Chapter 11 - Yojana

780 117 4
                                        

Setelah peringatan sengit dari Love, keduanya terlihat mulai menjaga jarak, namun Milk tetaplah Milk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah peringatan sengit dari Love, keduanya terlihat mulai menjaga jarak, namun Milk tetaplah Milk. Gadis jangkung itu selalu berhasil membuat Love kesal di setiap kesempatan yang ada. Seperti saat ini, ketika mereka terlibat dalam perdebatan panas mengenai nama produk yang akan mereka luncurkan dalam beberapa bulan ke depan.

"Bukankah kemarin kamu sudah setuju dengan hasil yang kita rapat?! Lalu ini apa lagi?!" Love menyergah dengan nada tinggi, matanya penuh amarah dan rasa kesal kepada manusia yang tiba-tiba datang ke perusahaannya untuk memutuskan ulang terkait produk kerja sama mereka. View, yang sejak tadi duduk di samping Love, mencoba menenangkan kucing oren yang sudah siap berubah menjadi singa itu.

"Aku hanya berpikir kembali. Tidak ada salahnya mencari yang terbaik, kan?" Milk membalas dengan santai, menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, sambil menatap Love dengan tatapan penuh tantangan. Seolah-olah dia tahu betul bagaimana membuat Love kesal.

Love menghela napas dengan kasar, melipat kedua tangan di depan dada, berharap emosinya cepat mereda. Kali ini, dia memilih bersikap defensif daripada ofensif. Dia tidak ingin membuat kesalahan lagi hanya karena terpancing emosi dan termakan jebakan si samoyed di depannya.

"Baiklah, apa ide mu?" tanya Love, suaranya datar meskipun matanya masih menatap Milk tajam. Milk menyeringai tipis, tahu bahwa dia punya kesempatan untuk menunjukkan keunggulannya. Dengan tenang, gadis jangkung itu mulai menjelaskan.

"Dari tim kami, kami sudah memikirkan semuanya dengan lebih matang. Tidak banyak yang berubah, hanya penempatan logo dan sedikit perubahan pada nama. Menurutmu, ini lebih baik?" Milk menurunkan nadanya, berubah menjadi lebih serius dan mengajak berdiskusi. Dengan gerakan santai, dia mengulurkan selembar kertas kepada Love.

Love memandangi kertas itu sejenak sebelum mendecakkan bibirnya, "Kamu baru tanya pendapatku setelah semuanya diubah tanpa persetujuanku? Egois sekali," sindirnya tajam. Meski begitu, dia tetap menerima kertas itu dan mulai memeriksa isinya. 

Di sisi lain, Milk merasakan sedikit emosi yang mulai muncul, namun Janhae segera menenangkan gadis jangkung itu dengan sentuhan lembut di lengan. Love meletakkan kertas itu di atas meja yang memisahkan mereka, kemudian berbicara dengan tegas. 

"Aku tidak setuju dengan perubahan warnanya. Warna yang kita pilih kemarin sudah sangat elegan. Untuk logonya, ya, itu lebih segar, dan nama yang baru juga lebih baik. Tapi aku ingin warnanya kembali seperti semula." Love menatap Milk dengan tajam, seolah-olah mereka bukan sekadar rekan kerja, melainkan dua pejuang yang sedang berhadapan dalam sebuah pertarungan. Milk menghela napas, seolah menyadari bahwa tidak ada lagi ruang untuk negosiasi. 

"Baiklah, aku akan minta tim desain untuk mengembalikan warna seperti yang pertama. Terima kasih atas sarannya," jawab Milk, suara datarnya tidak menunjukkan banyak perasaan. Setelah itu, dia berdiri dan mulai melangkah menuju pintu ruangan, diikuti juga oleh Janhae.

Namun, tepat saat Milk dan Janhae hampir keluar dari ruangan kebesaran Love, sebuah suara dari luar tiba-tiba menghentikan langkah mereka.

Tok Tok Tok!

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang