19. Melepas Rindu

211 9 5
                                        

"Bersulang!"

Serempak, gelas-gelas diangkat hingga saling beradu menciptakan dentingan hebat, lalu diteguk cepat hingga habis.

Malam itu, suasana di restoran barbeque terasa lebih hangat dari biasanya. Gelak tawa memenuhi ruangan, gelas-gelas soju bersentuhan, dan aroma daging panggang menyatu dengan hiruk pikuk pembicaraan. Yeora duduk di antara rekan-rekannya, sesekali tersenyum ketika mendengar candaan Junho dan Jiyoung yang semakin tak terkendali setelah beberapa gelas minuman.

Saat suasana sedikit tenang, sang sutradara mengangkat gelas soju dan berdiri sedikit. "Semuanya, kerja bagus hari ini!" serunya. Beberapa kepala langsung menoleh dengan penasaran.

"Kuyakin bukan hanya aku yang merasa puas dan bangga terhadap kerja keras tim dan aktor yang terlibat. Apalagi akhir-akhir ini kita sedang menghadapi puncak alurnya. Yeora dan Jiyoung harus mati-matian siap secara mental dan fisik untuk menghadapi skenario-skenario yang mengharuskan mereka melakukan kontak fisik. Syuting hari ini mereka sangat menggila. Beri tepuk tangan untuk mereka!", seru sang sutradara.

Gemuruh tepuk tangan pun menyambut kedua aktor inti. Yeora menyimpan satu tangannya di dada dan mengangguk dan senyum, begitupun Jiyoung yang bangga terhadap dirinya dan rekannya, Kang Yeora.

Sang sutradara melanjutkan, suaranya lebih serius, "Akan ada beberapa adegan skinship dan emosional yang lebih intens. Kita butuh chemistry yang lebih dalam, lebih nyata. Kalian berdua harus benar-benar siap secara emosional dan fisik, karena ini akan menentukan kekuatan hubungan karakter kalian."

Jiyoung langsung mengangguk serius dan tersenyum lebar, mencoba mencairkan suasana. Ia menoleh ke arah Seora dan berseru dengan nada bercanda, "Wah, aku harap Noona tidak kapok syuting denganku, ya. Soalnya... adegan-adegan kita nanti, aku akan semakin membuat penonton panas dingin melihatnya!"

Semua orang tertawa, dan bahkan beberapa kru bertepuk tangan riuh.

Yeora tertawa dan mengangguk-angguk, mencoba tetap santai, meski ia bisa merasakan beberapa pasang mata memperhatikannya dengan penuh antisipasi. Ia mengambil gelasnya dan meneguk minuman pelan, sambil sesekali melirik Jiyoung yang masih saja menggoda dengan lelucon-lelucon kecil soal adegan romantis mereka.

Sungguh ia tidak masalah, juga tidak keberatan. Karena Yeora memang merasa terbuka untuk Jiyoung. Yeora, sih, sebenarnya bisa saja menganggap Jiyoung sebagai kekasih berondongnya, selama syuting saja.

Namun jauh dalam benaknya, bayangan wajah Jungkook terlintas. Ia tahu pria itu tak akan terlalu senang jika tahu bagian skrip mereka nanti semakin mendalam. Meski Yeora merasa Jungkook tak masalah kalau kekasihnya harus beradegan sesuai tuntutan kerja, toh, bagaimanapun Jungkook lah yang membuat Yeora melakukan semua ini. Yeora yakin pria itu mungkin tidak begitu mencemburuinya perihal adegan skinship ketika syuting.

Di tengah gelak tawa yang menggema, Seora masih menyisakan tawa dan senyum canggung, sementara Jiyoung terus bermain-main dengan topik tentang adegan dewasa yang beberapa sudah ia lakukan di proyek sebelumnya. Beberapa kru mulai ikut menggoda, dan suasana makin hangat.

Namun, suasana perlahan mereda saat Taehyung - yang selama ini hanya duduk diam sambil mengamati - tiba-tiba meletakkan gelasnya dan angkat bicara.

"Aku setuju, Sutradara Park," ucap Taehyung dengan nada tenang namun tegas, membuat percakapan langsung terhenti. Semua mata kini tertuju padanya.

Taehyung menatap semua orang satu per satu, lalu matanya berhenti cukup lama pada Seora dan Jiyoung.

"Aku tahu kita semua senang dan lega bisa sampai di tahap ini. Tapi mulai minggu depan, cerita kita memasuki fase yang jauh lebih sulit - bukan hanya secara teknis, tapi juga secara emosional. Dan aku ingin kalian semua tahu bahwa adegan-adegan intim atau skinship bukan hanya tentang keberanian atau chemistry yang manis di layar."

A Perfect ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang