Hujan buatan mengguyur deras di tengah taman kota yang dipenuhi cahaya lampu jalan. Daun-daun bergetar dalam kilatan cahaya, menciptakan suasana dramatis yang mendalam. Kamera berputar mengelilingi dua aktor yang basah kuyup—Yeora dan Jiyoung—dalam pelukan panjang yang menyampaikan lebih dari sekadar dialog. Suara air yang memercik bersatu dengan suara nafas mereka yang berat dan intens.
Ketika akhirnya ciuman panjang itu usai, suara lantang mengisi udara.
"Cut! Bagus! Itu luar biasa! Kita selesai untuk malam ini!" seru sutradara, tangannya terangkat tinggi tanda kepuasan maksimal.
Tepuk tangan dan sorakan kecil terdengar dari kru yang berkumpul di balik layar. Yeora dan Jiyoung melepaskan pelukan mereka, tertawa ringan di bawah guyuran sisa hujan, seolah beban karakter mereka perlahan menguap.
"Aku kira aku akan kedinginan sampai beku," kata Jiyoung sambil mengibaskan rambutnya yang basah.
Yeora menertawakannya. “Kau terlihat seperti anak kecil yang baru dilempar ke kolam,” katanya sambil menepuk pundak Jiyoung. Keduanya membungkuk hormat ke arah kru yang mendekat untuk memberi pujian.
Tak lama, sosok Manajer Lee muncul membawa handuk dan jaket.
"Aku sih nggak bakal kaget kalau setelah proyek ini selesai, beredar kabar kau pacaran sama Jiyoung," ucapnya sambil menyampirkan handuk ke bahu Yeora.
Yeora mendengus geli, "Astaga, eonni… bisa-bisanya."
"Kalian terlalu nyaman satu sama lain. Lihat tadi pelukannya. Sampai aku lupa kalau itu syuting."
Yeora menyeringai, "Yah, itu kan bagian dari akting."
Manajer Lee memutar bola matanya, lalu menepuk tangan Yeora, "Ayo. Cepat ganti pakaianmu. Kau butuh sesuatu yang hangat."
Yeora mengangguk, menggigit bibirnya seolah sedang berpikir, lalu berkata, "Makgeolli... dan sup hangat? Atau apa ya?"
Manajer Lee menatapnya malas, namun tak bisa menyembunyikan senyumnya. "Iya, iya... ayo, Yeora. Jangan sampai kau masuk angin."
Yeora tertawa kecil sambil berjalan mengikuti manajernya, tubuhnya masih sedikit menggigil, namun ada hangat yang tumbuh—bukan dari sup atau minuman, tapi dari rasa damai usai adegan yang intens dan profesionalisme yang tetap terjaga.
—
Restoran kecil di sudut Gangnam itu tampak sederhana dari luar, tapi hangat dan penuh aroma kaldu dari dalam. Uap dari mangkuk sup mendesis pelan di atas meja kayu, menyatu dengan suara tawa ringan dan gelas makgeolli yang saling beradu.
Yeora menyampirkan jaket di bahunya ketika pintu terbuka lagi dan suara familiar menyusul mereka.
"Aku tidak bilang kita berdua saja, ya," ujar Manajer Lee cepat, bahkan sebelum Yeora bisa membuka mulut. Ia memutar tubuhnya dan tersenyum lebar penuh pembelaan. "Tadi aku cuma bilang ‘ayo makan sesuatu yang hangat’. Aku nggak menyebut jumlah orang."
Masuklah Taehyung dengan jaket bomber dan senyum bodoh yang nyaris terlalu manis untuk ukuran laki-laki seprofesional dia. Dia tampak lelah, tapi juga sangat puas—entah karena kerja hari ini atau karena bisa duduk semeja dengan Yeora.
Yeora tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk sedikit sebagai sapaan dan melihat Taehyung duduk tepat di seberangnya.
"Sup punggyeopsal panas dan makgeolli dingin. Kombinasi sempurna," kata Taehyung sambil mengambil sumpit.
Mereka bertiga makan dalam obrolan ringan yang santai. Tentang cuaca, kru yang sempat jatuh terpeleset tadi, dan bahkan betapa anehnya wig yang dipakai aktor pendukung di adegan siang hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Obsession
FanfictionKang Yeora adalah bintang yang tak tersentuh, sempurna di mata dunia. Namun, di balik kecantikannya yang memukau, tersembunyi rahasia kelam yang hanya ia ketahui. Jeon Jungkook, pria yang dulu ia remehkan, kini adalah pengusaha sukses dengan ambisi...
