Betapa memilukan tangisan yang keluar dari bibir mungil wanita itu. Tubuhnya yang bergetar menandakan jika dia benar-benar ketakutan namun tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan diri sendiri. Sakura benci kenapa dia tidak bisa melawan pria itu, tenaga dan tubuh Sasuke yang besar terasa sulit bagi Sakura untuk melakukan perlawanan.
Dia hanya bisa menangis sambil terus melangkah mengikuti seretan Sasuke. Jambakan pria itu tidak terlepas, Sakura hanya bisa berharap semoga kulit kepalanya tidak terluka.
"Kau sangat suka membuatku emosi" Sasuke melepaskan jambakannya tapi menyudutkan tubuh Sakura ke tembok.
Di antara suasana terang namun sunyi itu, Sasuke menghimpitnya. Napas Sasuke menerpa wajahnya. "Pipimu lebih berisi, kau lebih bahagia tanpaku?"
"Jangan menyeret anak-anak di panti asuhan, ini masalahku denganmu bukan dengan mereka" Sakura langsung to the point.
"Ternyata benar ancaman itu yang paling cepat membuatmu kembali padaku ya" ucap Sasuke sambil mengelus pipi Sakura yang sedikit kotor.
Emosi karena merasa Sasuke mempermainkan dirinya, Sakura menepis kasar tangan pria itu dari wajahnya. Bersiap lari dan lagi-lagi gagal, tangan panjang Sasuke menarik lagi rambutnya, Sakura tidak bisa berkutik.
Tangan satunya mencekik leher Sakura tidak kuat tapi tetap saja membuat Sakura dilanda ketakutan. "Hiks Sasuke kau semakin hari semakin gila"
"Kau yang membuatku gila Sakura, kalau kau tidak melarikan diri aku tidak akan seperti ini" ujarnya emosi.
Sakura terdiam namun matanya terbuka lebar. Ketakutannya memudar, dengan emosi melepas paksa tangan Sasuke dari lehernya.
Ingatan buruk kembali menjumpai Sakura, "Hiks Sasuke a-aku" menunjuk dadanya yang begitu nyeri, "a-aku tidak akan seperti ini hiks jika kau tidak membunuh anakmu sendiri hikss hatiku sakit Sasuke, huuuuu kau membunuh bayi tidak bersalah hiks hanya karena egomu"
"Sialan kenapa kau terus membahas anak itu ha!? Seolah kau hidup hanya untuknya"
PLAKK
Meskipun ada rasa takut tapi dia puas bisa menampar wajah Sasuke. Tangannya bahkan terasa kebas, tapi apa pedulinya yang penting emosinya bisa tersalurkan. Ini bahkan belum seberapa dengan apa yang pria itu lakukan padanya.
Sakura terlalu banyak diam dan berpikir padahal harusnya dia gunakan itu untuk berlari menjauh dari Sasuke.
Lihat sekarang pria itu mengangkat kepalan tangannya, dan Sakura dengan bodoh hanya bisa menutup matanya bukannya menghindar. Lagipula jika menghindar dari Sasuke pun pria itu akan tetap memukulinya, percuma saja.
BUGHH
"Sakura kau tidak apa-apa. Apa ka-kau terluka?"
Demi tuhan Sakura ingin sekali mengucap syukur ketika dia merasakan seseorang memegang kedua bahu sambil memeriksa tubuhnya.
Dia langsung membuka mata dan melihat siapa yang menolongnya. Pria itu menatapnya dengan penuh khawatir, mata berkaca-kacanya membuat Sakura tanpa sadar tersenyum
"Hiks Utakata terima kasih" guman Sakura lirih.
Tapi begitu sadar akan sesuatu, dia mencari keberadaan pria brengsek itu. Sangat tidak disangka pria itu terduduk dan memegang kepalanya. Seumur hidupnya baru kali ini melihat Sasuke seperti itu, seperti ada rasa puas tersendiri.
"Apa yang terjadi padamu, sial aku terlambat menolongmu" Utakata berdecak kesal.
Saat mengantar pamannya ke pelabuhan dia tidak sengaja melihat Sakura berlari, dia berpikir mungkin saja salah orang. Tapi karena dia penasaran, dia mengikuti arah wanita itu berlari hingga tidak sengaja mendengar pertengkaran yang entah apa itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RELATIONSHIP CRACKS
FanfictionHarusnya Sakura sadar jika ini bukan cinta, melainkan obsesi pria itu pada dirinya.
