Bab 25: Perang Dimulai

32 2 0
                                    

Fajar menyingsing di atas mansion Salvatici. Aura ketegangan menyelimuti semua penghuni rumah besar itu. Luciano berdiri di balkon ruang kerja, memandang halaman yang dipenuhi anak buahnya yang bersiap-siap. Rencana mereka telah matang, dan hari ini adalah hari di mana semuanya akan ditentukan.

Di ruang makan, Arlo duduk bersama abang-abangnya, ditemani oleh Elias. Sarapan mereka lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada obrolan santai atau lelucon khas Rico. Semua mata tertuju pada Arlo, yang menjadi pusat rencana besar ini.

Dante akhirnya memecah keheningan. “Lio, dengar baik-baik. Jika situasinya memburuk, kau harus kabur secepat mungkin. Kami tidak akan mengambil risiko kehilanganmu.”

Arlo menatap kakaknya dengan sorot mata penuh tekad. “Lio tidak akan lali. Kalau kalian melawan, Lio juga akan melawan. Lio bukan anak kecil lagi, Bang.”

Rico, meskipun biasanya ceria, kali ini menunjukkan sisi seriusnya. “Tapi kau tetap adik kami, Lio. Kalau terjadi apa-apa padamu, aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan diriku sendiri.”

Marco menepuk punggung Arlo. “Kita sudah sepakat untuk melindungimu dengan segala cara. Jangan buat kami khawatir, oke?”

Arlo hanya mengangguk. Ia tahu mereka semua peduli, tapi kali ini, ia ingin membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar anak bungsu yang selalu dilindungi.

---

Di markas keluarga Moretti

Vittorio Moretti berdiri di tengah ruang pertemuan, dikelilingi oleh orang-orang kepercayaannya. Ia memandangi peta wilayah keluarga Salvatici dengan senyum penuh keyakinan.

“Hari ini kita akan mengakhiri mereka,” ujar Vittorio dengan suara lantang. “Luciano mungkin berpikir dia pintar dengan rencananya. Tapi aku tahu kelemahan mereka. Arlo adalah kunci kehancuran mereka.”

Salah satu anak buahnya bertanya, “Apa yang harus kami lakukan jika Arlo berada dalam jangkauan kami, Tuan?”

Vittorio menyeringai dingin. “Tangkap dia. Hidup-hidup. Dia akan menjadi kartu as kita.”

---

Kembali ke mansion Salvatici

Arlo berdiri di ruang tamu bersama ayah dan abang-abangnya. Luciano memberikan briefing terakhir kepada semua orang.

“Rencana ini sederhana,” kata Luciano dengan nada tegas. “Kita akan memancing mereka keluar. Dante, Marco, dan Rico akan mengarahkan anak buah kita ke titik utama. Elias akan menjaga Arlo di lokasi yang telah kita siapkan. Jangan ada yang bergerak tanpa perintahku.”

Arlo memotong, “papa, Lio ingin ikut. Jangan bialkan Lio hanya belsembunyi. Lio bisa membantu.”

Luciano menatapnya tajam. “Arlo, tugasmu adalah bertahan hidup. Itu sudah lebih dari cukup.”

Meskipun kecewa, Arlo tidak membalas. Ia tahu bahwa papanya sedang mencoba melindunginya.

---

Pertempuran Dimulai

Di pinggiran kota, baku tembak antara anak buah Salvatici dan Moretti berlangsung sengit. Dante memimpin pasukan dengan keberanian luar biasa, sementara Marco dan Rico mengamankan jalur belakang untuk mencegah penyergapan.

Elias membawa Arlo ke lokasi persembunyian yang telah disiapkan: sebuah rumah kecil di tepi hutan. “Kau aman di sini, Lio,” kata Elias, memasang penghalang di jendela.

Namun, Arlo merasa gelisah. Ia tahu keluarganya sedang bertarung mati-matian, dan ia hanya bisa duduk diam. Ia meraih liontin ibunya, menggenggamnya erat. “mama, kalau mama di sini, apa yang halus Lio lakukan?” bisiknya pelan.

Tidak lama kemudian, suara tembakan terdengar semakin dekat. Elias segera memeriksa jendela, wajahnya berubah serius. “Mereka tahu kita di sini,” katanya dengan nada panik.

Arlo menatap Elias dengan penuh ketakutan. “Apa yang halus kita lakukan, Bang?”

“Berlindung,” jawab Elias singkat, mengambil pistol dari sakunya.

---

Pertemuan Keluarga

Di lokasi utama pertempuran, Luciano akhirnya bertemu langsung dengan Vittorio Moretti. Kedua pemimpin keluarga itu saling menatap dengan kebencian yang mendalam.

“Luciano,” ujar Vittorio, senyum sinis di wajahnya. “Kau sudah tua. Kenapa tidak menyerah saja? Aku bisa mengakhiri ini dengan cepat.”

Luciano menyeringai. “Aku lebih tua, tapi aku masih cukup kuat untuk menjatuhkanmu, Vittorio. Kau pikir dengan menyerang anakku, kau bisa menghancurkanku?”

Vittorio tertawa kecil. “Anakmu? Kau bahkan tidak pernah menyayangi anak itu. Jangan berpura-pura peduli sekarang.”

Luciano mengepalkan tinjunya. “Arlo adalah putraku, dan aku akan melindunginya, apa pun yang terjadi.”

Pertempuran antara keduanya menjadi simbol dari konflik yang lebih besar. Sementara itu, di tempat persembunyian Arlo, ancaman semakin mendekat.

---

Cliffhanger

Arlo, yang selama ini hanya menjadi penonton dalam konflik keluarganya, akhirnya mengambil keputusan besar. Ia meraih pistol yang disembunyikan Elias, menatap senjata itu dengan tangan gemetar.

“Lio, apa yang kau lakukan?” tanya Elias, panik.

“Lio tidak akan hanya duduk diam,” jawab Arlo dengan tegas. “Kalau meleka ingin Lio, bialkan meleka tahu Lio tidak akan menyelah tanpa pellawanan.”

Suara langkah kaki mendekat, semakin jelas. Pintu persembunyian mereka mulai digedor. Elias menyiapkan senjatanya, sementara Arlo berdiri di sampingnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.

“Apa pun yang teljadi, kita halus bektahan,” kata Arlo,suaranya penuh keyakinan.

Pintu akhirnya terbuka dengan keras, dan bayangan musuh muncul di depan mereka.

"ARLO  SALVATICI" End Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang