Chapter 18 - Iha Sthātum

1.1K 162 36
                                        

WARNING⚠️18+

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

WARNING⚠️
18+

Bagi yang belum cukup umur bacanya jangan sampai akhir 😭

Malam itu terasa begitu panjang bagi Milk, seolah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Love, yang selalu menjadi pusat dunia saat ini tiba-tiba saja memutuskan untuk menginap di rumahnya malam itu dan di kamar gadis jangkung itu. Setelah apa yang gadis mungil itu lakukan padanya—mengambil ciuman Milk. Sesuatu yang seharusnya membawa kebahagiaan, justru kini terasa lebih membebani hati Milk dengan rasa bersalah terhadap sang adik. Cinta, kebingungan, dan keraguan menyatu menjadi satu. Begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab, dan Milk tak tahu harus bagaimana menghadapinya. Milk akhirnya memilih untuk kembali ke kamar setelah makan malam, mencoba untuk berpikir lebih jernih.

Sedangkan di taman belakang rumah, di bawah cahaya rembulan yang temaram, Love duduk di bangku kayu yang sudah usang, ditemani oleh adik Milk—Fourth. Suasana di sekitar mereka begitu tenang, hanya suara angin yang berbisik lembut di antara daun-daun yang bergoyang.

Love tampak begitu berbeda malam ini. Ada jarak di antara mereka yang tak bisa dijelaskan. Fourth, yang biasanya ceria, kali ini juga hanya diam, tampak memikirkan sesuatu yang begitu dalam namun tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Fourth," panggil Love dengan suara lembut, namun entah kenapa kata-katanya membuat Fourth merasa ada sesuatu yang tak beres. Sebuah kecemasan yang perlahan menggerogoti dada.

"Iya, kak?" jawab Fourth, suaranya terdengar ragu, seperti ada beban yang tak bisa diungkapkan.

Love memandang pemuda itu dengan tatapan yang penuh makna, seakan mencoba menembus setiap dinding yang dibangun Fourth. 

"Kenapa kamu berbohong?" tanyanya, suara itu terbuai di udara malam yang sunyi, penuh dengan ketegangan yang tak bisa dielakkan.

Fourth terdiam, tubuhnya kaku, matanya menunduk, menghindari pandangan Love yang seolah-olah menunjukkan rasa kecewa padanya. Ia tak bisa melarikan diri dari kenyataan yang semakin membelitnya.

"Kamu bilang Pansa tidak di rumah dan kamu tidak tahu jelas keberadaannya," lanjut Love, suaranya mulai terdengar lebih serius, lebih dalam. "Dan kamu sembunyikan keadaan dia yang kayak gitu. Kenapa sampai sebegininya kamu sembunyikan?"

"Kamu memang ada niat buat ngejauhin aku dari Pansa?" tanya Love, suaranya berat, penuh dengan rasa tak percaya dan kecewa. Ia menghela napas pelan, mencoba untuk berkata lembut meski rasa kecewa menghantam dada. Rasa bersalah juga menusuk ke dalam diri Love, karena dia Fourth melakukan hal seperti ini.

Suasana yang semula hening kini dipenuhi dengan kata-kata yang sulit untuk dilontarkan, namun harus diungkapkan. Kebenaran yang sudah lama terpendam, yang tak bisa lagi disembunyikan.

Fourth terdiam sejenak, tak tahu harus mulai dari mana. "Maaf, kak, tapi aku punya alasan buat jauhin kalian," jawabnya pelan, seolah setiap kata itu memerlukan usaha besar untuk keluar. Kedua tangannya menaut erat, mencoba menenangkan diri, namun hati dan pikirannya bergejolak.

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang