Chapter 9 - Kathānaka

992 129 38
                                        

Mobil-mobil mewah mulai berderet di depan kediaman keluarga Limpatiyakorn, menghiasi jalan dengan kilau kemewahannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mobil-mobil mewah mulai berderet di depan kediaman keluarga Limpatiyakorn, menghiasi jalan dengan kilau kemewahannya. Aom dan Tina, dengan senyum ramah, menyambut tamu undangan yang satu per satu mulai hadir, bergabung dalam acara istimewa yang mereka selenggarakan. Sementara itu, anak semata wayang mereka, tampak tenggelam dalam kenikmatan hidangan lezat, ditemani oleh sang sahabat tentunya.

"Menurut lo, Namtan bakal datang gak?" tanya View, sambil mengalihkan pandangan dari hidangan yang sedang dinikmatinya, dan menatap Love yang masih sibuk menyicipi makanan yang tersedia.

Love hanya mengangkat kedua bahunya, memberi isyarat bahwa dia tidak tahu. Gadis itu masih terfokus pada hidangan-hidangan yang tersaji, tampak begitu menggugah selera menurut penglihatannya. Sementara View yang menyaksikan itu, memutar bola matanya dengan malas. Sudah menjadi kebiasaan gadis mungil itu, jika sudah berhadapan dengan makanan, dunia seakan menghilang. Yang ada di mata gadis itu hanyalah piring-piring penuh kenikmatan, seakan segala hal di sekitarnya tak lebih dari latar belakang. Badannya saja kecil, tapi makannya banyak.

"Hai, View, Love," sapa seseorang dengan suara ramah, menyapa keduanya dengan senyum lebar.

"Hai Prim, sendiri aja?" tanya Love dengan mulutnya yang masih mengunyah makanan, membuat pipi chubby itu semakin chubby.

"Telan dulu kek, Tuan Putri," sahut View sambil menyodorkan segelas minuman kepada sahabatnya yang langsung diambil Love tanpa memedulikan ucapan View.

Prim tertawa melihat tingkah  keduanya, gemas dengan kebiasaan mereka. View dan Love sering berkelahi, tapi itulah yang membuat mereka dekat. Tanpa banyak basa basi lainnya, Prim pun ikut mencicipi hidangan yang terhampar di meja, menikmati suasana hangat yang terasa begitu akrab.

"Gua tadi bareng Tu," jawab Prim santai, sambil sesekali melirik ke sekeliling.

"Terus, Tu nya di mana sekarang?" tanya View, matanya menyapu ruangan, mencari sosok yang seharusnya ada bersama Prim.

"Lagi ketemu kakak tingkat dulu, katanya. Nanti juga ke sini kok," jawab Prim dengan nada ringan, seakan tak ada yang perlu dipikirkan.

"Siapa-." Belum sempat Love menyelesaikan pertanyaannya, sebuah suara ceria memotong ucapan Love.

"Haiii, Love, View! Lama nggak jumpa!" Suara gadis itu menggema dengan penuh semangat, menarik perhatian ketiganya dan mengalihkan fokus mereka seketika.

"Itu anaknya." Prim menunjuk ke arah Tu yang sedang mendekat sambil sedikit berlari, senyum ceria menghiasi wajah gadis itu saat dia menghampiri mereka. Tanpa ragu, Tu memeluk erat Love dan View, menyalurkan rasa rindu yang begitu mendalam, hingga keduanya hampir kehabisan napas.

"Kangen banget gua sama kalian. Lama banget gak ketemu," kata Tu, suaranya dipenuhi kehangatan. Love membalasnya dengan senyum manisnya, begitupun dengan View. Namun, senyum manis Love perlahan memudar ketika pandangannya tertuju pada dua gadis yang berdiri di belakang Tu. Menyadari tatapan Love, Tu berbalik dan melihat dua orang gadis yang merupakan kakak tingkatnya saat berkuliah.

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang