Pagi yang cerah nan sejuk di akhir pekan, kafe di ujung gang itu menjadi tempat sempurna untuk melarikan diri dari keramaian kota. Sinar matahari menembus kaca besar yang membingkai dinding depan, menciptakan pola bayangan di lantai kayu yang mengilap. Beberapa kursi di teras luar dihuni oleh pelanggan yang menikmati udara segar, ditemani aroma kopi yang baru diseduh.
Bagian dalam kafe terasa hidup, tetapi tidak terlalu ramai. Bau harum espresso bercampur wangi kue panggang memenuhi udara, mengundang siapa pun untuk merasa betah. Rak kayu di sudut ruangan dipenuhi dengan buku resep dan beberapa majalah desain interior, memberikan sentuhan hangat yang kasual.
Meja di sudut ruangan menjadi tempat yang sempurna untuk Yeora merealisasikan keputusannya kepada Jungkook secara tatap mata. Cahaya matahari pagi yang lembut menerangi wajah mereka, menciptakan kesan santai namun hangat. Di meja kecil mereka, segelas cappuccino dengan busa berbentuk hati, segelas americano, dan sepiring croissant almond menjadi penanda pertemuan santai itu.
Musik jazz lembut mengalun dari speaker tersembunyi, sesekali diselingi suara lembut pelayan yang mengambil pesanan atau langkah-langkah kaki di atas lantai kayu. Meski suasananya tenang, ada percakapan-percakapan pelan dari pelanggan lain yang menjadi latar tambahan, memberikan kesan hidup pada tempat itu.
Bagi Yeora, momen ini terasa seperti jeda di tengah segala kekacauan hidupnya. Sedangkan Jungkook, meski terlihat tenang, binar matanya menyiratkan keseriusan dan antusias—menerka-nerka sebenarnya maksud apa yang membawa Yeora duduk di hadapannya saat ini.
"Kita ketemu lagi, ya? Kuharap aku tidak menggangu waktu akhir pekanmu", Yeora menyeruput hot americano nya.
Pria itu terkekeh manis. Sementara atensi Yeora seketika teralihkan begitu melihat gestur pria tampan itu—menyatukan tangan diatas meja kayu dengan lengan kemeja yang tergulung sampai sikut, bertengger sebuah arloji perak yang teramat mahal di pergelangan tangan menambah kesan maskulin selain dari semerbak parfumnya yang mampu menarik keinginan wanita untuk berada dalam dekapannya.
"Justru aku merasa terhormat. Mengawali akhir pekan ini bersamamu"
Sementara Yeora hanya tersenyum, Jungkook membuka mulutnya kembali, kali ini bertanya dengan sedikit rasa penasaran. "Manajer Lee, tidak ikut bersamamu?"
"Meskipun aku akan membahas mengenai proyek kerja sama, aku rasa akan terlalu formal kalau aku membawa manajerku di hari yang santai", jelas Yeora.
"Jadi, bagaimana? Kau sudah tentukan keputusan untuk proyeknya?", tanya Jungkook dengan sedikit menuntut.
Tanpa mengambil jeda apapun, Yeora mengangguk. Sejauh ini, Jungkook teramat senang mengetahui jawaban Yeora, sekalipun itu hanya sebuah gestur. Kalau saja Jungkook tidak cukup dewasa dan tak tahu malu, mungkin saat ini ia sudah bersujud diatas lantai, menari-nari dan berjoged layaknya orang bodoh karena terlalu bahagia melihat harapannya terkabul di depan mata. Karena itu bukan gaya Jungkook, pria itu hanya memilih untuk mengambil senyum puas dengan kedua sudut bibirnya yang ditarik.
"Tetapi dengan satu permintaan, Tuan Jeon"
Kedua alis Jungkook terangkat, menyiratkan keterkejutannya sekaligus rasa penasaran yang membuncah dalam sekelibat mata. "Apa itu, Yeora-ssi?"
Wanita itu mengalihkan pandangan, mengekspresikan wajahnya agar tampak sedang berpikir sekaligus ragu dengan sedikit bagian bibir bawah yang ia gigit sendiri. "Aku ingin bimbingan intensif, workshop ekslusif bersama pemeran, atau bahkan pelatihan khusus untuk adegan romantis"
Jungkook masih terdiam, menerka apa kalimat selanjutnya yang akan Yeora sampaikan padanya.
"Genre ini terasa asing bagiku, dan aku tidak ingin setengah-setengah. Aku mau kau dan tim membimbingku, bukan hanya mengenai akting, tetapi juga tentang memahami kedalaman emosi yang dibutuhkan", Yeora terdiam sejenak, kemudian menarik nafas sebelum melanjutkan. "Aku benar-benar tak ahli dalam genre ini sekalipun di kehidupan nyata. Aku akan terjun ke dunia yang benar-benar baru, aku tak mau melakukannya dengan setengah hati dan semata-mata karena hanya ingin menarik perhatian publik dengan sekedar mencoba genre yang sangat asing bagiku. Aku ingin dari sekedar perasaan itu, aku ingin sesuatu yang berkesan. Kau bisa mengusahakan itu, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Obsession
FanfictionKang Yeora adalah bintang yang tak tersentuh, sempurna di mata dunia. Namun, di balik kecantikannya yang memukau, tersembunyi rahasia kelam yang hanya ia ketahui. Jeon Jungkook, pria yang dulu ia remehkan, kini adalah pengusaha sukses dengan ambisi...
