Asap tebal memenuhi lorong depan mansion keluarga Salvatici. Di balik pintu besar yang hampir jebol, keluarga Moretti terus menyerang dengan gempuran peluru dan granat kecil, mencoba memaksa masuk. Dante berdiri di tengah kekacauan itu, wajahnya penuh determinasi.
"Kita harus bertahan di sini sampai papa kembali!" teriaknya kepada para pengawal yang tersisa.
"Jangan biarkan mereka menembus pertahanan!"
Arlo, yang berdiri tidak jauh dari kakaknya, merasakan ketakutan bercampur dengan keberanian.
Meski masih muda, ia tahu saat ini adalah waktu untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar anak bungsu yang lemah.
"Lio akan membantu, abang," katanya, suaranya penuh keyakinan.
Dante menoleh, sedikit terkejut. "Ini bukan tempat untukmu, Arlo. Kau harus tetap di belakang!"
"Tidak ada yang akan menghanculkan kita, bang. Lio tidak akan lali," balas Arlo sambil menggenggam senjata kecil yang baru saja ia ambil dari salah satu pengawal yang gugur.
Dante terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baik. Tapi tetaplah bersamaku."
Mereka berdua bergabung dengan Marco dan Rico, yang tengah berjuang mempertahankan barikade utama. Marco, meski terluka di bahu, tetap memimpin dengan ketegasan.
Rico, di sisi lain, menembakkan peluru dengan presisi, membabat musuh satu per satu.
"Kami bisa bertahan," kata Marco, terengah-engah. "Tapi mereka punya lebih banyak orang. Kita butuh rencana."
"Rencana kita sederhana," jawab Rico sambil mengisi ulang senjatanya. "Bunuh mereka semua sebelum mereka membunuh kita."
"Di Tengah Pertempuran"
Ketegangan meningkat ketika sebuah ledakan besar mengguncang mansion. Pintu utama akhirnya hancur, dan para penyerang Moretti mulai masuk dengan kekuatan penuh.
"Kita terpojok!" teriak salah satu pengawal.
"Jangan menyerah!" balas Dante. "Lawan mereka dengan segala yang kalian punya!"
Namun, jumlah mereka yang sedikit membuat situasi semakin sulit. Para pengawal mulai tumbang satu per satu.
Arlo, yang berlindung di balik dinding bersama Dante, melihat Vito Moretti memasuki ruangan dengan langkah penuh percaya diri.
"Luciano tidak ada di sini?" tanya Vito dengan nada meremehkan. "Sayang sekali. Aku kira dia akan melindungi keluarganya sendiri."
Dante berdiri, matanya penuh amarah. "Kami tidak butuh papa untuk mengalahkanmu, Vito!"
Arlo merasakan dorongan yang sama, meski tangannya gemetar memegang senjata. Ketika Vito mendekat, ia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk bertindak.
Namun, sebelum salah satu dari mereka bisa bergerak, sebuah suara keras terdengar dari belakang.
"Sudah cukup, Vito."
Semua orang menoleh, dan di sana, berdiri Luciano Salvatici dengan sekelompok pria bersenjata lengkap.
Mata Luciano menyala dengan kebencian yang mendalam.
"Jika kau ingin perang, kau akan mendapatkannya," kata Luciano dingin.
"Serangan Balik"
Dengan kedatangan Luciano, semangat keluarga Salvatici kembali bangkit. Pertempuran semakin intens, dengan kedua belah pihak bertempur habis-habisan.
Di tengah kekacauan itu, Arlo menemukan dirinya berhadapan langsung dengan salah satu pria Moretti. Dengan gemetar, ia mengangkat senjatanya, mengingat apa yang Dante katakan sebelumnya:
"Jangan ragu. Ini hidup atau mati."
Dengan tembakan yang nyaris meleset, Arlo berhasil melumpuhkan musuhnya. Jantungnya berdebar kencang, tetapi ada rasa lega yang aneh.
la menoleh dan melihat Dante, Marco, dan Rico bertarung dengan gagah berani di dekatnya. Sementara itu, Luciano memimpin pasukan baru untuk mengusir Moretti keluar dari mansion.
Namun, Vito Moretti tidak menyerah dengan mudah. la melawan dengan cerdas, mengarahkan anak buahnya untuk mengelilingi mansion dan menyerang dari sisi lain.
"Ini belum berakhir," kata Vito sebelum menghilang di tengah asap dan api.
Ketika pertempuran mereda, keluarga Salvatici berdiri di tengah mansion mereka yang hampir hancur. Luka dan kelelahan tampak di wajah mereka, tetapi tekad untuk bertahan tetap membara.
"Kita belum menang," kata Luciano dengan suara berat. "Tapi kita akan membalas mereka."
Arlo menatap ayah dan kakak-kakaknya, merasa lebih kuat dari sebelumnya. Meski perang ini telah memakan korban besar, ia tahu bahwa keluarganya akan bertahan- karena mereka adalah Salvatici.

KAMU SEDANG MEMBACA
"ARLO SALVATICI" End
ActionArlo Salvatici, anak bungsu keluarga mafia ternama, lahir di tengah tragedi yang merenggut nyawa mamanya. Namun, kehadirannya justru dianggap sebagai kutukan. Dibenci oleh papa dan Abang-abangnya, Arlo tumbuh dalam cemoohan, tamparan, dan perlakuan...