Hujan yang turun cukup deras menemani sore santainya. Sambil menonton tv tabung kecil yang dia beli di tempat jual barang bekas, Sakura menikmatinya, duduk menyandar di sofa usang yang terasa sangat nyaman, ditemani cemilan dan segelas susu ibu hamil sesekali dia akan mengelus perutnya yang sudah berusia sembilan bulan itu. Dalam hitungan hari mungkin dia akan melahirkan, tidak sabar bertemu dengan bayinya.
Biasanya sore hari ia selalu berjalan di sekitar rumah, memperhatikan anak-anak yang bermain dengan riang, kadang kala mereka mengajaknya bermain bersama dengan Hinata yang selalu menemani hari-harinya.
Wanita itu kelihatan sangat exited menantikan bayinya, bahkan sudah menyuruh Naruto untuk mengambil cuti lagi agar lahirannya ditangani oleh pria itu.
"Sayang kau tahu, semua orang menantikan mu. Kau akan sangat disayangi oleh mereka, dan tidak akan kekurangan cinta. Mama akan menyayangimu sepenuh hati" dia berbicara sambil mengelus perutnya, detik berikutnya dia merasakan respon berupa tendangan.
Kehamilannya ini sangat-sangat tidak mengganggu aktivitasnya, dia mengidam makanan yang mudah ditemukan, bahkan tidak merasakan mual yang berlebihan ataupun lemah. Kata Naruto itu efek dari obat yang dia minum, pil pernah ia sangka sebagai pencegah kehamilan itu ternyata memiliki banyak manfaat.
Dan ada alasan lain mengapa dia tidak merasakan apa yang biasa terjadi pada ibu hamil, itu karena yang merasakannya adalah ayah dari bayinya itu. Oh jangan tanya kenapa dia bisa tahu, bukan karena penasaran dan mencari tahu sendiri ada alasan tersendiri. Dia diberitahu langsung.
TOK TOK TOK
Lamunannya seketika buyar ketikan ketukan pintu terdengar cukup lebih keras dari suara hujan. Sedikit kesusahan dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama. Mungkin itu Hinata, padahal dia sudah mengirim pesan untuk tidak perlu datang, bisa tunggu sampai hujan reda dulu.
"Hinata aku sud--"
"Oh apa aku mengganggumu?"
Sakura terdiam sejenak menatap orang itu dari ujung kepala sampai ujung rambut yang sudah basah kuyup, dia mengernyitkan alisnya bingung namun dibalas dengan senyuman lembut. Kali ini Sakura tidak bisa menahan bola matanya untuk tidak memutar. "Aku tidak mengundangmu"
"Aku merindukan kalian" gumamnya nyaris seperti bisikan, tapi Sakura bisa mengetahui dari gerakan bibirnya.
Sakura mundur memberikan jalan untuk masuk, "pergi mandi sana, kau akan masuk angin"
"Terima kasih ya" dia berjalan cepat menuju kamar mandi berada, sudah hapal betul setiap seluk beluk rumah tersebut.
Sakura menutup pintu dan kembali menuju sofanya tadi. Ia kembali mendudukkan tubuhnya dan mencari posisi nyaman lagi untuk duduk. Sambil menunggu dia menonton acara tv lagi.
Cukup lama hingga keberadaan orang itu kini berada di depannya, dia memilih duduk di lantai yang alasi karpet, dan menyandar di kaki sofa tepat di bawah Sakura. "Kalian baik-baik saja?" Tanyanya kali ini melirik Sakura yang masih asik mengunyah cemilan.
"Tentu" jawab Sakura, "kau sendiri kenapa datang kesini tanpa memberitahuku, memangnya pengobatan mu sudah selesai?"
Pria itu yang tidak lain adalah Sasuke, terkekeh melihat tatapan sinis dari Sakura, dia sudah biasa dan tidak pernah merasa tersinggung. "Pengobatan terakhir sekitar tanggal puluhan, lalu setelah itu aku bebas" dia berucap seolah-olah terpenjara karena pemeriksaan rutin yang selalu dia lakukan itu.
"Syukurlah kalau begitu, aku tidak ingin anakku mempunyai ayah yang memiliki sedikit gangguan jiwa" ujarnya kasar dan sebenarnya itu sangat menyinggung, namun lagi-lagi Sasuke bersikap santai dan kembali tertawa dengan suara keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
RELATIONSHIP CRACKS
FanfictionHarusnya Sakura sadar jika ini bukan cinta, melainkan obsesi pria itu pada dirinya.
