Chapter 25 - Tava Asmi

1.2K 119 14
                                        

Hari-hari berlalu seperti helaian kalender yang jatuh satu per satu—diam-diam, tapi pasti mengantarkan mereka ke hari yang telah lama dinanti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari-hari berlalu seperti helaian kalender yang jatuh satu per satu—diam-diam, tapi pasti mengantarkan mereka ke hari yang telah lama dinanti. Sebuah hari yang sejak lama dipintal dalam doa, dirangkai dalam harap, dan dipersiapkan dengan ketelitian yang nyaris sempurna. Sebuah hari yang menjadi hadiah dari segala perjuangan yang telah mereka lakukan.

Matahari pagi menyinari pelataran gedung megah itu, memantulkan cahaya keemasan dari atap kanopi yang dihiasi untaian bunga segar dan kain satin berkilau. Alunan musik klasik mengisi udara, berpadu dengan suara tawa dan percakapan hangat para tamu yang hadir dalam balutan busana terbaik mereka. 

Di tengah panggung utama, di bawah langit-langit kristal yang memantulkan cahaya lembut dan kelopak mawar putih yang perlahan berjatuhan seperti salju musim semi, dua pasang mata saling bertaut. Di sanalah Love dan Milk berdiri, memadu rasa yang tumbuh perlahan namun pasti—sebuah cinta yang tak lagi sekadar perasaan, melainkan janji yang mulai mengakar.

Balutan gaun pengantin putih yang anggun menyelimuti tubuh mereka, menyatu dengan cahaya yang menari di sekeliling ruangan. Kecantikan wajah mereka, bukan hanya dari rupa, tetapi dari pancaran bahagia yang tak bisa disembunyikan. Senyum yang mengembang, mata yang berbicara, dan jemari yang saling menggenggam erat—semuanya adalah bahasa cinta yang tak membutuhkan kata.

Tatapan mereka dalam dan tak tergesa. Seakan waktu melambat, memberi ruang bagi dua hati itu untuk saling meresapi kehadiran satu sama lain. Tak ada kebosanan dalam saling menatap, sebab setiap detik adalah penemuan baru—tentang rasa, tentang rencana masa depan, tentang kehidupan yang akan mereka jalani bersama. Sebuah ikrar mulai mereka ucapkan dengan perasaan yang tulus.

"Milk, di hadapan semua orang yang hadir hari ini, aku ingin mengucapkan janji kepadamu."
Love memulai ikrarnya dengan suara yang tenang namun penuh getar, senyum lembut menghiasi wajah cantiknya yang bersinar dalam gaun putih.

"Aku mendengarkanmu, Love. Hati, jiwa, dan ragaku siap menerima setiap kata yang lahir dari hatimu." Milk membalas dengan senyum yang sama tulusnya. Di antara mereka, ada sesuatu yang tak terlihat namun terasa begitu kuat—dua hati yang telah lama terpaut erat.

Love menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Suaranya tetap lembut, tapi kini penuh keyakinan. "Aku berjanji akan mencintaimu, dalam tawa maupun tangis. Akan menggenggam tanganmu ketika dunia terasa dingin, dan menatap matamu ketika kata-kata tak lagi cukup."

Milk menggenggam tangan Love dengan erat, seolah ingin menegaskan bahwa ia mendengar dan menyimpan setiap janji itu di dalam hatinya. "Dan aku berjanji akan berjalan bersamamu, bukan hanya di jalan yang mudah, tapi juga saat langkah kita harus melewati kerikil dan badai. Aku ingin menjadi rumahmu—tempatmu pulang, kapan pun kamu lelah."

"Aku berjanji bukan hanya menjadi pasanganmu, tapi juga sahabatmu, penyemangatmu,
dan saksi bagi setiap mimpi yang ingin kamu wujudkan."

"Dan aku akan mencintaimu, bukan hanya karena siapa dirimu hari ini, tapi juga karena siapa kita saat bersama—dalam tumbuh, dalam belajar, dan dalam saling menerima."

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang