Chapter 17 - Vikṣipta

1.2K 160 40
                                        

Di sore hari yang  cerah, Love datang dengan tergesa-gesa ke kediaman keluarga Vosbein, hatinya berdebar-debar tak sabar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sore hari yang  cerah, Love datang dengan tergesa-gesa ke kediaman keluarga Vosbein, hatinya berdebar-debar tak sabar. Ada seseorang yang ia khawatirkan selama beberapa hari terakhir, dan kini, waktu akhirnya membawanya kembali. Langkahnya cepat, seolah waktu berlari lebih cepat dari biasanya. Begitu sampai di depan pintu rumah keluarga tersebut, ia mengetuknya dengan penuh harap. Pintu besar itu terbuka, dan seorang pelayan menyambutnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pelayan itu dengan senyum hangat yang memancarkan keramahan. Love membalas senyumannya dengan lembut, anggukan kecil terungkap di bibirnya.

Namun, sebelum gadis itu sempat membuka suara, sebuah suara yang familiar memotong keheningan. "Love? Ada apa ke sini? Kalau mau cari Fourth, dia masih belum pulang. Bukannya kalian ada janji malam ini?" Pertanyaan itu meluncur dengan cepat, tanpa basa-basi, dari kepala keluarga Vosbein—Lingling.

Love tersenyum tipis, matanya menyiratkan rasa hormat saat memandang Lingling. Anggukan kecilnya menegaskan bahwa apa yang dikatakan oleh Lingling memang benar.

"Tapi saya ada janji juga dengan tante, om," jawab Love, suaranya lembut dan penuh kesopanan. "Itu sebabnya saya datang ke sini." Lingling mengangguk perlahan, ekspresinya melunak, seolah memahami sepenuhnya.

"Baiklah, kalau begitu. Om juga ada urusan keluar," kata Lingling sambil melirik jam tangannya, lalu menatap pelayan yang berdiri di sampingnya. 

"Antarkan Love ke tempat istriku," perintahnya, suaranya tetap tegas namun menyiratkan perhatian yang mendalam.

Pelayan tersebut mengangguk, segera bergegas menjalankan tugasnya. Sementara itu, Lingling melangkah keluar, meninggalkan rumahnya.

***

"Permisi, tante," sapa Love dengan suara lembut, matanya berbinar saat melihat Orm yang sudah menunggunya di ruang tengah rumah mewah itu.

Begitu melihat Love, Orm segera berdiri, wajahnya cerah seketika. Ada rasa lega yang begitu terasa di ekspresinya, seolah beban yang menggunung dalam dirinya sedikit terangkat hanya dengan melihat gadis mungil yang sudah lama ia nantikan. Tanpa ragu, Orm memeluk Love dengan hangat sebagai tanda sapaan yang penuh kasih.

"Apa yang bisa Love bantu, Tante?" tanya Love dengan penuh perhatian, suaranya lembut saat mereka berpisah dari pelukan.

Orm menghela napas pelan, berusaha menenangkan dirinya. Dengan gerakan lembut, ia mengajak Love duduk di sofa yang terletak di sudut ruang tamu. Orm menatap Love dengan tatapan penuh harap, matanya memancarkan kehangatan, lalu ia menggenggam kedua tangan gadis mungil itu, seolah berharap Love dapat mengerti tentang apa yang akan ia katakan.

"Sebelumnya, tante minta maaf karena telah mengganggu waktu kamu, Nak," ujar Orm pelan karena merasa bersalah karena telah meminta Love datang secara tiba-tiba. Love menggeleng pelan, memberi isyarat bahwa itu tidak masalah. 

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang