14. Jeju

129 11 4
                                        

Hari itu, takdir seakan menguji kesabaran mereka. Semalam penuh hujan mengalir perlahan, menghiasi kaca jendela dengan garis-garis halus yang membaur di bawah langit kelabu. Tak ada momen sinematik yang bisa diciptakan di bawah rintik gerimis, dan para kru hanya bisa menerima bahwa hari pertama mereka di Jeju berakhir tanpa hasil. Namun, di balik kecewa, ada harapan tersembunyi dalam keheningan malam yang tertutup oleh bunyi lembut air menetes.

Pagi berikutnya datang sebagai awal baru. Angin dingin Jeju menerpa wajah mereka saat jam menunjukkan pukul empat pagi. Langit masih gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang memudar oleh kabut tipis. Para kru bergegas menuju lokasi, membawa peralatan kamera, reflektor, dan perlengkapan lainnya, sementara para pemeran bersiap di tenda kecil yang disiapkan di dekat ladang teh. Udara pagi itu dingin dan segar, menusuk hingga ke kulit, membuat napas mereka terlihat seperti asap putih mengepul di udara.

Ladang teh itu seperti mimpi. Dedaunan hijau basah oleh embun yang mengilap di bawah cahaya pertama fajar. Barisan teh berliku seperti garis puisi, mengarahkan pandangan ke bukit yang dibalut kabut tipis. Suara lembut angin berbisik melewati daun-daun, membawa aroma tanah yang basah dan kesegaran alami yang tak bisa diabaikan.

Ketika matahari mulai menampak dipermukaan bumi, saat cuaca masih begitu sejuk dengan kabut-kabut tipis, mereka memulai syuting perdananya. Menciptakan sinematografi dengan menempatkan Kang Yeora sebagai sosok Danbi disana.

Berdiri di tengah ladang dan sesekali berjalan, mengenakan gaun sederhana berwarna putih yang membaur dengan keindahan sekitarnya. Wajahnya tanpa riasan mencolok, hanya dihias oleh sedikit kilauan embun yang jatuh dari rambutnya. Jungkook berdiri di belakang monitor kamera, matanya terpaku pada layar yang menampilkan Yeora seperti seorang dewi pagi. Produser Hwang memberikan arahan dengan suara rendah namun tegas, memastikan setiap gerakan, setiap ekspresi, dan setiap sudut pencahayaan sempurna. Dan, Jeon Jungkook sebagai produser eksekutif, tugasnya hanya memantau bagaimana semuanya berjalan dengan baik dan sempurna.

"Cut!" suara sutradara terdengar, memecah keheningan yang hanya dihiasi oleh suara alam. Semua orang menghela napas lega. Mereka tahu, adegan ini akan menjadi pembuka yang memikat dalam film, membawa penonton ke dalam dunia Yeora yang sepi namun penuh makna.

Ketika pagi beranjak dengan sinar mentari yang memancar perlahan, kabut mulai terangkat, membuka langit biru yang cerah. Matahari perlahan muncul, memberikan sinar hangat yang menyentuh wajah semua orang. Senyum terlihat di wajah mereka, bukan hanya karena pekerjaan yang berjalan lancar, tetapi juga karena mereka tahu bahwa mereka sedang menciptakan sesuatu yang luar biasa. Di sisi lain ladang, Yeora duduk di atas kotak kayu kecil, meminum secangkir teh hangat sambil menatap ladang luas di depannya, disaat semua kru berlalu-lalang dengan kesibukan mereka masing-masing untuk membereskan tugas dan peralatannya. Jungkook berjalan mendekat, membawa mantel yang ia letakkan di bahu Yeora dengan pelan.

"Jangan sampai kau kedinginan," katanya lembut, pandangannya sesaat tertahan pada wajah Yeora yang terlihat begitu damai.

Yeora mendongak, ia tersenyum kecil, "Terima kasih"

"Tidak. Terima kasih, Yeora. Kerja bagus", ucap Jungkook mendudukkan dirinya disamping Yeora dengan tanpa menatap wanita itu.

Tatapannya tanpa sengaja menatap pada kerikil batu dibawah slippers yang sedang ia injak, bersamaan dengan itu sebuah senyum merekah, Yeora menyadari ia sedang tersipu. "Aku tidak banyak berakting. Aku hanya bagian dari sinematografi"

"Apapun itu, aku harus mengapresiasinya", Jungkook menolehkan kepala menatap Yeora diakhir kalimatnya.

Kedua mata itu saling terpaku, menyadari bahwa ada percikan asmara dan kehangatan melalui sorot mata. Jungkook dengan sadar menunjukkan sorot mata yang lebih dari sekedar perasaan kagum itu kepada Yeora, sedang Yeora juga menyadari bahwasannya dirinya begitu terbuai pesona dengan siapa ia sedang berhadapan saat ini.

A Perfect ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang