks hiks!"
Di atas meja kecil di sudut kamar, ada sepotong roti basi yang menjadi satu-satunya makanan untuknya hari itu. Dengan perasaan sedih, ia menggigit roti itu perlahan.
“Apa salah Lio lahil ke dunia ini?” gumamnya dengan suara parau.
Boneka tua yang selalu menemaninya dipegang erat di tangannya. Boneka itu adalah satu-satunya barang peninggalan Mamanya, Elena. Meski sudah lusuh dan robek, bagi Arlo, boneka itu adalah pengingat akan cinta yang pernah ia rasakan.
“Lio ingin pelgi dali sini,” bisiknya pelan. “Tapi ke mana?”
---
"Kesalahpahaman yang Menyakitkan"
Keesokan harinya, Arlo sedang mencuci mobil ayahnya di halaman belakang. Ia melakukannya dengan hati-hati, takut membuat kesalahan lagi. Tapi takdir seolah selalu melawan dirinya.
Ketika ia selesai mencuci, ia menyadari bahwa ada goresan kecil di pintu mobil. Arlo tidak tahu dari mana goresan itu berasal, tapi ia tahu konsekuensinya akan berat.
Seperti yang ia duga, Luciano langsung marah besar ketika melihat goresan itu.
“Arlo! Apa yang Kamu lakukan? Kamu tahu berapa harga mobil ini?!” bentaknya sambil menarik kerah baju Arlo.
“Lio... Lio nggak tahu, Papa. Lio nggak sengaja,” jawab Arlo dengan suara bergetar.
“Alasan aja terus sialan ! Selalu alasan! Kamu memang cuma bawa sial sejak kamu lahir!
"Plakk!"
Luciano menampar Arlo dengan keras, membuat tubuh kecilnya terjatuh ke tanah. Air mata mengalir di wajah Arlo, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menunduk, menerima semua amarah Papanya.
“Kalau kamu nggak bisa melakukan pekerjaan dengan benar, jangan harap bisa tinggal di sini!” ujar Luciano sebelum pergi meninggalkan Arlo yang terisak di lantai.
Hiks hiks hiks
---
"Rasa Hampa yang Mencekam"
Hari itu, Arlo duduk di bawah pohon besar di halaman belakang mansion. Ia memandang langit yang mulai gelap dengan tatapan kosong.
“Kalau Lio pelgi, apakah meleka akan peduli? Atau meleka malah senang Lio tidak ada?” pikirnya.
Angin malam yang dingin menyapu wajahnya yang penuh luka. Dalam hati, ia merasa bahwa hidup di mansion ini bukanlah hidup. Ini adalah penjara. Dan perlahan, ia mulai membayangkan seperti apa rasanya kebebasan di luar sana.
Namun, di tengah segala penderitaannya, ada rasa takut yang menghantuinya.
“Bagaimana kalau Lio tidak punya tempat tujuan? Apa Lio bisa beltahan sendilian?”Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengisi pikirannya, membuat malam-malamnya semakin berat.
---
Arlo mulai merasa bahwa tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di mansion ini. Luka di tubuhnya mungkin sembuh, tapi luka di hatinya semakin dalam dan sulit terobati.
Ia masih kecil, tapi penderitaan yang ia alami membuatnya berpikir jauh lebih dewasa dari usianya. Dan kini, ia mulai menyusun rencana untuk meninggalkan tempat yang ia sebut rumah.
“Mungkin di lual sana, Lio bisa menemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku.”

KAMU SEDANG MEMBACA
"ARLO SALVATICI" End
ActionArlo Salvatici, anak bungsu keluarga mafia ternama, lahir di tengah tragedi yang merenggut nyawa mamanya. Namun, kehadirannya justru dianggap sebagai kutukan. Dibenci oleh papa dan Abang-abangnya, Arlo tumbuh dalam cemoohan, tamparan, dan perlakuan...