START: 19 Oktober 2024
END : 01 Juni 2025
Main Couple: MilkLove
Side Couple: NamtanFilm, ViewJune, EarnCiize
Persaingan antara Vosbein Group yang baru saja menampilkan prestasinya, mengalahkan sang juara bertahan Limpatiyakorn Group yang sudah lebih...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam semakin larut, namun tidak membuat gadis mungil itu terlelap ke dalam bunga tidur. Gadis itu sedang merenung, memikirkan berbagai kejadian yang datang secara tiba-tiba dalam hidupnya. Ia tidak mengira bahwa akan seberantakan ini pada akhirnya.
Flashback on
"Selamat pagi Pa, Ma," sapa Love dengan senyum cerah di wajahnya, sama seperti hari-hari sebelumnya. Senyum yang selalu mengingatkan kedua orang tuanya akan keceriaan dan kepolosan anak semata wayang mereka.
"Selamat pagi, anak Mama," balas sang ibu dengan senyuman hangat seperti biasanya.
"Ayo, sarapan dulu," ajak sang ibu yang diangguki oleh Love. Gadis mungil itu mengambil tempat duduk di hadapan kedua orang tuanya.
Tina, sang ayah, menatap lembut ke arah anaknya, tapi ada yang berbeda pagi ini. Sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ketegangan kecil yang tak terduga muncul di udara pagi yang biasanya penuh dengan kehangatan.
"Love," panggil Tina dengan nada yang lebih serius dari biasanya. Suara itu tidak keras, namun cukup dalam hingga Love bisa merasakannya. Seolah ada hal penting yang ingin di sampaikan oleh sang ayah.
"Ya, Pa?" Love mengangkat pandangan dari cangkir susunya yang baru saja menyentuh ke bibirnya. Matanya berbinar, tak tahu bahwa pertanyaan itu akan segera membuat dunia kecil mereka sedikit terguncang.
"Apakah kamu sudah punya pacar?" tanya Tina tiba-tiba, entah ekspresi apa yang ditampilkan oleh sang ayah, namun Love tidak menyukai ekspresi itu.
Love terkejut, susu yang baru saja hendak diminum itu tersedak di tenggorokannya. Matanya membelalak, memandang kedua orang tuanya dengan kebingungannya. Selama ini, tak pernah ada pembicaraan seperti ini di meja makan mereka.
"M-maksud Papa gimana?" gumam Love, mencoba mengumpulkan kata-kata yang terasa seperti salju yang tiba-tiba turun begitu cepat, menutupi seluruh perasaan yang semula ringan dan tenang.
Tina menghela napas panjang, seolah ada beban yang tak terucapkan. Raut wajahnya menandakan kegelisahan yang ia coba sembunyikan. Ia menatap Love dengan penuh perhatian, tetapi juga sedikit cemas. Sementara itu, Aom, sang ibu, berusaha mencairkan suasana dengan dengan kelembutan dan ketenangan yang menjadi ciri khasnya.
"Tidak perlu terkejut begitu, Sayang," kata Aom sambil tersenyum ringan, mencoba membuat suasana tetap hangat.
"Papa kamu hanya bertanya. Apa salahnya kalau Papa ingin tahu?" Aom melanjutkan, mengambil sepotong roti dan menggigitnya dengan santai, seolah-olah pertanyaan itu adalah hal biasa yang tidak perlu dirisaukan. Meski mereka tidak pernah membahasnya.
Namun, Love tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam di balik pertanyaan itu. Ia berdehem pelan, menenangkan dirinya sendiri. Suara dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring dan aroma sarapan pagi yang masih hangat tak mampu menenangkan hati yang tiba-tiba terasa gelisah.