Chapter 18

1K 85 13
                                        

Dia pernah berpikir jika kehidupannya setelah keluar dari panti asuhan akan berjalan dengan baik, meski tahu jika setiap manusia mempunyai cobaan. Tapi Sakura selalu percaya diri jika masalah yang dia hadapi bisa di atasi.

Nyatanya itu hanyalah pemikirannya yang terlalu percaya diri, sedari kecil hidup tanpa orang tua dan kasih sayang dari mereka membuatnya selalu berharap jika dewasa nanti dia akan membangun keluarga yang penuh cinta.

Dugaannya meleset jauh dari ekspetasi, ingin memaki takdir yang seenaknya tapi rasanya percuma, semua sudah terjadi. Seolah memberikannya balasan dari perbuatan buruk, padahal Sakura sangat yakin jika dia tidak pernah bersikap buruk pada orang lain.

Sekarang ini dia sudah pasrah, dengan tubuhnya yang direbahkan terlentang kedua kaki dan tangannya diikat, begitu juga dengan matanya yang sengaja ditutupi kain. Tubuhnya sudah kelelahan sedari tadi meronta, ia kalah tenaga dengan mereka.

Mereka masih terdengar berbicara entah apa dia tidak ingin mendengar, aborsi itu akan segera dilakukan, pakaiannya memang masih terpakai. Tapi setelah beberapa saat dari ini, pakaiannya akan dibuka dan dilihat oleh banyaknya pria. Membuatnya semakin putus asa untuk melanjutkan hidup yang menyedihkan ini.

"Sakura ini tidak akan sakit" gumam Pain terdengar lembut.

Sakura ingin tertawa mendengar perkataan pria itu, dia melakukan kejahatan bersama Itachi tapi bersikap seolah-olah itu adalah hal baik. Menggelitik perutnya.

"Setelah ini bunuh saja aku" ucapnya datar, tidak ada nada emosi yang terdengar.

Seisi ruangan itu langsung hening mendengarnya, mereka menatap satu sama lain dengan kebingungan.

"Kenapa kalian diam saja? Cepat lakukan, aku lelah menunggu" ketusnya kesal, berusaha menahan mulutnya untuk tidak mengumpati mereka.

"Baiklah" itu perkataan dari dokter berambut pirang tersebut.

Itachi dan Pain saling menatap satu sama lain tanpa alasan, mereka mundur dan memilih duduk jauh dari tempat Sakura berada. Rasa ngilu jika melihat proses aborsi itu secara langsung.

"Pakaiannya akan dibuka, sebaiknya kalian menunggu di depan ruangan saja" ucap dokter itu, dia sudah siap membuka celana yang dipakai oleh Sakura.

"Pain kau keluar, aku akan menunggu disi---"

BRUKHHHH

Ruangan tersebut bergetar seperti baru saja terjadi gempa bumi, belum lagi beberapa bagian tembok runtuh.

"KELUAR KAU BAJINGAN SIALAN"

Mata mereka melebar sempurna begitu juga dengan jantung yang berdetak kencang karena panik. Terlebih pada Itachi yang terdiam tanpa kata, "si-sialan Sasuke menabrak gedung ini"

***

"BERAPA LAMA LAGI HA?" Sedari tadi teriakan Sasuke memenuhi perjalanan mereka menuju tempat persembunyian Itachi.

Bagaimana tidak emosi, dia melihat jelas kekasihnya yang sudah diterlentangkan siap dilakukan proses aborsi oleh orang-orang gila itu. Jika mereka terlambat Sasuke akan sangat membenci dirinya sendiri ia yakin itu.

Melihat Sakura yang tak berdaya seperti itu membuat lututnya lemas, sudah berapa banyak kesakitan yang dirasakan Sakura karenanya, kali ini ia harus menyelamatkan kekasihnya. Tidak peduli Sakura akan membencinya karena menyeretnya dalam masalahnya, yang terpenting Sakura bisa diselamatkan, begitu pun dengan bayi itu. Mereka berdua sangat-sangat berharga baginya.

"Gedung mereka sekitar 50 meter dari lokasi kita sekarang Sasuke-san, kita turun saja dari sini dan langsung kepung tempat itu" ucap Jugo.

"Tabrak gedung itu" perintah Sasuke.

RELATIONSHIP CRACKSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang