Chapter 15 - Prakṛti

1K 155 49
                                        

Seminggu berlalu sejak konser Nanon, namun Milk tak pernah lagi terlihat oleh Love

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seminggu berlalu sejak konser Nanon, namun Milk tak pernah lagi terlihat oleh Love. Gadis mungil itu lebih sering menghabiskan waktu bersama Fourth karena pemuda itu sering mengajaknya keluar walau hanya sekadar mengobrol santai. Keadaan itu sedikit mengusik perasaan Love, membuatnya tertekan tanpa bisa menjelaskan kenapa. Setiap kali ia mencoba untuk berpikir jernih, ada kegelisahan yang menghantuinya tentang Milk, yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Selama seminggu, tak ada kabar, tak ada pesan, tak ada pertemuan. Sesuatu terasa tidak beres bagi Love.

"Lagi mikirin apa sih, Love?" tanya June dengan suara riangnya, sambil menyerahkan sebotol kaleng soda. Love terkejut, seolah baru sadar dari lamunannya yang panjang. Ia menerima kaleng itu dengan tangan sedikit gemetar.

"Gak mikirin apa-apa," jawab Love buru-buru, mencoba menutupi kegelisahannya. Namun, saat meneguk soda itu, rasanya tak sesegar biasanya. Hanya ada sensasi dingin yang mengalir, seakan menambah berat hati yang sudah ia rasakan. Ia tidak tahu kenapa memikirkan sang lawan sedemikian rupa.

"Paling juga mikirin Milk yang nggak muncul-muncul itu, kan?" View tiba-tiba menyela, suaranya nyaring dan penuh dengan sindiran. Love langsung tersedak minuman yang tengah ia teguk. Matanya membelalak, kaget dengan sindiran sahabatnya.

View hanya tertawa kecil, tanpa rasa bersalah. Sementara June, dengan penuh perhatian, menepuk pelan punggung Love, mencoba menenangkan gadis itu. 

"Tapi aneh juga ya," View mulai bersuara, matanya bergerak cepat, seolah mencari jawaban atas kebingungannya. "Kita kerja sama dengan dia, tapi yang datang ke meeting akhir-akhir ini malah sekretarisnya terus. Kenapa nggak Milk langsung aja sih? Biasanya dia langsung turun tangan." View mengangguk-anggukkan kepalanya, mempertegas keheranannya. Gadis yang lebih tinggi itu juga heran dengan ketidakmunculan Milk seminggu terakhir.

Love hanya mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang memang tak beres, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya. View melanjutkan, "Dan yang lebih aneh, malah Fourth yang lebih sering muncul. Bukannya dia harus kuliah, ya?"

View akhirnya duduk di samping June, menggeser tubuhnya dengan gerakan agak malas. June menatap keduanya satu per satu, seolah berpikir keras, kemudian ia membuka mulut dengan nada serius.

"Tapi kemarin, gua ketemu Milk dan bapaknya loh," jawab June pelan, dengan nada yang cukup hati-hati. Seketika itu juga, kedua gadis di depannya menatapnya dengan mata terbelalak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

"Di mana?" Love langsung bertanya, suaranya penuh urgensi dan rasa penasaran yang sulit disembunyikan.

June terlihat sedikit bingung, mencoba mengingat-ingat dengan jelas tempat pertemuan itu. Ia menatap jauh ke depan seolah menggali ingatannya sehari yang lalu.

"Kalau gak salah ingat, gua ketemu mereka di dekat kantor imigrasi," jawab June pelan, wajahnya mulai serius. "Gua lihat juga, Milk lagi berdebat sama bapaknya." Setelah itu, June meneguk minumannya perlahan, seolah mencoba meredakan ketegangan dalam percakapan itu.

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang