Suasana pedesaan yang asri masih terasa menyenangkan bagi Sakura. Masih pagi dia sudah berjalan-jalan di sekitar rumah. Kali ini tidak dengan perasaan sedih, melainkan perasaan bahagia karena dia tidak lagi sendiri. Ada bayinya yang menemani hari-harinya yang suram. Ia bangkit lebih cepat dari perkiraan, semua itu karena bayi di dalam perutnya.
"Kau ingin makan tomat?" Tanyanya lembut sambil mengelus perutnya. Tiba-tiba dia ingin memakan buah itu saat matanya tidak sengaja melihat pohon tomat yang berbuah lebat. "Ah ya kau benar-benar anaknya" merujuk pada Sasuke, dia tidak mempermasalahkannya dan akan tetap memakan tomat demi bayinya. Padahal dia tidak terlalu suka dengan buah tersebut, tapi keinginan dari bayinya tidak bisa ditolak.
"Sakura kau sedang apa?" Teriakan dari arah belakang membuat Sakura berbalik, itu suara Hinata
Mengernyitkan alisnya melihat ketiga orang itu sedang naik berdempetan di atas motor trail milik Utakata. Yang membawanya adalah Utakata, di tengah ada Naruto dan di belakang Hinata. Sakura merasa lucu adalah Naruto yang bukannya memeluk Utakata, dia malah terlihat kesusahan memeluk ke belakang lebih tepatnya pada Hinata.
Motor itu berhenti tepat di sampingnya dan mereka berdua langsung turun menyisahkan Utakata yang masih asik di atas motor kesayangannya itu sambil memegang koper yang berada di depannya.
"Aku sedang berjalan-jalan di sekitar rumah. Kalian sendiri dari mana?" Tanya Sakura.
"Kami dari pelabuhan mengambil kiriman barang milikku, aku mengambil cuti seminggu jadi aku menyuruh asistenku mengirimkan beberapa barang yang ku perlukan" jelas Naruto sambil menunjuk kopernya yang berada di depan Utakata.
Sakura tertawa kecil melihat barang itu, merasa lucu saja melihat mereka berdempetan di satu motor. "Lalu setelah itu kalian akan pergi kemana?" Tanyanya lagi, sepertinya dia penasaran dengan kegiatan mereka.
"Kami berdua tidak akan pergi kemana-mana, tidak ada kegiatan yang harus dilakukan. Tapi orang itu" Hinata menunjuk Utakata yang sedang menatapnya malas, "dia harus pergi bekerja di kantor desa karena belakangan ini terlalu sering berleha-leha" sindir Hinata.
"Aku berleha-leha pun pekerjaanku sudah kelar lebih dulu ya, dasar pengangguran" ejek Utakata. Dia memang bekerja dikantor desa sebagai sekretaris, mendapatkan pekerjaan itu bukan karena orang dalam tapi memang dia pandai dan mampu mengurus permasalahan desa.
"Kau pasti iri kan karena aku pengangguran?" Hinata mengejek dengan wajah menyebalkan, sifat pemalunya akan hilang jika berada di sekitar orang terdekatnya.
"Mana ada, makan tidur saja apa yang bisa diharapkan"
"Hey sialan" umpatannya benar-benar membuat Naruto dan Sakura terkejut, terlebih Naruto yang langsung menahan kekasihnya jika tidak dia akan memukuli Utakata. "Sakura kau jangan dengarkan apa yang dia katakan, aku menganggur karena ayahku tidak mengijinkanku bekerja, dan juga mahluk kuning ini bekerja sama dengan ayahku, mereka benar-benar tidak ingin aku bekerja" kini tambahan dia menyinggung Naruto yang sekarang tengah menatap ke arah lain sambil bersiul seolah tidak terjadi apa-apa.
Sakura kembali tertawa melihat tingkah mereka, masuk akal juga kalau Hinata tidak diijinkan bekerja, ayahnya orang yang berada di desa ini belum lagi kekasihnya memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang tidak bisa dibilang sedikit. Itu adalah hal yang harus disyukuri menurutnya.
"Sepertinya ini juga waktu yang tepat untuk kalian menikmati waktu berdua, kalian jarang bertemu"
"Ya kau benar" ucap Naruto sambil memeluk pinggang Hinata hingga menepel pada tubuhnya.
Itu semua diawasi oleh Utakata yang kini matanya seolah mengeluarkan laser. "Jangan sembarangan menempel ya"
"Kau ini memangnya kenapa, ayahku saja tidak sampai seperti itu" protes Hinata.
KAMU SEDANG MEMBACA
RELATIONSHIP CRACKS
FanfictionHarusnya Sakura sadar jika ini bukan cinta, melainkan obsesi pria itu pada dirinya.
