"Dunia sibuk banget ya?"
-Anindya Nasywa Ayudisha-
🌺
Matahari baru saja mulai menampakkan kehadirannya lewat sinar yang masih malu-malu dari arah timur. Rumah Pak Darman pun baru mulai ada kegiatan setelah gelap menghilang. Ibu merebus air untuk menyeduh teh, Areksa yang berjalan tertatih dari kamarnya ke dapur dengan masih menggunakan sarung yang ia gunakan untuk ibadah tadi, dan Aneska yang ketiduran di atas sajadahnya dengan masih menggunakan mukena. Sementara Bapak sendiri yang sudah keluar rumah, menuju halaman belakang dengan membawa seember pakan ayam. Di halaman rumah ini terdapat tiga kandang ayam yang berisi masing-masing lima ayam. Satu kandangnya terdapat satu pejantan dan empat betina.
Suara ayam yang berkokok menyambut Bapak. Banyak ayam yang sudah tidak sabar bahkan ketika Bapak menuangkan pakan, ayam-ayam itu saling berlomba mematok makanan. Namun, Bapak melihat ada sesuatu yang janggal saat menghampiri kandang ketiga. Di sudut kandang terdapat ayam betina yang kepalanya menjulur keluar dan badannya terkulai lemah.
Bapak buru-buru menuangkan sisa pakan di embernya dan langsung mencoba mengeluarkan badan ayam itu. Untungnya badah ayam itu masih hangat dan masih hidup meski sudah terkulai lemas.
"Beleh pitik, Bu," [Sembelih ayam, Bu,] ujarnya sambil mendekat ke arah pintu rumah dengan membawa ayam itu.
"Lhaa, kuwi pitike kenapa, Pak?" [Itu ayamnya kenapa, Pak] tanya Ibu.
"Itu masih hidup, Pak?" susul Areksa memberi pertanyaan.
"Isih urip iki, gek di beleh wae." [Masih hidup ini, terus di sembelih aja.]
Pagi yang santai itu nerubah menjadi sedikit ribut. Bapak harus melepas sarungnya sepagi ini demi menyembelih ayam yang telah sekarat itu sementara Ibu pun mengisi panci dengan air untuk direbus dan akan digunakan untuk merendam ayam yang akan dicabuti bulunya.
"Mau di masak apa ayamnya, Le?" tawar Ibu kepada Areksa.
"Nderek mawon, Bu," [Ngikut aja, Bu,] balas Areksa.
Ibu tampak berpikir, terus berpikir sampai sesi menyembelihnya selesai dan kini ayam betina itu telah terendam oleh air mendidih di ember.
Pagi itu kegiatan mulai berjalan seperti biasa lagi. Karena tidak mungkin mengolah ayam secepat itu, pagi ini Ibu memilih menggoreng telur yang dikocok dengan tempe goreng dan irisan bawang putih serta bawang merah.
Keempat angota keluarga pun berkumpul di meja makan, menyantap sarapan dengan menu sederhana sembari berbicara tentang banyak hal.
"Nes, nanti rolling door yang paling ujung jadi dibuka ya, di beresi," pesan Areksa pada Aneska.
"Iya... Oh, sama Pak Darmadi kemarin nyari pelet ukuran min dua udah kosong sekitar tiga harian ini, kok nggak terus datang?"
"Terus Pak Darmadi nggak jadi beli?" Areksa meraih toples kerupuk, mengambil beberapa kerupuk udang sekalian meletakkannya sebagian ke piring adiknya.
"Jadi, tapi ukuran min satu," jawab Aneska.
"Nanti tak tanyain ke Mas Robi. Kalo seharian ini ada yang nyari pelet ukuran itu, suruh ke tempat lain aja dulu." Bapak dan Ibu menyimak, setelah keduanya tadi berbicara kini giliran mereka mendengarkan anak-anaknya.
"Ayame dimasak apa ya?" Akhirnya ayam yang telah terbujur kaku itu kembali diungkit sebagai topik.
"Kalau bingung mau dimasak apa, di potong masukin kulkas dulu aja, Bu," usul Aneska.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)