Hari-hari berlalu sejak Arlo memutuskan untuk memberikan keluarganya kesempatan kedua. Meskipun ia masih merasa canggung, ada kemajuan kecil yang mulai terlihat. Keluarganya, terutama Luciano, Dante, Marco, dan Rico, berusaha keras untuk membuktikan bahwa mereka tulus ingin memperbaiki hubungan.
Di ruang makan pagi itu, suasana terasa berbeda. Biasanya, hanya keheningan yang menemani mereka. Namun, kali ini ada usaha untuk berbicara. Marco membuka percakapan dengan suara yang ragu, tetapi penuh dengan niat baik.
"Lio, bagaimana tidurmu semalam?" tanyanya, sedikit kaku, tetapi tatapannya lembut.
Arlo yang sedang mengoleskan mentega di rotinya, melirik Marco sejenak sebelum menjawab pelan, "Cukup baik."
Dante, yang duduk di sebelah Marco, menambahkan, "Kalau ada yang kamu butuhkan, jangan ragu bilang sama Abang , ya."
Arlo mengangguk kecil. Ia masih belum sepenuhnya nyaman dengan perhatian seperti ini, tetapi ia bisa merasakan usaha mereka.
Luciano, yang biasanya diam selama makan, akhirnya membuka suara. "Lio, papa memikirkan sesuatu. Apa Lio ingin mulai belajar sesuatu yang baru? Apa pun yang Lio mau. Papa bisa mengaturnya."
Arlo menatap papanya dengan sedikit terkejut. Tawaran itu terasa nyata, berbeda dengan omongan yang ngak pernah ia dengar dulu. "Lio belum tahu," jawabnya jujur. "Tapi... Lio akan memikilkannya."
Elias, yang baru masuk ke ruang makan, membawa tumpukan buku di tangannya. "Lio, kalau kau mau, Abang bisa membantumu mencari sesuatu yang menarik," katanya sambil tersenyum.
Luciano menoleh pada Elias, wajahnya sedikit tegang. Meskipun ia tahu Elias sangat berarti bagi Arlo, sulit baginya untuk sepenuhnya menerima kehadiran Elias di rumah mereka. Namun, Luciano juga tahu kalau Elias adalah anak dari teman nya tanpa memberi tahun Lio dan dia harus menahan diri. Ini adalah proses untuk Arlo, dan ia harus belajar menempatkan kebahagiaan putranya di atas egonya.
Setelah sarapan, Arlo berjalan keluar menuju taman belakang. Tempat itu menjadi salah satu tempat favoritnya untuk menenangkan diri. Di sana, ia bisa mendengar suara burung berkicau dan angin yang bertiup lembut. Namun, kali ini langkahnya terhenti ketika ia melihat Dante berdiri di sana, menunggunya.
"Bang Dante?" Arlo bertanya, sedikit bingung.
Dante berbalik dan memberikan senyum kecil. "Abang hanya ingin bicara sebentar, kalau Lio tidak keberatan."
Arlo mengangguk. "Apa yang ingin Abang bicalakan?"
Dante menghela napas, wajahnya penuh dengan rasa bersalah. "Lio, Abang tahu selama ini Abang menjadi abang yang sangat buruk untukmu. Abang terlalu sibuk dengan Amarah dan kebencianku sendiri, dan aku tidak pernah benar-benar melihat apa yang kau rasakan. Aku menyesal."
Arlo terdiam sejenak sebelum menjawab, "Lio... tidak tahu apakah Lio bisa melupakan semuanya, Dan. Tapi Lio akan mencoba."
Dante tersenyum tipis, matanya tampak berkilau. "Itu sudah lebih dari cukup untuk Abang . Terima kasih, Lio."
Mereka berdua berdiri di sana, membiarkan keheningan mengisi udara di antara mereka. Namun, bagi Arlo, keheningan itu tidak lagi terasa menekan.
Sore harinya, Elias mengajak Arlo untuk berjalan-jalan ke kota. "Lio, kau butuh udara segar," katanya dengan nada riang.
Di kota, Arlo merasa lebih bebas. Bersama Elias, ia bisa melupakan sejenak semua masalah yang ada di rumah. Mereka berhenti di sebuah kedai es krim kecil, tempat Elias dengan semangat memesan dua porsi besar eskrim.
"Kau harus coba ini, Lio. Ini favorit Abang!" Elias berkata sambil menyodorkan satu mangkuk ke arah Arlo.
Arlo mengambil es krim itu dan mencicipinya. "Manis sekali," gumamnya, tetapi ada senyum kecil di wajahnya.
Elias tertawa. "Manis itu yang terbaik. Sama seperti hidup, Lio. Kalau Lio cari sisi manisnya, semuanya terasa lebih baik."
Perkataan itu membuat Arlo merenung. Mungkin benar, hidup memiliki sisi manis yang bisa ia temukan, jika ia mau mencarinya.
Malam itu, saat Arlo kembali ke kamarnya, ia merasa sedikit lebih lega. Meski masih banyak hal yang harus ia hadapi, ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Dan untuk pertama kalinya, ia mulai melihat harapan di depan sana.
---

KAMU SEDANG MEMBACA
"ARLO SALVATICI" End
ActionArlo Salvatici, anak bungsu keluarga mafia ternama, lahir di tengah tragedi yang merenggut nyawa mamanya. Namun, kehadirannya justru dianggap sebagai kutukan. Dibenci oleh papa dan Abang-abangnya, Arlo tumbuh dalam cemoohan, tamparan, dan perlakuan...