Tiga hari di Jeju adalah waktu yang penuh intensitas bagi Jungkook. Ia tidak hanya mengurus perizinan lokasi syuting di berbagai tempat yang akan menjadi pusat narasi, tetapi juga memastikan segala kebutuhan logistik terpenuhi—mulai dari akomodasi tim hingga rincian teknis seperti pencahayaan alami dan akses lokasi. Langit biru yang cerah, deburan ombak, dan hamparan ladang bunga di Jeju menjadi latar belakang dari kesibukannya.
Saat Jungkook akhirnya kembali ke Seoul, hari-hari intensif workshop telah berakhir. Di aula tempat workshop itu diadakan, Yeora bertemu dengan Jungkook secara pribadi. Dengan nada yakin, Yeora berkata, "Jungkook-ssi, sepertinya aku sudah merasa cukup dengan sesi-sesi yang telah aku jalani. Dalam kata lain, aku merasa sudah siap untuk syuting", Workshop itu telah membantunya memahami karakter secara mendalam, dan Yeora percaya bahwa selebihnya harus ia eksplorasi langsung di lokasi syuting.
Jungkook, yang selalu menghargai profesionalisme, menatap Yeora dengan sedikit senyum di sudut bibirnya. "Senang mendengarnya, Yeora. Kelihatannya kau begitu bersemangat untuk lanjut ke tahap berikutnya" ucapnya singkat namun penuh arti.
Hari itu, langit di luar jendela kantor Jungkook mulai bersimbah warna senja, seolah menggambarkan perpaduan antara akhir dan awal sebuah perjalanan. Suasana ruangan dipenuhi dengan peralatan kerja tim produksi—berkas-berkas, laptop terbuka, dan kopi yang mulai mendingin di atas meja. Sebuah rapat evaluasi baru saja dimulai. Di tengah ruangan yang hangat oleh cahaya oranye keemasan, Jungkook duduk dengan postur tegap, karisma tenangnya mendominasi suasana.
Yeora hadir di antara para pemeran dan anggota tim produksi lainnya. Dia duduk di sisi meja panjang. Matanya mengamati dengan seksama, menyerap suasana serius di ruangan itu, tetapi ada sesuatu dalam dirinya—campuran harapan dan ketegangan—yang membuat pikirannya melayang pada apa yang akan diumumkan oleh direktur mereka.
Jungkook berdiri, memulai pembicaraan dengan suara yang dalam namun hangat. "Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam tahap persiapan ini, khususnya kepada Kang Yeora dan Park Jiyoung, juga seluruh pemeran yang telah menjalani workshop dengan dedikasi penuh," katanya sambil menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
Ia berhenti sejenak, memberikan ruang bagi suasana hening yang memberi bobot pada kata-katanya. "Setelah evaluasi ini, kami memutuskan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Lusa, kita akan berangkat ke Jeju untuk memulai syuting bagian pertama—kehidupan Danbi di Jeju. Syuting akan berlangsung selama dua minggu."
Kata-katanya disambut dengan gumaman ringan di antara hadirin. Yeora merasakan dadanya berdebar. Ini adalah bagian dari perjalanannya sebagai Danbi, wanita Jeju yang berjuang menggapai mimpinya di Seoul. Perasaan yang bercampur antara antisipasi dan kekhawatiran menyelimuti pikirannya.
Jungkook melanjutkan dengan penjelasan yang lebih rinci, "Yang akan berangkat adalah para pemeran yang memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan Danbi di Jeju, termasuk tokoh orang tua Danbi. Tim produksi—stylist, kameramen, sutradara, dan produser—semua sudah dipersiapkan. Saya juga akan berada di sana untuk memastikan semuanya berjalan lancar."
Ketika kata-kata terakhirnya terucap, ruangan terasa lebih tenang, seperti jeda sebelum langkah besar pertama diambil. Yeora menatap Jungkook dengan diam-diam. Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara—keyakinan dan kehangatan—yang membuatnya merasa nyaman meskipun hati kecilnya tetap dipenuhi rasa gugup.
Sore semakin menua, dan ketika rapat selesai, para hadirin mulai meninggalkan ruangan satu per satu. Namun, di sudut pikiran Yeora, Jeju tidak hanya menjadi lokasi syuting; itu adalah panggung bagi Danbi, dan juga untuk dirinya sendiri, untuk menemukan sesuatu yang lebih besar—baik dalam cerita maupun dalam hidupnya.
"Noona, tidak ingin makan malam denganku?"
Pertanyaan serupa tawaran itu keluar begitu saja dari mulut Jiyoung yang tengah memakai kembali jaket kulitnya, sementara di ruangan itu masih ada beberapa orang tersisa, seperti Jungkook, Taehyung, Junho, Yeora dan manajernya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Obsession
FanfictionKang Yeora adalah bintang yang tak tersentuh, sempurna di mata dunia. Namun, di balik kecantikannya yang memukau, tersembunyi rahasia kelam yang hanya ia ketahui. Jeon Jungkook, pria yang dulu ia remehkan, kini adalah pengusaha sukses dengan ambisi...
