Bab 27: Titik Balik

30 3 0
                                    

Pertarungan masih berlangsung dengan sengit. Seluruh mansion Salvatici telah dipenuhi dengan suara tembakan dan ledakan kecil dari granat yang meledak di luar. Arlo merasa jantungnya hampir berhenti setiap kali suara tembakan menggelegar. Elias tetap berada di sisi Arlo, melindunginya dari setiap ancaman yang mendekat.

“Ayo, Lio, kita harus pergi!” teriak Elias, menarik Arlo menuju pintu belakang.

Namun, Arlo berhenti sejenak. Matanya menatap ke luar jendela, menyaksikan keluarga Moretti bergerak lebih dekat, semakin yakin untuk meraih tujuannya.

“Kita harus beltahan,” kata Arlo, matanya penuh tekad. “Lio tidak akan lali lagi. Ini saatnya untuk melawan.”

Elias menatapnya dengan cemas, tetapi tahu bahwa tidak ada yang bisa menghalangi tekad Arlo kali ini. “Baiklah,” katanya, menyerah pada keinginan Arlo. “Tapi kita harus hati-hati. Jangan sampai kau tertangkap.”

Arlo mengangguk, dan mereka berdua bergerak menuju ruangan bawah tanah yang lebih aman. Dalam perjalanan mereka, mereka sempat bertemu dengan Dante, yang sedang memimpin pasukan mereka melawan musuh.

“Arlo! Kau di sini!” teriak Dante dengan suara keras, jelas terkejut melihat Arlo yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya.

“Lio tidak akan lali, Bang,” kata Arlo dengan tegas. “Lio akan melawan meleka.”

Dante memandang Arlo sejenak, lalu akhirnya mengangguk dengan bangga. “Abang mengerti, Lio. Kau lebih kuat dari yang ku kira. Tetapi berhati-hatilah. Kami akan menjaga garis pertahanan. Abang akan mengirim pasukan ke arah utara, kita butuh bantuan.”

“Baik,” jawab Arlo, sambil berjalan menuju ruang yang lebih aman.

Di luar, pertempuran semakin memanas. Pasukan Salvatici yang dipimpin oleh Dante dan Marco menghadapi serangan brutal dari keluarga Moretti. Ledakan granat terdengar semakin dekat, dan tebing yang berada di sisi utara mansion mulai ambruk karena guncangan.

Luciano, yang berada di garis depan, masih tidak kehilangan kewaspadaannya. Wajahnya penuh dengan tekad, tetapi ada kelelahan di matanya. Ia tahu bahwa semuanya bergantung pada seberapa lama mereka bisa bertahan, dan apakah mereka bisa menembus pertahanan musuh.

“Kita harus menghentikan mereka!” teriak Luciano, memberikan komando. “Tidak ada yang boleh mundur. Ini adalah titik balik untuk keluarga ini!”

Namun, di saat yang bersamaan, Arlo merasa ketegangan semakin meningkat. Di luar ruangan bawah tanah, ia bisa mendengar langkah kaki yang mendekat. Mereka sudah semakin dekat.

“Bang Llias, meleka datang!” Arlo berbisik dengan panik.

Elias segera menarik Arlo lebih dalam ke dalam ruang tersembunyi di bawah tanah mansion. Di sana, mereka bertemu dengan Marco dan Rico yang sedang mempersiapkan serangan balik.

“Arlo, kau di sini?” tanya Marco, terkejut.

“Jangan khawatil, Bang. Lio baik-baik saja,” jawab Arlo, berusaha tenang meski dalam ketegangan yang semakin besar.

Saat mereka berusaha menyusun rencana untuk menghadapi musuh yang semakin dekat, sebuah suara keras terdengar di luar ruangan. Suara tembakan yang semakin dekat menandakan bahwa keluarga Moretti tidak akan berhenti.

“Kami harus keluar dari sini!” teriak Elias, menatap Arlo. “Keluarga Moretti tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.”

Arlo merasa terhimpit antara keinginan untuk melawan dan rasa takut yang semakin menguasainya. Namun, ia tahu satu hal pasti: Keluarga Moretti harus dihentikan. Mereka telah mengancam keluarganya terlalu lama.

Akhirnya, Arlo berdiri tegak. “Lio akan melawan meleka, apapun yang teljadi. Meleka tidak akan menang.”

Dante dan Marco memimpin pasukan mereka menuju titik terpenting di luar mansion. Sementara itu, Luciano berusaha melawan musuh di garis depan. Pasukan Salvatici kini dalam keadaan kritis. Jika mereka tidak bisa menghentikan serangan keluarga Moretti, semuanya akan berakhir.

Arlo berlari keluar dari tempat persembunyiannya bersama Elias, menuju ke barisan depan. Mereka berdua, bersama Marco dan Rico, bersiap untuk menghadapi keluarga Moretti dalam pertarungan yang lebih besar.

Di luar, keluarga Moretti sudah bersiap dengan kekuatan penuh. Vittorio Moretti, yang memimpin pasukan, tampak yakin bahwa kemenangan sudah di depan mata.

“Keluarga Salvatici, waktu kalian sudah habis,” kata Vittorio dengan suara rendah namun penuh amarah. “Kami akan mengakhiri segalanya sekarang.”

Arlo berdiri di tengah medan perang, tatapannya penuh tekad. Ia tahu bahwa ini adalah ujian terbesar dalam hidupnya, dan ia harus melindungi keluarganya dengan apapun yang ia punya.

Dengan keberanian yang baru ditemukan, Arlo bersiap untuk menghadapi musuh yang sudah lama menjadi bayang-bayang di dalam hidupnya. Pertarungan ini akan menentukan masa depan mereka semua.

"ARLO  SALVATICI" End Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang