Malam itu, angin bertiup kencang di luar, membawa suara gemerisik daun-daun yang berjatuhan. Di sebuah rumah tua di pinggir kota, Arlo duduk di samping Elias, berdua menikmati suasana tenang yang hanya mereka berdua yang tahu. Suasana itu kontras dengan keramaian yang sebelumnya ia rasakan di mansion keluarga Salvatici—keramaian yang menyakitkan.
Elias baru saja menyalakan api unggun kecil di halaman belakang rumahnya. Arlo menatap api itu dengan tatapan kosong, seolah berusaha menenangkan pikirannya. Namun, di dalam hatinya, ada kekosongan yang tak bisa ia hilangkan, meskipun Elias berusaha mengisi ruang itu dengan perhatian dan kasih sayang.
"Kenapa Lio nggak bilang ke mereka?" Elias bertanya, suaranya lembut tapi penuh perhatian. "Keluargamu pasti khawatir."
Arlo menunduk. "Meleka nggak peduli," jawabnya, suaranya serak. "Lio cuma beban buat meleka. Meleka nggak pelnah peduli sama Lio. Lio nggak mau kembali ke sana."
Elias menghela napas, duduk di samping Arlo. "Tapi kadang, kita butuh keluarga, Lio. Itu nggak selalu tentang mereka yang sempurna, tapi tentang kesempatan kedua."
Arlo menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang datang begitu saja. "Lio nggak tahu,bang lias. Lio sudah terluka terlalu dalam."
Mereka terdiam sejenak, hanya ada suara api yang mendesis kecil. Arlo menatap nyala api yang seolah mencerminkan kehidupannya—sekejap terang, namun seringkali terbakar oleh api kemarahan dan penolakan.
Namun, kebahagiaan mereka yang sederhana itu tidak berlangsung lama.
---
"Pencarian yang Terus Berlanjut"
Di sisi lain kota, di ruang yang jauh lebih besar, keluarga Salvatici tak berhenti mencari Arlo. Luciano, Dante, Marco, dan Rico bersatu untuk menemukan putra bungsu Dan adek mereka yang telah hilang.
Dante mendekati Papanya, menggenggam tangannya erat. "Kita harus menemukan dia, pah. Kita harus."
Luciano menatap Dante dengan tatapan penuh penyesalan. "papa tahu. Tapi papa juga tahu, semakin kita mencari, semakin dia menjauh."
"Kenapa? Kenapa dia nggak mau kembali?" Tanya Marco, mengingatkan bahwa meskipun mereka bisa mencari Arlo, tidak ada jaminan anak itu akan mau kembali.
"Papa telah salah," kata Luciano pelan, suaranya serak karena beban yang ia rasakan. "Papa terlalu keras padanya. Papa… papa menganggapnya remeh, mengabaikannya. Papa terlalu lama menunggu, terlalu lama membiarkannya merasa tidak diinginkan."
Marco menyentuh bahu papanya. "Tapi sekarang kita bisa berubah, pah. Kalau kita berhasil menemukan dia, kita bisa menunjukkan bahwa kita berubah. Bahwa kita menyesal."
Dante mengangguk, meskipun ia tahu bahwa hal itu tidak akan mudah. "Arlo nggak akan langsung percaya pada kita. Kita harus buktikan."
---
"Malam yang Menghantui'
Kembali ke rumah Elias, Arlo merasa ada yang aneh. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal, seperti perasaan bahwa sesuatu buruk sedang mendekat.
Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar, dan bayang-bayang kendaraan besar muncul di ujung jalan. Arlo menegang, dan Elias yang melihat reaksi itu langsung berdiri, menatap ke luar.
"Itu… meleka," bisik Arlo dengan gemetar. "Kelualgaku…"
Elias merasakan perubahan dalam sikap Arlo, dan meskipun ia tahu bahwa pertemuan itu tidak akan mudah, ia mencoba untuk menenangkan Arlo. "Tenang, Lio. Abang di sini. Kita akan hadapi bersama."
Namun, sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, pintu rumah terbuka, dan sejumlah orang yang mengenakan pakaian gelap masuk, memperkenalkan diri sebagai bodyguard keluarga Salvatici. Mereka langsung mendekati Arlo.
"Arlo Salvatici, kamu harus kembali ke rumah," kata salah satu bodyguard dengan tegas, menunjukkan wajah keras yang penuh perintah.
Arlo berdiri, matanya penuh tekad dan ketakutan. "Lio nggak akan kembali!" teriaknya, suaranya bergetar. "Lio nggak mau pulang ke sana! Kalian nggak bisa memaksa Lio!"
Elias segera bergerak, melindungi Arlo dengan tubuhnya. "Jika kalian ingin Arlo kembali, kalian harus melewati aku."
Situasi langsung memanas. Bodyguard-guard itu merasa terancam, tapi Elias tidak mundur sedikit pun. "Kalian nggak akan membawa Arlo pergi dengan paksa," ancamnya, suaranya serius.
Perkelahian pun tak terhindarkan. Arlo merasakan ketegangan itu, hatinya berdebar-debar, namun ia merasa sedikit lebih aman dengan Elias di sisinya. Meski demikian, perasaan takut tetap menguasai dirinya. Keputusannya untuk kabur dari keluarga mereka kini terasa semakin rumit.
---
"Keluarga yang Datang Terlambat_
Tak lama kemudian, Luciano, Dante, Marco, dan Rico tiba di lokasi, terlihat jelas betapa cemasnya mereka melihat situasi yang ada.
Luciano memanggil nama Arlo dengan suara serak. "Lio! Kamu… kamu harus pulang! Kami semua menyesal!"
Arlo menatap papanya, wajahnya penuh kebingungan dan amarah. "Kenapa sekalang, pah? Kenapa kalian balu datang? Kenapa balu sekalang kalian peduli?"
Dante melangkah maju, matanya penuh penyesalan. "Kami salah, Lio. Kami selalu salah. Tapi… kamu nggak boleh terus seperti ini. Kami… kami ingin memperbaiki semuanya."
Elias mengangkat tangan, menahan Arlo agar tidak terlalu emosi. "Jangan dengarkan mereka, Lio. Mereka nggak tahu apa yang sudah mereka lakukan."
Luciano memandang Arlo dengan mata yang penuh penyesalan. "Kami nggak tahu apa yang harus kami lakukan tanpa kamu. Kami… kami takut kehilanganmu."
Namun, Arlo tetap berdiri tegak, tidak bisa langsung menerima permintaan maaf mereka. "Kalian tellambat," jawabnya pelan, "Lio sudah terlalu terluka dan Lio ngak mau balik lagi sama kalian."
Keadaan semakin tegang, dan meskipun Arlo ingin tetap melawan, ia tahu bahwa pilihan yang ada di hadapannya sangat sulit.
---

KAMU SEDANG MEMBACA
"ARLO SALVATICI" End
AksiArlo Salvatici, anak bungsu keluarga mafia ternama, lahir di tengah tragedi yang merenggut nyawa mamanya. Namun, kehadirannya justru dianggap sebagai kutukan. Dibenci oleh papa dan Abang-abangnya, Arlo tumbuh dalam cemoohan, tamparan, dan perlakuan...