Semuanya tampak tenang dan damai. Mungkin ini adalah jawaban dari setiap doa yang selalu ia panjatkan dulu, sempat berpikir jika kebahagiaannya bukanlah pria itu ternyata salah besar, tuhan mengembalikan Sasuke padanya namun dengan versi yang lebih baik dari sebelumnya. Apakah dia tidak akan merasakan kebahagiaan ini jika tidak menerima maaf Sasuke pada hari itu? Entahlah, sesuatu hal buruk yang sudah berlalu lebih baik dilupakan saja.
Dalam keheningan malam ia memperhatikan pria itu, yang beberapa minggu lalu sudah resmi menjadi suaminya tengah tertidur pulas sambil memeluk putri kecil mereka, menaruh bayi berumur 3 bulan tersebut di atas dadanya dan mereka sama-sama tertidur. Sarada sangat menyukai tidur di tempat tersebut, bukan hanya bayi itu, dia pun menyukainya. Dada hangat Sasuke selalu menjadi tempat ternyamannya untuk bersandar, untuk beristirahat setelah seharian disibukkan dengan menjaga Sarada.
Meski hari sudah larut Sakura tidak merasakan kantuk, biasanya jika Sasuke mengambil alih menjaga Sarada, ia menggunakan waktu tersebut untuk tidur lebih awal. Malam kali ini berbeda, dia terus terjaga sambil memperhatikan ayah dan anak itu, "aku bahagia" ucapnya tanpa sadar, seulas senyum manis dan haru tergambar.
Perlahan-lahan tanpa menimbulkan gerakan berlebih dia mengulur tangannya dan mengelus wajah damai putrinya yang tertidur. Semenjak masih dalam perut Sarada sudah merasakan langsung perjuangan jatuh bangun dirinya, ada perasaan sedih tapi lebihnya adalah kebahagiaan karena pada akhirnya dia tetap bertemu dengan Sarada, nilai plusnya lagi ayah dari bayi itu pun ikut kembali padanya.
"Kenapa belum tidur?" Suara serak khas bangun tidur terdengar, sampai membuat Sakura terkejut dan menarik tangannya yang tadi berada di pipi Sarada. Tersenyum kikuk pada Sasuke yang menatapnya khawatir. Pria itu bergegas menaruh Sarada ke box bayi tempatnya tidur, lalu kembali pada Sakura yang masih memasang wajah tidak enakan, karena membangunkan suaminya.
"Aku tidak bisa tidur" jawabnya pelan.
"Apa yang kau pikirkan hingga terjebak insomnia, ayo ceritakan padaku, jangan pendam sendiri begitu" ucap Sasuke lembut, dia sudah mengambil tempat di samping Sakura, memeluk wanita itu sambil mengelus-elus puncak kepalanya tidak lupa memberikan kecupan.
"Tidak, aku baik-baik saja, hanya sedang menikmati pemandangan indah seorang bayi yang tertidur pulas di atas dada hangat ayahnya, sepertinya Sarada sangat suka tidur di dadamu, tempat itu nyaman dan menenangkan"
Sasuke mendengus geli, dia menangkap ucapan Sakura seperti rasa cemburu padahal maksud istrinya bukan seperti itu. Lantas memberikan godaan kecil yang membuat Sakura berdecak kesal, tapi ujung-ujungnya ikut tersenyum karena suaminya dengan enteng mengangkat tubuhnya hingga kini berada di atas tubuh pria itu, jadi gantian setelah Sarada.
"Tidurlah disini kalau begitu supaya kau bisa tertidur nyenyak" bisiknya.
"Kau benar, aku akan tertidur nyenyak jika berada di dalam pelukanmu" jawab Sakura lagi sambil memeluk tubuh suaminya. "Selamat tidur"
"Selama tidur sayang" balas Sasuke tidak lupa mengecup jidat istrinya.
Tidak membutuhkan banyak waktu hingga sepasang suami istri itu terlelap dan menikmati mimpi indah mereka. Benar-benar malam yang damai dan menenangkan.
***
Hari itu bertepatan dengan Sarada berumur enam bulan, kedua orangtuanya begitu antusias berbelanja untuk MPASI pertama Sarada. Berada di dalam supermarket sambil mendorong troli yang hampir penuh dengan bahan MPASI Sarada, padahal mereka baru saja berbelanja bulanan beberapa hari lalu.
"Sepertinya di MPASI Sarada harus banyak buah tomat" gumam Sasuke, matanya menatap lamat rentetan buah tomat, bukan hanya ayah dari satu anak itu, Sarada pun ikut berbinar menatap buah merah segar tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
RELATIONSHIP CRACKS
FanfictionHarusnya Sakura sadar jika ini bukan cinta, melainkan obsesi pria itu pada dirinya.
