Chapter 20 - Samīpaṃ

1K 166 20
                                        

Hari itu terasa sangat melelahkan bagi Love

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari itu terasa sangat melelahkan bagi Love. Setiap langkahnya membawa beban dari tugas-tugas yang selesai dengan sangat baik, namun tubuhnya merasakan keletihan yang tak bisa disembunyikan. Ia ingin sekali mengistirahatkan diri, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam ketenangan. Tetapi, di balik keinginan untuk beristirahat, ada satu sosok yang terus mengisi pikirannya—seseorang yang entah mengapa mulai membuat segala kelelahan terasa lebih ringan.

Gadis mungil itu menatap sekelilingnya, berusaha menenangkan detak jantung yang semakin cepat. Ia tak bisa menahan diri lagi, rasanya ingin segera berada di dekatnya. Ada perasaan hangat yang mengalir begitu saja setiap kali ia membayangkan bertemu orang itu. Ia ingin bermanja, ingin menceritakan semua yang terjadi hari itu—betapa lelahnya ia, dan betapa ia ingin dipeluk, dihadapkan pada kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh orang itu, bahkan gadis mungil itu memikirkan cara untuk melindungi orang tersebut dalam dekapannya. Love benar-benar jatuh sejatuhnya kepada orang itu tanpa bisa lagi ia pungkiri.

"Love, nanti kita ada acara makan malam sama klien," ujar View dengan nada datar, seolah tak ada pilihan lain.

Love menatap View dengan kebingungan yang mendalam, terkejut sekaligus heran dengan ujaran sang sahabat. 

"Bukannya hari ini gak ada janji temu kayak gitu, ya?" tanyanya, sambil mengangkat salah satu alisnya, wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.

View menghela napas panjang, seolah beban itu langsung mengalir melalui suaranya. "Harusnya begitu," jawabnya, wajahnya sedikit berubah, menahan rasa lelah yang tak terucapkan. Dengan gerakan pelan, gadis jangkung itu mulai memijat dahinya, berusaha mengusir ketegangan yang mulai merayap dalam pikirannya.

"Tapi, pak Lingling memaksa," lanjut View, suaranya serak, seperti ada yang salah dengan tenggorokannya. 

"Kalau urusan terkait produksi produk baru yang sedang direncanakan, dia mau segera dibahas. Katanya, gak ada waktu lagi untuk menunda, dia sibuk mempersiapkan sesuatu katanya." View menyampaikan alasan mengapa Lingling ingin mengadakan diskusi secara langsung malam ini dengan mendadak. 

Love merasakan beban berat di dadanya, seperti ada sesuatu yang menahan, mengikatnya pada kenyataan yang tak bisa ia elakkan. Ia ingin sekali menolak, berharap bisa menghindar dari kewajiban ini, tetapi bagaimana mungkin? Lingling adalah sosok yang lebih tua, lebih berpengalaman, dan lebih penting lagi—dia adalah ayah dari seseorang yang sangat ia cintai. Dengan napas yang tertahan, Love akhirnya mengangguk pelan, meskipun hatinya penuh keraguan.

Dalam diam, ia berharap bisa segera menemui Milk setelah semua ini selesai—setelah diskusi perusahaan yang terasa semakin memberatkan. Andai Milk masih memegang jabatan tertinggi di perusahaan itu dan merupakan orang yang mengajaknya, Love pasti sangat bersemangat untuk pergi melakukan diskusi tersebut.

"Di mana? Apa kita harus berangkat sekarang?" tanya Love, matanya melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 5 sore—waktu yang terasa begitu cepat berlalu, meninggalkan kesan ketergesa-gesaan yang tak bisa dihindari.

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang