Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

22. Kepercayaan & Kasih Sayang

164 10 46
                                        

23.40

Waktu sudah cukup larut untuk tidak membuat Yeora tetap terjaga di tengah malam. Berdiri sambil melipat kedua tangan, memandang lampu-lampu kota yang terlihat dari jendela apartemennya, memantul redup pada lantai marmer yang dingin. Hujan kecil yang turun entah sejak kapan, menyisakan jejak air yang memantul samar di kaca jendela. Di dalam, sunyi. Bahkan jam dinding pun terdengar berdetak terlalu jelas.

Yeora kembali duduk di sofa, di tempatnya semula. Mengenakan sweater longgar berwarna abu terang, rambutnya sudah diikat rendah seadanya, dan wajahnya polos tanpa riasan. Di meja, sebuah cangkir teh hijau yang sudah dingin sejak tadi tetap menunggu untuk disentuh. Pandangannya kosong ke arah televisi yang menyala tapi tak ditonton.

Hatinya berat. Tapi bukan karena marah. Lebih seperti... letih karena berharap. Ia tahu J‍ungkook sibuk. Ia tahu pria itu menjalankan perusahaan, memimpin proyek, menghadiri gala dinner dengan setelan mewah dan label 'direktur muda paling berpengaruh di industri film'. Tapi tahu tidak sama dengan bisa menerima.

Malam ini bukan hanya soal kecemburuan. Ini tentang merasa jauh, meski mereka begitu dekat. Tentang ingin dipilih tanpa perlu diminta. Tentang ingin tahu, meski tak diberi tahu.

Lalu—

Bunyi interkom memecah kesunyian.
Sekejap, jantung Yeora berdetak lebih cepat. Ia langsung bangkit untuk menatap layar interkom sejenak. Melihat sosok Jungkook berdiri di depan pintu apartemennya, mengenakan jas gelap, menggenggam sesuatu di tangan— bunga.

Yeora menarik napas panjang. Sangat panjang. Yeora melangkahkan kaki ke arah pintu. Tangannya sempat mengayun untuk menggapai gagang pintu. Tetapi, tiba-tiba terhenti. Yeora menggigit bibirnya ragu.

Tetapi, selang beberapa detik...

'KLAKKK'

Pintu telah dibuka. Jungkook berdiri di sana. Hujan tipis membuat rambutnya agak basah. Di tangannya, buket mawar putih yang elegan dan sebuah kotak kecil berisi entah apa. Tatapan matanya lembut, tapi ada letih dan gugup terselip di baliknya.

“Boleh aku masuk?” tanyanya lirih.

Yeora tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu membalikkan badan dan berjalan kembali ke dalam. Tak ada ekspresi kesal, tak ada juga air mata. Hanya kosong—dan hening.

Jungkook menghela napas. Ia masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya, dan meletakkan bunga serta hadiah itu di nakas dekat pintu masuk. Lalu ia menyusul Yeora ke ruang tengah, di mana gadis itu sudah kembali duduk di sofa, menyilangkan kaki, menggenggam cangkir tehnya seolah baru saja mulai meminumnya.

“Yeora...” Jungkook memanggil pelan.

Yeora tak menjawab. Matanya menatap kosong ke televisi yang masih menyala.
Lalu, pelan-pelan, Jungkook duduk di sampingnya. Ia tidak langsung bicara. Hanya diam. Mencari waktu yang tepat. Menunggu celah agar bisa masuk tanpa mengganggu terlalu cepat. Yeora akhirnya bersuara. Suaranya tenang, tapi lelah.

“Kelihatannya kau masih mengenakan pakaian yang sama—seperti saat mereka memperkenalkan gadis-gadis pirang itu padamu”

Jungkook menoleh, menatap sisi wajah gadisnya. “Yeora, aku tidak tahu kau juga diundang. Aku minta maaf karena tidak memberitahumu”

Yeora tersenyum tipis—bukan senyum hangat, tapi semacam senyum getir. “Kita punya banyak cara untuk saling tidak tahu akhir-akhir ini.”

Hening lagi.

Lalu tangan Jungkook bergerak, perlahan menggenggam tangan Yeora yang hangat sementara tangannya begitu dingin. Ia menggenggamnya erat, seolah sedang meyakinkan sesuatu.

A Perfect ObsessionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang