Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai apartemen Yeora jatuh lembut di atas seprai putih yang masih berantakan. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas siang, dan udara dalam ruangan terasa hangat dan tenang-seperti pagi yang tidak buru-buru untuk beranjak. Di sudut ruangan, bantal besar masih berjejal di antara lipatan selimut, dan aroma samar parfum Yeora yang semalam masih menggantung di udara.
Yeora menggeliat pelan, meraih sisi kasur yang kosong. Tangannya menyentuh ruang hampa di mana tadi malam Jungkook berbaring bersamanya sebelum ia harus pergi pagi-pagi sekali ke kantor. Ia masih mengingat ciuman singkat pria itu di keningnya sebelum pergi-lembut, tapi cukup untuk membuatnya merasa dicintai bahkan dalam tidur.
Namun, tiba-tiba dering telepon membuyarkan keheningan pagi itu. Yeora mengernyit kecil, membuka matanya yang masih berat dan meraih ponsel diatas nakas samping kasur.
Dengan suara serak khas orang baru bangun, ia menjawab, "Halo?"
"Sudah bangun, sayang?" Suara Jungkook terdengar cerah di seberang, sedikit terdengar tawa di ujung nada suaranya.
Yeora mendesah pelan, "Kau membangunkanku dari mimpi indah."
Jungkook terkekeh. "Kalau begitu, semoga kabar ini bisa jadi lanjutan dari mimpimu."
Yeora menyipitkan mata, duduk dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Apa?"
"Aku sudah cek dengan tim produksi. Kau punya waktu kosong lima hari sebelum promosi episode dimulai. Jadi, aku siapkan penerbangan sore ini ke... Tuscany." Ia berhenti sebentar, seperti sengaja membuat jeda. "Kita berangkat sore ini. Berdua."
Yeora terdiam.
"Apa?" katanya akhirnya, masih separuh sadar.
"Tuscany. Italia. Anggur, kebun zaitun, sore-sore di balkon. Aku sudah siapkan vila pribadi untuk kita." Suara Jungkook terdengar penuh kegembiraan, tapi tetap tenang. "Kita akan liburan tiga atau empat hari. Hanya kau dan aku. Tanpa interkom, tanpa kamera, tanpa siapa pun yang tahu."
Yeora memejamkan mata lagi, tapi kini senyumnya mengembang perlahan. "Kau benar-benar sudah gila..."
"Gila karena mencintaimu," balas Jungkook santai. "Kau punya sisa waktu sekitar empat jam untuk bersiap. Jangan bawa banyak pakaian, aku bisa membelikan semuanya untukmu. Aku sendiri yang akan menjemputmu dengan mobil dari kantor."
Yeora menatap ke luar jendela, melihat langit biru yang luas dan terang. Untuk sesaat, dunia seakan bergerak lebih lambat, memberi ruang bagi hatinya untuk melambung tinggi. Tetapi, perasaannya bercampur antara terkejut sekaligus bahagia.
"Kalau begitu aku akan pulang sekarang untuk berkemas. Aku ingin mandi" katanya.
"Kau bisa mandi di rumahku, sayang. Kebetulan supirku sudah menunggu di bawah, kalau-kalau kau membutuhkannya. Maaf sayang, aku tidak bisa mengantarmu"
Yeora terdiam, menarik nafas panjang dan matanya terpejam sejenak. Ia menyibakkan rambut panjangnya, "Jungkook..."
Jungkook tertawa kecil. "Dan, oh, jangan lupa bawa baju renang. Tuscany punya kolam renang yang terlalu cantik untuk tidak kita cicipi," ujarnya pelan. "Aku mencintaimu, Yeora-ya"
Yeora memutuskan panggilan sepihak. Ia langsung melempar ponselnya ke kasur, membenamkan wajahnya ke bantal, memekik kecil karena tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan sekaligus perasaan aneh. Bayangkan betapa kesalnya ia sekarang karena jam tidurnya terganggu. Tetapi, alasannya menciptakan kebahagiaan.
-
Meskipun Jungkook sudah mengatakan kepada Yeora untuk tidak perlu terburu-buru, tetap saja Yeora merasa waktu tidak akan menunggunya dan akan terus berjalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Obsession
Fiksi PenggemarKang Yeora adalah bintang yang tak tersentuh, sempurna di mata dunia. Namun, di balik kecantikannya yang memukau, tersembunyi rahasia kelam yang hanya ia ketahui. Jeon Jungkook, pria yang dulu ia remehkan, kini adalah pengusaha sukses dengan ambisi...
