Arlo mulai menjalani hari-hari barunya bersama Elias. Walaupun rasa trauma terhadap keluarganya masih membayangi, kehadiran Elias mulai memberikan arti baru dalam hidupnya. Elias, yang jauh lebih dewasa, menjadi sosok kakak yang selama ini Arlo dambakan.
---
"Pagi yang Berbeda"
Pagi itu, matahari mengintip perlahan dari balik jendela. Arlo terbangun di kasur kecilnya dengan wajah polos, rambutnya masih berantakan. Di dapur, aroma telur dadar dan roti panggang menyapa hidungnya.
“Lio udah bangun? Sini, sarapan dulu,” panggil Elias sambil menuangkan segelas susu hangat ke atas meja.
Arlo menggosok matanya dan perlahan duduk di kursi. Ia menatap sarapan di depannya—sederhana, tetapi penuh kehangatan.
“Telima kasih, Kak Elias,” katanya dengan suara pelan, cadelnya membuat Elias tersenyum kecil.
“Mulai nyaman di sini?” tanya Elias sambil duduk berseberangan.
Arlo mengangguk pelan. “Di sini... lebih tenang. Kak Elias baik banget sama Lio.”
“Yah, itu kewajiban abang ke adiknya, kan?” Elias menjawab santai sambil mengacak rambut Arlo.
Mendengar kata "abang," hati Arlo terasa hangat. Ia selalu menginginkan seorang abang yang benar-benar peduli padanya, dan kini ia merasa menemukannya.
---
"Kehidupan Sederhana yang Bermakna"
Hari-hari mereka dipenuhi rutinitas sederhana namun bermakna. Elias mengajak Arlo membantu di taman, memasak makanan, bahkan bermain gim kartu di malam hari.
Di suatu sore, Elias memperlihatkan kamera tua miliknya.
“Lio pernah foto-foto?” tanya Elias sambil menyerahkan kamera itu pada Arlo.
Arlo menggeleng. “Lio nggak pernah punya waktu buat main kayak gini...”
“Kalau gitu, ini saatnya.” Elias mengajari Arlo cara menggunakan kamera itu. Mereka berjalan-jalan di sekitar lingkungan, mengambil foto-foto sederhana.
Saat Elias memotret Arlo di bawah pohon, pemuda itu tertawa kecil. “Kamu lucu juga kalau senyum. Nggak terlalu kelihatan sedih.”
Arlo hanya menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah.
---
"Malam Penuh Cerita"
Di malam hari, setelah makan malam, Elias sering mengajak Arlo duduk di teras belakang sambil melihat bintang.
“Lio, kamu punya cita-cita nggak?” tanya Elias suatu malam.
Arlo terdiam lama. Ia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.
“Kayaknya... Lio cuma pengen bahagia,” jawabnya akhirnya.
Elias tersenyum. “Itu cita-cita yang bagus. Tapi ingat, kebahagiaan itu kadang harus kita perjuangkan. Nggak selalu datang dengan sendirinya.”
Arlo mengangguk pelan. Kata-kata Elias terasa seperti pelajaran berharga baginya.
---
"Panggilan Abang"
Lama-kelamaan, Arlo mulai memanggil Elias dengan sebutan “Abang.” Awalnya canggung, tetapi Elias merespons dengan senyuman lebar.
“Kamu akhirnya manggil aku abang juga, ya,” goda Elias.
“Kan Kak Elias emang kayak abang...” jawab Arlo sambil menunduk malu.
Elias tertawa kecil. “Mulai sekarang, aku beneran abangmu, ya. Lio nggak sendirian lagi.”
Arlo tidak bisa menahan senyumnya. Meski hidupnya belum sepenuhnya bahagia, kehadiran Elias memberinya harapan.
---
"Bayangan Masa Lalu"
Namun, tidak semua malam berlalu dengan damai. Kadang, Arlo terbangun dari mimpi buruk. Dalam tidurnya, ia sering teringat tamparan Dante, hinaan Marco, atau cacian Rico.
Di suatu malam, Elias mendengar tangis kecil dari kamar Arlo.
Hiks hiks!"
Ia mengetuk pintu, tetapi tidak mendapat jawaban. Akhirnya, ia membuka pintu perlahan dan melihat Arlo duduk di sudut tempat tidur, memeluk bonekanya dengan erat.
“Lio, kenapa?” tanya Elias lembut sambil duduk di sampingnya.
“Lio takut, Bang...” jawab Arlo dengan suara bergetar. “Lio takut meleka nemuin Lio... Lio nggak mau balik...”
Elias menarik Arlo ke dalam pelukannya, menepuk punggungnya dengan lembut. “Lio aman di sini. Mereka nggak akan nemuin Lio, selama Abang ada.”
Arlo memeluk Elias lebih erat. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar terlindungi.
---
"Bersiap untuk Hidup Baru"
Babak kehidupan Arlo bersama Elias baru saja dimulai. Setiap hari adalah pelajaran baru, dan setiap malam adalah kesempatan untuk menyembuhkan luka lama.
Namun, bayangan keluarga Salvatici belum sepenuhnya menghilang. Arlo tahu, suatu saat ia harus menghadapi masa lalunya. Tetapi untuk saat ini, ia ingin menikmati kedamaian kecil yang akhirnya ia temukan.
---

KAMU SEDANG MEMBACA
"ARLO SALVATICI" End
БоевикArlo Salvatici, anak bungsu keluarga mafia ternama, lahir di tengah tragedi yang merenggut nyawa mamanya. Namun, kehadirannya justru dianggap sebagai kutukan. Dibenci oleh papa dan Abang-abangnya, Arlo tumbuh dalam cemoohan, tamparan, dan perlakuan...