Chapter 10 - Vishvam

910 133 24
                                        

Milk akhirnya tiba di dekat orang tua mereka, masih bersama Fourth yang menggandeng tangan sang kakak dengan erat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Milk akhirnya tiba di dekat orang tua mereka, masih bersama Fourth yang menggandeng tangan sang kakak dengan erat.

"Ini, Yah," ujar Fourth sambil mengantar Milk kepada sang ayah. Rasanya, Milk seperti dilempar ke jurang.

Sebenarnya, Milk dan Lingling seringkali tidak akur. Keduanya sering berselisih paham, sehingga ibu dan adik mereka sering menjadi penengah di antara mereka. Karena itu pula, Milk lebih memilih untuk tinggal di apartemen, jauh dari rumah yang penuh ketegangan dengan sang ayah. Mungkin karena mereka berdua terlalu mirip, perselisihan sering terjadi. Namun, percayalah, Lingling sangat bangga dan menyayangi Milk lebih dari apa yang gadis itu sadari.

"Apa kabar, Pansa?" Aom menyambut Milk dengan pelukan lembut, mengelus pelan punggung sang gadis.

"Pansa baik, tante. Om dan tante, apa kabar?" Milk bertanya sembari bergantian memeluk Tina yang berdiri di samping Aom.

"Kami baik-baik saja, Pansa. Oh, selamat ya, om dengar kamu meraih posisi pertama," kata Tina, sambil menepuk pelan pundak Milk dengan penuh rasa bangga.

"Terima kasih, om. Ini juga berkat dari dukungan semua orang," jawab Milk sembari tersenyum manis.

"Selamat ulang tahun, tante. Maaf Pansa baru ngucapin sekarang," kata Milk dengan rendah hati, memandang Aom sambil sedikit menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sejujurnya gadis jangkung itu sedikit canggung karena sudah lama sekali tidak bertemu dengan Aom dan Tina.

"Tidak apa-apa, Pansa. Senang bisa bertemu lagi. Setelah kamu lulus SD, tante dan om tidak pernah melihatmu lagi," kata Aom, mengajak mereka bernostalgia.

"Mau bagaimana lagi, Aom. Pansa lebih memilih  untuk sekolah di luar negeri. Kamu tahu kan, dia itu keras kepala. Sudah aku suruh untuk tetap di sini, tapi dia tidak mau. Kalau sudah ada keinginan, sulit dibantah. Yang ada malah nekat," timpal Lingling, kemudian meneguk minuman sampai habis. 

Milk melirik sekilas ke arah Lingling dengan sedikit perasaan kesal di hatinya. Kapan ayahnya akan memandang dirinya dengan baik? Selalu ada kekurangan yang ditemukan Lingling terhadap Milk. Berbeda dengan Fourth yang sering dibanggakan dan dipeluk dengan hangat. Sejujurnya Milk menginginkan hal yang sama, tapi apadaya, Lingling terlalu gengsi untuk menunjukkannya kepada sang anak sulung.

"Iya, memang mirip kamu," sahut Orm, terkekeh, membuat yang lain ikut tertawa, kecuali Milk dan sang ayah.

"Tapi jujur, kalian mirip banget. Jangan-jangan mitos itu benar, kalau mirip, pasti sering berantem," tambah Aom dengan tawa, diikuti oleh yang lain. Milk dan Lingling hanya tersenyum canggung, mendengar candaan mereka.

"Mama sama papa manggil Love?" Suara manis tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka, menatap gadis kecil yang anggun nan cantik.

"Anak cantik papa, sini dulu," kata Tina, merentangkan tangan menyambut sang anak. Love tanpa banyak bicara langsung berlari ke pelukan sang papa. Pemandangan itu membuat Milk sedikit iri.

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang