Pagi itu dimulai dengan tawa riang Lio yang memenuhi rumah keluarga Salvatici. Seperti biasa, Lio bangun lebih awal, meskipun sedikit terlelap kembali di pelukan abang-abangnya. Di ruang makan, meja sudah penuh dengan sarapan yang disiapkan dengan penuh kasih sayang. Dante, Marco, Rico, dan Elias sudah duduk menunggu Lio, yang baru saja keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih mengantuk namun senyumannya yang lebar.
"Bang, aku mau makan sama abang!" seru Lio, melompat ke kursi di antara Dante dan Elias.
"Udah siap makan nih, Lio?" tanya Marco dengan senyum lebar, sambil menuangkan susu ke dalam gelas besar untuk adiknya.
"Ya, Bang! Aku lapar banget!" jawab Lio sambil menggoyang-goyangkan kakinya dengan semangat.
Pagi itu, Lio duduk di tengah-tengah meja makan, dikelilingi oleh abang-abangnya. Mereka semua terlihat santai dan penuh perhatian, bahkan Papa Luciano yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, ikut duduk bersama mereka. Semua percakapan terasa ringan dan penuh canda tawa. Sesekali Lio bersendawa atau membuat suara lucu, dan semuanya akan tertawa tanpa henti.
"Lio, makan yang banyak ya. Nanti kalau sudah makan, kita jalan-jalan ke taman," kata Rico, dengan suara penuh kasih, sambil menyuapi Lio dengan sendok besar.
Lio, meskipun kadang agak manja, sangat menikmati perhatian yang diberikan abang-abangnya. Ia tahu, meskipun kadang bersikap kekanak-kanakan, keluarga mereka akan selalu memanjakannya tanpa ragu. Hal itu membuatnya merasa nyaman dan dicintai tanpa syarat.
---
Momen Kejutan Kecil
Setelah sarapan selesai, Papa Luciano berdiri dan memberi isyarat kepada semua anaknya. "Hari ini kita ke taman, tapi sebelum itu, ada satu kejutan kecil untuk Lio," kata Papa dengan senyum misterius. Semua abang-abangnya saling melirik, penasaran.
"Apa itu, Papa?" tanya Lio, yang tak sabar ingin tahu.
Papa Luciano lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan memberikannya kepada Lio. "Ini hadiah dari kami, buat kamu. Buka ya."
Lio membuka kotak tersebut dengan hati-hati, dan di dalamnya ada sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Wajah Lio langsung bersinar, merasa sangat dihargai dan tersentuh.
"Wah, ini untuk Lio? Makasih, Papa, Bang!" teriak Lio, memeluk kalung itu erat-erat. "Aku suka banget!"
Semua abang-abangnya tersenyum melihat Lio yang begitu bahagia. Lio kemudian berdiri dan berjalan menuju Papa, lalu memeluknya dengan erat. "Terima kasih, Papa! Aku sayang Papa!"
Papa Luciano mengusap rambut Lio dengan penuh kasih. "Kami semua sayang kamu, Lio. Jangan pernah lupakan itu."
---
Perjalanan ke Taman
Setelah kejutan kecil itu, keluarga Salvatici pun bersiap untuk pergi ke taman. Lio tidak sabar untuk bermain bersama abang-abangnya, dan dia merasa beruntung memiliki keluarga yang selalu ada untuknya. Di mobil, Lio duduk di pangkuan Elias, sementara Dante dan Marco duduk di kursi depan bersama Papa. Rico juga berada di dekat Lio, memastikan bahwa adiknya merasa nyaman selama perjalanan.
"Mau main apa di taman, Lio?" tanya Marco dengan senyum lebar.
"Main ayunan! Aku mau minta gendong!" jawab Lio dengan penuh semangat.
"Serius, Lio? Mau digendong lagi?" tanya Rico sambil tertawa. "Kamu ini emang manja banget ya."
"Ya, Bang! Aku mau digendong sama abang!" Lio balas menggoda dengan suara manja.
Sambil tertawa, keluarga Salvatici melanjutkan perjalanan mereka. Momen seperti ini, di mana mereka bisa bersama-sama tanpa gangguan, adalah kebahagiaan yang mereka syukuri setiap harinya.
---
Kebahagiaan Sederhana
Setibanya di taman, Lio langsung berlari menuju ayunan. Abang-abangnya, meskipun sibuk dengan aktivitas masing-masing, tetap memperhatikan Lio yang sedang menikmati waktu bermainnya. Elias tidak ketinggalan, dia ikut mendekat dan mulai mendorong ayunan dengan hati-hati.
"Yah, Bang! Gedein ayunannya, dong!" Lio teriak dengan suara ceria, meminta Elias untuk mendorong lebih kuat.
Elias tersenyum, lalu mendorong ayunan Lio lebih kencang lagi. "Hati-hati, Lio, nanti jatuh!"
"Tapi kan, aku pengen terbang!" Lio berteriak sambil tertawa kegirangan.
Di sisi lain, Dante, Marco, dan Rico duduk di bangku taman sambil melihat Lio yang terus bermain. Mereka sesekali mengobrol, tapi perhatian mereka selalu tertuju pada adik bungsu mereka yang sedang bahagia.
"Dia itu, memang nggak pernah bisa jauh dari kita," kata Marco sambil tersenyum.
"Iya, emang manja banget sih," tambah Rico, "tapi dia tetap adik kita yang paling kita sayang."
"Makanya, kita jangan pernah berhenti menjaga dia," jawab Dante dengan penuh perhatian.
---
Waktu yang Tak Terlupakan
Sore hari pun tiba, dan mereka semua kembali ke rumah. Lio, yang kelelahan setelah seharian bermain, akhirnya tertidur di mobil, dipeluk oleh Elias. Sesampainya di rumah, keluarga Salvatici kembali berkumpul di ruang keluarga, menikmati kebersamaan yang penuh cinta.
Lio yang terbangun dari tidurnya langsung mencari perhatian dari abang-abangnya. "Bang, aku mau tidur bareng lagi," kata Lio dengan suara manja.
"Yaudah, Lio. Tidur bareng abang," jawab Dante sambil memeluk Lio, yang langsung melompat ke tempat tidur.
"Jangan lupa, ya. Besok kita jalan-jalan lagi, pokoknya harus lebih seru dari hari ini!" ujar Rico, yang tak mau ketinggalan merencanakan keseruan berikutnya.
Lio tertidur dalam pelukan abang-abangnya, dengan senyum di wajahnya. Tidak ada yang lebih dia inginkan selain berada di tengah-tengah keluarga yang selalu siap memberinya perhatian, kasih sayang, dan perlindungan tanpa syarat. Momen kebersamaan ini adalah anugerah yang tidak akan pernah ia lupakan.
---

KAMU SEDANG MEMBACA
"ARLO SALVATICI" End
ActionArlo Salvatici, anak bungsu keluarga mafia ternama, lahir di tengah tragedi yang merenggut nyawa mamanya. Namun, kehadirannya justru dianggap sebagai kutukan. Dibenci oleh papa dan Abang-abangnya, Arlo tumbuh dalam cemoohan, tamparan, dan perlakuan...