Pagi itu, kantor Jungkook bagaikan simfoni kecil yang menyatu dengan denyut kehidupan kota Seoul di luar jendela. Di lantai atas gedung pencakar langit itu, cahaya matahari yang malu-malu menyelinap melalui jendela besar ruangannya. Garis-garis cahaya itu memantulkan keindahan interior kantor yang elegan—meja-meja kaca, sofa kulit abu-abu, dan dekorasi minimalis yang menunjukkan kesempurnaan sekaligus kedisiplinan sang pemiliknya.
Namun, bagi Jungkook, keindahan pagi itu terasa tak sepenuhnya menenangkan. Di ruangannya yang luas, ia berdiri menghadap pemandangan kota. Gedung-gedung megah di bawah sana tampak kecil dari ketinggian ini, seperti perasaan yang ia coba tekan dalam dadanya. Tangan kanannya menggenggam cangkir kopi yang masih hangat, sementara pikirannya melayang di antara kegelisahan dan antisipasi.
Mata Jungkook berkali-kali melirik jam dinding. Setiap detik terasa melambat, seolah waktu sedang mengujinya. Pertemuan hari ini adalah awal baru, babak pertama dari mimpi besar yang sudah terlalu lama ia simpan dalam hati. Namun, di sela-sela optimismenya, ada bayangan gelap dari masa lalu—kejatuhan mendadak produser sebelumnya, kecelakaan yang hampir menghancurkan proyek ini.
Sementara itu, sekretarisnya memasuki ruangan, membawa jadwal yang tertata rapi di tablet digitalnya. Dengan suara yang tenang namun profesional, ia berkata, "Tuan Jeon, semua sudah diatur. Tim produksi akan tiba tepat waktu, dan ruang konferensi sudah disiapkan sesuai instruksi Anda"
Jungkook mengangguk pelan, menghela napas panjang. "Pastikan tak ada gangguan. Hari ini kita tidak boleh salah langkah." Sekretaris itu mengangguk hormat, tetapi ketika ia hendak pergi meninggalkan Jungkook sendirian kembali. Tetiba suara Jungkook kembali mengintrupsinya.
"Nona Kim, setelah pertemuan ini berakhir. Pulanglah dan beristirahat"
Wanita itu terkejut dan mengerutkan keningnya, ia menyahut, "Maaf, Tuan? Tapi, kenapa?"
Jungkook membalikkan badannya, matanya menatap sekretarisnya yang berdiri dengan raut penasaran dan bingung.
"Bukankah kau mengidolakan Jimmy? Dengan gaya rambut comma hair dan tattoo 'nevermind' miliknya dibagian rusuknya? Pergilah kencan dengannya. Dia meminta izinku, dia akan menjemputmu malam ini"
Detik itu, Kim membulatkan matanya, menatap Jungkook tak sangka. Mengetahui bahwa bosnya adalah teman dekat dari seorang penyangi hiatus yang ia idolakan sejak lama, seharusnya Kim masih menyimpan rasa percayanya ketika Jungkook mengatakan itu untuknya. Tetapi, ini lebih dari sekedar sulit untuk dipercaya!
"Tuan, Jeon? Sungguh?"
Jungkook mengangguk pasti, satu detik setelahnya, Kim langsung tersenyum lebar dan membungkuk hormat sebelum akhirnya ia mengucapkan rasa terima kasih dan berbalik badan penuh semangat—meninggalkan Jungkook sendirian di ruangannya.
Sementara bagi Jungkook, langkah-langkah menuju ruang konferensi terasa berat, seolah ada beban yang tak terlihat menggantung di bahunya.
Setelah malam penuh bimbang bersama Jim tempo hari, esoknya ia menemukan secercah harapan dengan bertemu Hwang Taehyung, mendiskusikan proyek dan menyesuaikan visi misinya agar selaras dengan pandangan Produser Hwang Taehyung. Dan, pada saat yang mendebarkan, Taehyung memberikan keputusannya bahwa ia siap untuk berkontribusi bersama perusahaan Jeon's Entertaiment Group.
Kemudian, tanpa pikir panjang, Jungkook memerintahkan sekretarisnya untuk menghubungi semua pemeran yang terlibat untuk menghadiri pertemuan dalam langkah awal proyek yaitu sesi reading script. Tetapi, teruntuk Yeora—Jungkook mencuri kesempatan dengan menghubunginya secara pribadi di malam harinya.
Dan, sekarang adalah harinya. Ketika yang dipersiapkan Jungkook telah hadir di depan mata. Ketika pintu ruangan terbuka, ia melihat meja panjang yang sudah ditata sempurna—dokumen, script, botol air, dan kopi maupun snack untuk para peserta. Cahaya alami dari jendela besar menambah nuansa hangat pada ruangan itu, meskipun bagi Jungkook, setiap detailnya hanya memicu kegelisahan lebih dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Obsession
FanfictionKang Yeora adalah bintang yang tak tersentuh, sempurna di mata dunia. Namun, di balik kecantikannya yang memukau, tersembunyi rahasia kelam yang hanya ia ketahui. Jeon Jungkook, pria yang dulu ia remehkan, kini adalah pengusaha sukses dengan ambisi...
