Chapter 21 - Vishwāsa

1.3K 166 28
                                        

HAI READERS SEMUA, MAAF AKU GAK BISA BALAS KOMENTAR KALIAN DI CHAPTER SEBELUMNYA, BUT AKU LIKE KOK KARENA LUCU-LUCU

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

HAI READERS SEMUA, MAAF AKU GAK BISA BALAS KOMENTAR KALIAN DI CHAPTER SEBELUMNYA, BUT AKU LIKE KOK KARENA LUCU-LUCU. THANK YOU SO MUCH YANG UDAH KASIH AKU SARAN. I THINK I KNOW WHAT I SHOULD TO DO NOW SEBELUM ENDING BERKAT KALIAN. SO ENJOY THIS CHAPTER

***

Love menatap Milk dengan ekspresi penuh kebingungan, seolah kalimat yang baru saja keluar dari bibir perempuan jangkung itu sulit untuk dicerna. Matanya mencoba menangkap makna, namun sepertinya kata-kata itu hanyalah kabut yang tak bisa digenggam.

Sementara itu, Milk, dengan tatapan penuh harap, tak beranjak dari tempatnya, menunggu respons dari gadis mungil yang kini berada dalam dekapannya. Waktu terasa begitu lama, dan suasana semakin mencekam.

"Love." Milk memanggil dengan lembut, namun suara itu seakan tenggelam dalam keheningan yang membungkam.

Ketika tak ada jawaban yang datang, suasana yang semula hangat berubah seketika. Tanpa peringatan, Love melepas pelukan mereka. Sebelum Milk sempat merespon, Love dengan cepat mengangkat tangannya dan, dalam sekejap, memukul perut Milk dengan kekuatan yang tak terduga.

Rasa sakit menyusup ke tubuh Milk, membuat gadis itu memegang perutnya. Wajahnya berubah pucat, dan meski rasa sakit itu menghunjam, ia hanya bisa menatap Love dengan tatapan penuh pertanyaan. Tak bisa dipungkiri pukulan Love sangat kuat untuk ukuran gadis mungil itu.

"Kamu gila, ya?" tanya Love dengan nada tajam. Matanya menatap Milk dengan pandangan yang menusuk, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulut Milk adalah sebuah kebodohan paling gila yang pernah dia dengar.

Gadis mungil itu melipat kedua tangannya di depan dada, masih berdiri tegak di sana, tak bergerak. Matanya tak lepas dari Milk yang masih terhuyung karena rasa sakit, seolah menuntut penjelasan lebih lanjut.

"Kenapa malah ngajak kawin lari sih?" Love melanjutkan, suaranya penuh kecemasan dan kebingungan yang sulit disembunyikan.

Milk terdiam sejenak, masih memegang perutnya yang terasa perih. Wajahnya pucat, menunjukkan betapa dia benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi. 

"Habisnya aku gak tahu harus gimana lagi," jawabnya dengan suara serak, penuh keputusasaan. Ada rasa hampa yang menggantung di setiap kata-katanya.

Love menghela napasnya pelan, menyadari betapa bingung dan terluka gadis jangkung itu. Dengan lembut, ia menarik Milk untuk duduk di tempat biasa mereka bertukar cerita. Hati Love tergerak, meski masih kesal dengan apa yang dikatakan Milk, ia tak bisa membiarkan Milk terus menderita begitu saja. Perlahan, ia mengelus bagian yang dipukulnya tadi, berharap sedikit menenangkan gadis yang kini duduk di sampingnya.

"Maaf ya, refleks," ujar Love dengan senyuman manis yang tulus, mencoba meminta maaf atas tindakan tak terkendali sebelumnya. Senyumnya itu seolah membawa kehangatan, meskipun ada ketegangan yang masih mengalir di udara. Milk hanya mengangguk pelan, tak mengucapkan sepatah kata pun. Perlahan, ia menyandarkan kepalanya di bahu gadis mungil itu, seolah mencari sedikit ketenangan dari beban yang terasa begitu berat.

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang