Hari itu berakhir dengan kebersamaan yang penuh tawa. Namun, malamnya, Lio merasa gelisah. Walaupun dia sudah bermain sepanjang hari, ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Dia memikirkan bagaimana semua abang-abangnya, termasuk Elias, selalu menjaga dirinya dengan penuh kasih sayang. Rasanya aneh, karena selama ini dia selalu merasa sendiri. Tapi malam itu, dia merasakan sebuah ikatan yang lebih kuat dengan keluarga.
Lio terbangun tengah malam, dan matanya yang masih berat melihat sekeliling kamar. Ada satu hal yang ingin dia lakukan, dan tanpa pikir panjang, dia bangkit dari tempat tidurnya. Di luar kamarnya, terdengar suara samar dari ruang keluarga. Tanpa ragu, Lio berjalan menuju suara itu.
---
Keluarga yang Tak Pernah Tidur
Di ruang keluarga, Papa Luciano, Dante, Marco, Rico, dan Elias duduk bersama, berbicara dengan tenang. Mereka semua tengah memikirkan bagaimana cara menjaga Lio dan membuatnya merasa semakin diterima dalam keluarga. Dante sedang menggosok pelipisnya, menatap Elias yang duduk di dekatnya. "Kamu merasa Lio sudah mulai merasa lebih baik, kan?" tanya Dante pelan.
Elias mengangguk. "Iya, dia memang lebih terbuka. Aku rasa kita semua perlu terus menjaga hubungan ini. Dia butuh lebih banyak waktu bersama kita."
Papa Luciano tersenyum penuh pengertian. "Lio sudah punya keluarga yang selalu siap mendukungnya. Tapi kita juga perlu menunjukkan padanya bahwa dia nggak sendirian."
Rico yang duduk di sisi kanan Papa Luciano menimpali, "Betul. Aku juga sudah merasa dia lebih nyaman sekarang. Kita harus terus mendampinginya."
Lio yang mendengar percakapan itu merasa sedikit terharu. Dia merasa sangat disayangi, bahkan oleh Elias yang baru saja menjadi bagian dari keluarga ini. Tanpa mengganggu, Lio berdiri di pintu dan mengintip ke dalam.
---
Lio Bergabung
Papa Luciano yang mendengar suara langkah kaki Lio langsung menoleh. "Lio, kamu masih terjaga?" tanyanya dengan lembut.
Lio mengangguk, meskipun matanya masih terlihat lelah. "Aku... cuma pengen tahu apa yang abang-abang lagi omongin," katanya dengan suara pelan.
Dante tersenyum kecil. "Kami lagi ngobrolin kamu, Lio. Gimana perasaanmu sekarang? Sudah merasa lebih nyaman?"
Lio merasa malu, tapi dia mengangguk. "Iya... makasih, abang-abang. Aku merasa... lebih diterima di sini."
Marco mengulurkan tangan dan menarik Lio duduk di sampingnya. "Kamu nggak perlu terima kasih, Lio. Kami semua di sini buat kamu," katanya dengan penuh kasih sayang.
Elias, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. "Lio, aku tahu mungkin ada banyak hal yang belum bisa kamu cerna, tapi aku janji aku akan selalu ada di sini, sama seperti abang-abangmu yang lain."
Lio menatap Elias, merasa aneh karena mendengar kata-kata itu dari Elias. "Aku nggak pernah punya abang yang kayak kalian," kata Lio dengan suara pelan. "Kalian semua baik banget sama aku."
Papa Luciano tersenyum bangga. "Itu karena kamu bagian dari keluarga kami, Lio. Tidak ada yang lebih penting bagi kami selain kamu."
Lio merasa hati kecilnya berbunga. Dia tahu, mungkin tak semuanya sempurna, tapi dengan keluarga yang selalu ada, dia merasa lebih kuat.
---
Petualangan Kecil Malam Hari
Setelah obrolan itu, mereka semua kembali duduk bersama di ruang keluarga. Lio merasa bahwa malam itu adalah malam yang penuh makna, dan dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati kebersamaan dengan abang-abangnya.
Tiba-tiba, Lio berdiri dengan semangat yang tiba-tiba muncul. "Ayo, siapa yang mau ikut petualangan malam? Kita cari sesuatu yang seru!" katanya dengan wajah ceria.
Dante, yang awalnya terkejut, menggelengkan kepala. "Lio, kamu ini kalau ada ide selalu aja nggak berhenti."
Rico, yang sudah lelah, ikut menyahut, "Lio, malam ini kita istirahat dulu ya. Coba besok pagi."
Tapi Lio tetap bersikeras, "Ayo! Kita bisa bikin petualangan di rumah! Kita main petak umpet, atau cari tempat tersembunyi!" teriaknya penuh semangat.
Elias tertawa ringan, kemudian berdiri. "Oke, aku ikut. Tapi, kalian harus janji gak akan ganggu tidurku nanti malam."
Lio melompat kegirangan, "Deal! Kita semua main bareng!"
Papa Luciano menggelengkan kepala, tetapi senyumnya tak pernah hilang. "Kalian ini, kalau sudah mulai, nggak ada habisnya."
---
Petualangan Malam yang Konyol
Mereka pun mulai petualangan kecil itu, menjelajahi seluruh rumah. Lio, dengan segala ide konyolnya, memimpin permainan petak umpet yang sangat berbeda. Rumah yang sepi dan gelap malah menjadi arena penuh tawa.
Dante bersembunyi di balik tirai, mencoba untuk tetap tenang, tetapi suara ketawa Lio tak bisa dia tahan. "Kalian ini memang nggak bisa diam, ya?" keluh Dante.
Bang Marco yang biasanya lebih pendiam, ikut bergabung dengan Lio dalam pencarian mereka. "Lio, kamu ini malah jadi pemimpin yang selalu bikin keributan," kata Marco sambil tertawa.
Rico yang sudah memutuskan untuk ikut serta, bersembunyi di dalam lemari dan menahan tawa, "Kalian semua nggak ada yang bisa diem ya."
Sementara Elias, meskipun sudah lelah, ikut tertawa bersama yang lain. "Aku rasa ini petualangan terbaik yang pernah ada, malah lebih seru dari yang aku bayangkan," katanya, tersenyum melihat Lio yang tak pernah kehilangan semangat.
---
Akhir Petualangan
Petualangan kecil mereka malam itu akhirnya berakhir dengan tawa yang tak pernah berhenti. Semua lelah, tetapi mereka merasa puas. Walaupun itu bukan petualangan besar di luar sana, kebersamaan mereka malam itu tetap menjadi kenangan yang berharga.
Lio duduk di pangkuan Papa Luciano, merasa aman dan nyaman. "Makasi, Papa... Makasi semuanya," katanya pelan.
Papa Luciano menepuk kepala Lio dengan penuh kasih. "Kamu nggak perlu berterima kasih, Lio. Kamu adalah bagian dari kami."
Dengan perasaan penuh kebahagiaan, Lio akhirnya tidur dengan tenang di malam itu, tahu bahwa dia punya keluarga yang selalu siap menjaga dan membimbingnya.
---

KAMU SEDANG MEMBACA
"ARLO SALVATICI" End
ActionArlo Salvatici, anak bungsu keluarga mafia ternama, lahir di tengah tragedi yang merenggut nyawa mamanya. Namun, kehadirannya justru dianggap sebagai kutukan. Dibenci oleh papa dan Abang-abangnya, Arlo tumbuh dalam cemoohan, tamparan, dan perlakuan...