Chapter 22

1.1K 122 31
                                        

Malam harinya Sakura kedatangan tamu, yang tidak lain adalah Hinata dan Utakata, mereka terlihat antusias sambil membawa beberapa kantong yang Sakura yakini itu adalah cemilan. Mereka selalu seperti itu Sakura tidak pernah kelaparan jika mereka datang bertamu.

Wajah sumringah mereka seketika berubah datar ketika masuk ke dalam dan saling bertatap dengan Sasuke yang kala itu sedang duduk santai di depan tv. Lebih pada Utakata yang sekarang berubah sinis, mereka memang sudah saling meminta maaf satu sama lain. Tapi namanya rasa kesal antar pria masih ada.

"Apa yang bajingan itu lakukan disini?" Tanya Utakata menyindir Sasuke, tapi mereka sudah paham perkataan Utakata tidaklah serius, sudah dibilang dia hanya masih kesal saja.

"Aku disini? Tentu saja menjaga calon istriku hingga melahirkan buah hati kami" jawab Sasuke santai dengan nada mengejek super menyebalkan.

Melihat intreraksi mereka yang tidak akan menimbulkan perkelahian ataupun adu mulut, Sakura segera menarik Hinata menuju dapur untuk menghidangkan makanan yang mereka bawa. Membiarkan kedua orang itu saling berhadapan.

"Kapan Sasuke datang?" Kali ini Hinata yang bertanya begitu mereka sampai di dapur.

"Sore tadi, dia mengambil cuti dan akan tinggal disini bersamaku, tidak apa kan?"

Pertanyaannya terdengar seperti anak perempuan yang meminta ijin pada ibunya untuk menginap bersama kekasih. Hinata bahkan sampai tertawa lucu melihat wajah Sakura.

"Tentu saja, kau pikir aku akan melarang mu" dia menaruh makanan di atas piring besar, "lagipula Sasuke sudah banyak berubah, dilihat dari lubang sedotan pun pria itu tidak berani melakukan hal buruk padamu meski sekecil apapun itu"

"Ya kau benar" gumam Sakura. "Oh ya kapan Naruto mengambil cuti?"

"Mungkin beberapa hari lagi, tapi aku memaksanya untuk mengambil cuti lebih cepat, takutnya kau melahirkan lebih cepat dari dugaan"

Sakura tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal, berpikir untuk mengatur kata yang sopan agar Hinata tidak tersinggung, sebenarnya wanita itu tidak pernah tersinggung, hanya saja Sakura mengantisipasi hal itu. "Sebenarnya kalau memang Naruto sibuk tidak apa-apa"

"Tidak kok, dia bisa mengambil cuti. Kau tidak perlu merasa sungkan, aku ingin Naruto yang menanganimu melahirkan karena dari awal dia tidak pernah memeriksa kandunganmu kecuali pada saat melakukan aborsi itu, jadi aku bilang padanya jika kau melahirkan--"

"Ti-tidak Hinata, maksudku hmm itulah alasannya aku menolak. Aku merasa terlalu merepotkan kalian"

"Ya tuhan Sakura tenang saja, kami tidak merasa seperti itu"

"Bagaimana ya aku bingung menjelaskannya" ucap Sakura sambil menggaruk lagi kepalanya yang tidak gatal, dia kebingungan menjelaskan alasan utama kenapa dia menolaknya tapi itu harus dijelaskan sebelum Naruto benar-benar mengambil cuti. "Sasuke tidak mengijinkannya" ucapnya spontan.

"Ba-bagaimana?"

"Ya begitu, dia ingin yang menanganiku dokter wanita, begitu juga aku. Pasti akan canggung di antara kita. Ya meskipun aku tahu itu adalah pekerjaan Naruto, tapi tetap saja kita semua berteman dekat dan selalu bertemu setiap saat" akhirnya dia berani menjelaskannya.

Mereka terdiam setelah itu, Sakura menduga-duga jika saja Hinata akan marah atau tidak terima. Namun dia salah besar karena berikutnya Hinata tertawa kencang bahkan sampai memegang perutnya. Kalau dipikir pun apa yang dikatakan Sakura memang benar, akan canggung untuk Sakura karena mereka berteman dekat, beda lagi ceritanya jika yang menjadi dokter kandungan adalah dirinya sendiri.

Setelah selesai menyiapkan makanan tersebut, mereka kembali ke ruang tamu sekalian membawa minuman hangat yang baru saja Sakura buat. "Aku pikir akan ada adegan baku hantam" sindir Sakura begitu mereka memasuki ruang tamu.

RELATIONSHIP CRACKSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang