Chapter 16 : Bhāva

993 151 35
                                        

Love mengambil langkah besar kali ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Love mengambil langkah besar kali ini. Perasaan yang sudah tak bisa lagi dibendung mendorongnya untuk mencari tahu keadaan Milk, yang sudah dua minggu lamanya menghilang tanpa kabar, tidak ada yang tahu. Bahkan ketika Love bertanya kepada sekretarisnya Milk, Janhae, gadis itu juga tidak tahu keberadaan sang atasan. Semua pekerjaan perusahaan mulai dikembalikan ke tangan kepala keluarga Vosbein yang tidak lain adalah ayahnya Milk—Lingling. Rasa cemas yang terus menghantui membuat Love merasa tak tenang. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan untuk menemui Milk di apartemennya, berharap bisa berbicara, mengungkapkan apa yang terpendam, dan mungkin memberikan sedikit ketenangan untuk gadis itu.

Bagaimana pun, Milk pernah memberinya ketenangan di saat-saat sulit. Mungkin itu adalah balas budi, atau mungkin juga lebih dari itu—sesuatu yang tak pernah bisa Love jelaskan sepenuhnya. Yang jelas, ia merasa ada sesuatu yang lebih besar yang membuatnya ingin menemukan Milk, ingin mengetahui bagaimana keadaan gadis itu saat ini, dan mungkin memberikan sedikit cahaya dalam kegelapan yang sedang melingkupi hati mereka berdua.

Namun, sesampainya di sana, informasi yang ia terima mengejutkan. Milk sudah tidak ada di tempat itu. Dengan langkah cepat, Love bertanya lebih lanjut, dan ternyata gadis itu telah kembali ke rumahnya. Perasaan bingung dan cemas langsung melanda Love. Ada banyak hal yang ingin ia katakan pada Milk, tapi kini semua terasa sia-sia. Semua yang ia harapkan seolah tiba-tiba menjauh begitu saja.

***

"Kak Love, ada apa?" tanya Fourth dengan nada khawatir ketika melihat Love tampak begitu lesu, seolah-olah seluruh semangatnya hilang begitu saja. Wajah Love terlihat jauh lebih lelah dari biasanya, dan matanya yang biasanya cerah kini tampak kosong.

Love hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih terasa seperti sebuah kebiasaan daripada ungkapan kebahagiaan. Ia tidak segera menjawab, hanya menatap sekilas ke piring makanannya, yang kini hanya dimainkan dengan sendok dan garpu. Setiap suapan yang dimakannya terasa hambar, seolah-olah tidak ada selera lagi dalam segala hal, termasuk makanan yang ada di hadapannya.

Ia berusaha untuk tetap tenang, mencoba menyembunyikan kegelisahannya, meskipun hatinya terasa begitu berat. "Tidak apa-apa, Fourth," jawab Love akhirnya, suaranya begitu lembut, namun jelas ada sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan. Perasaan cemas, khawatir, dan kekosongan yang dirasakannya membuatnya sulit untuk berbicara lebih banyak.

"Jika ada apa-apa, kamu bisa bertanya pada aku, Kak," ujar Fourth dengan senyum manis, menatap Love dengan penuh perhatian. Ia meminum minumannya, meski jelas ada kekhawatiran yang tergambar di wajahnya. Love, yang seolah mendapat kesempatan untuk sedikit meluapkan kegelisahannya, akhirnya mengangkat kepala dan bertanya, mencoba menyembunyikan perasaannya di balik topeng profesional.

"Benarkah?" Fourth mengangguk, memberikan jawaban singkat namun penuh makna.

"Aku hanya penasaran, Apa Milk sudah kembali ke rumah? Aku ke apartemennya untuk bicara, tapi katanya dia sudah tidak di sana dan pulang ke rumah," tanya Love menatap Fourth dengan penuh harap bahwa pemuda itu akan memberitahunya dan mengajak dirinya menemui Milk. Namun itu semua hanya angan, Fourth tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang