"TIDAKKK"
Hah... Hah... Hah...
Deru napasnya memburu sambil berusaha menenangkan diri, Sakura memijit pelipisnya menggunakan ibu jari. Dia ketiduran tanpa mengganti pakaian ataupun membersihkan diri, mungkin karena lelah.
Tapi yang membuat tidurnya terganggu bukan karena hal tersebut, melainkan karena mimpi buruk yang melanda. Jelas sekali di mimpi itu Sasuke memukuli Utakata sampai babak belur. Apa mungkin karena terlalu memikirkannya hingga terbawa sampai di mimpi.
"Ti-tidak mungkin Utakata" ucapannya terpotong begitu baru saja sadar jika diluar sudah terang, dia benar-benar tertidur sampai siang hari.
Perasaannya bercampur aduk dan dengan cepat beranjak dari ranjang kecil tersebut, dia harus memastikan keadaan Utakata. Jelas tahu Sasuke tidak akan membiarkan mereka begitu saja, pria itu memiliki banyak rencana agar semua berjalan sesuai keinginannya.
Tapi sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Sakura tidak buta dan tidak bodoh, tahu bayangan siapa yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu rumahnya.
Mengurungkan niatnya sejenak, Sakura memutar kepala untuk mencari cara agar bisa menghindar, melihat sesuatu yang bisa membantunya dia segera mengambil barang tersebut dan menyembunyikannya di sela celana dalamnya.
"Kau ingin memperhatikanku terus dari kamar?" Pertanyaan tersebut membuat Sakura terkejut bukan main, meskipun tahu jika Sasuke adalah orang yang peka tapi dia selalu lengah akan hal tersebut.
Dengan perasaan was-was Sakura berjalan pelan menghampiri pria itu, dia sedang duduk santai mengangkat satu kaki sambil merokok. Tapi begitu melihat Sakura berjalan mendekatinya, pria itu mematikan rokoknya dan membuangnya begitu saja.
"Dimana Utakata?"
"Jangan membuatku marah di pagi hari yang tenang ini" guman Sasuke pelan, lalu menepuk sofa di sampingnya memberikan kode pada Sakura untuk duduk disitu.
Sakura terlihat enggan, Sasuke memang tidak sedang emosi tapi suasana hati pria itu sulit ditebak. Gerakannya yang spontan mungkin saja bisa melukai Sakura. "Lepaskan Utakata kalau begitu" dia menjeda kalimatnya saat mata tajam Sasuke menatapnya dalam. "Dan jangan sangkut pautkan anak-anak di panti asuhan"
"Opsi kedua mungkin bisa diatur tapi tidak dengan yang pertama" Sasuke beranjak, gerakannya cepat hingga bisa menghimpit Sakura di tembok. "Bagaimana bisa aku melepaskan serangga yang menyentuh wanitaku ini hm" tangan besarnya memainkan ujung rambut pink Sakura.
Memejamkan matanya dalam, sambil menahan napas Sakura menoleh ke samping untuk menghindari sentuhan Sasuke di wajahnya. Dia benci pada pria itu, tapi munafik jika dia bilang tidak menyukai sentuhan Sasuke. Jadi sekarang Sakura berusaha menahan diri, rasa benci pada Sasuke harusnya bisa menyadarkannya.
"Dia tidak bersalah, mungkin itu spontan karena ingin menyelamatkanku dari pria brengsek sepertimu" umpatnya pada Sasuke.
Bukannya marah Sasuke menyeringai mendengarnya tapi hanya sedetik. Kemudian tangannya mencekik leher Sakura. Membuat Sakura kesulitan bernapas.
"Lepppasss arkh"
"Kau terlalu membelanya, padahal jelas-jelas aku belum menangkap bedebah itu tapi kau terlihat sangat khawatir. Aku menjadi semakin bersemangat untuk menangkapnya dan memukulinya di hadapanmu" ujar Sasuke santai, sempat berdecak kenapa tidak dari semalam dia menangkap Utakata, pasti akan lebih menarik.
"Ughh" satu tangannya berusaha melepaskan cekikan pria itu.
Tapi tangannya yang satu bergerak hati-hati mengambil apa yang tadi disembunyikan. Ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri, apalagi Utakata belum ditangkap masih ada cara untuk melarikan diri dari pria itu. Karena Sakura sadar, tujuan utama Sasuke adalah dirinya, jika dia melarikan diri lagi konsentrasi Sasuke bisa terpecah belah.
KAMU SEDANG MEMBACA
RELATIONSHIP CRACKS
FanfictionHarusnya Sakura sadar jika ini bukan cinta, melainkan obsesi pria itu pada dirinya.
