Chapter 28

94 12 1
                                        

Setelah kejadian di lorong tempo hari lalu, ke-empat anak singa itu mencari tahu apa itu kamar rahasia dan di mana tempatnya. Namun nihil, tidak ada hasil walaupun mereka sudah mencari semua buku yang ada di rak perpustakaan sepanjang hari.

Tapi setelah itu sedikit keberuntungan datang untuk mereka. Saat di kelas yang  paling membosankan (mungkin sebagian besar murid hogwarts setuju), kelas sejarah sihir dengan Profesor yang bukan lagi seorang manusia.

Profesor Binns sudah berbicara kurang lebih setengah jam lamanya, tapi terhenti ketika gadis berjubah singa mengangkat tangan kanannya ke atas.

Hantu yang notabed nya guru itu mendongak di tengah bacaan super membosankan tentang Konvensi Sihir Internasional tahun 1289, kelihatan kaget. Tentu saja ini tidak pernah terjadi sebelumnya 

"Yes miss -?"

"Wood, Sir. Name Wood.
saya ingin tahu apakah Anda bisa menceritakan kepada kami
sesuatu tentang Kamar Rahasia"

Pelajaran dengan Profesor hantu yang awalnya membuat rasa kantuk berubah menjadi sedikit tegang, penasaran dan seru secara bersamaan. 

Anak anak memperhatikan sekarang dengan tatapan ingin tahu. Bahkan salah satu anak Hufflepuf yang hampir terlelap langsung melotot seketika. Dean Thomas, yang duduk dengan mulut melongo sambil memandang kosong ke jendela, tersentak dari transnya. Kepala Lavender Brown terangkat dari lengannya dan siku Neville dari tepian meja.

Profesor Binns mengejap.

"Mata kuliahku adalah Sejarah Sihir," katanya dengan suara kering dan mendesah.

"Saya mengajarkan fakta, Nona Wood, bukan dongeng dan legenda." Dia berdeham sedikit,seperti bunyi kapur patah, dan melanjut-kan,

"Dalam bulan September tahun itu, sub-panitia para penyihir Sardinia..."

Dia harus berhenti. Kini giliran Hermione melambai di udara.

"Nona Grant?" guru itu menebak nama dengan salah.

"Maaf, Sir, bukankah legenda selalu punya dasar fakta?"

Profesor Binns memandang Hermione dengan penuh keheranan. Name yakin tidak ada seorang pun murid yang pernah mengganggunya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal

"Yah," kata Profesor Binns lambat-lambat. "Ya, orang bisa memperdebatkan soal itu, kurasa." Dia me-nyipitkan mata, memandang Hermione seakan tak pernah memandang muridnya dengan jelas sebelum-nya. "Meskipun demikian, legenda yang kautanyakan itu

dongeng yang sangat sensasional, bahkan meng-gelikan..." Tetapi seluruh kelas sekarang memusatkan perhatian pada kata-kata Profesor Binns.

Dia memandang me-reka, semua wajah menghadap dirinya, memandang-nya. Harry bisa melihat sang profesor benar-benar tercengang melihat ketertarikan yang luar biasa itu.

"Oh, baiklah," katanya lambat-lambat. "Kamar Rahasia...

Kalian semua tahu, tentunya, bahwa Hogwarts didirikan lebih dari seribu tahun yang lalu-tanggal persisnya tidak jelas oleh empat penyihir besar pada zamannya. Keempat asrama sekolah ini dinamakan sesuai nama mereka: Godric Gryffindor, Helga Hufflepuff, Rowena Ravenclaw, dan Salazar Slytherin."

"Mereka bersama-sama mendirikan kastil ini, jauh dari mata Muggle yang ingin tahu, karena zaman itu sihir ditakuti orang-orang biasa dan para penyihir men-derita karena disiksa."

Dia berhenti sejenak, memandang muram ke se-luruh kelas, lalu melanjutkan, "Selama beberapa tahun, para pendiri bekerja bersama-sama dengan harmonis, mencari anak-anak yang menunjukkan bakat sihir dan membawa mereka ke kastil

untuk dididik. Tetapi kemudian konflik muncul di antara mereka. Perpecahan mulai muncul antara Slytherin dan yang lainnya. Slytherin ingin mereka lebih selektif. dalam memilih siswa untuk masuk Hogwarts. Menurutnya, pelajaran sulap seharusnya hanya diberikan kepada keluarga ahli sulap. Dia tidak suka menerima siswa yang lahir dari orang tua Muggle. Menurutnya, mereka tidak dapat dipercaya. Setelah beberapa waktu, terjadi perdebatan sengit mengenai hal ini antara Slytherin dan Gryffindor, dan Slytherin meninggalkan sekolah."

Profesor Binns berhenti lagi, mengerucutkan bibir-nya, kelihatan seperti kura-kura tua berkeriput.

"Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang bisa di-percaya, cuma itulah yang kita tahu," katanya, tetapi fakta yang benar ini dikaburkan oleh legenda Kamar Rahasia yang seru. Menurut ceritanya, Slytherin sudah membuat kamar tersembunyi di dalam kastil, yang sama sekali tidak diketahui para pendiri lainnya.

"Menurut legenda, Slytherin menyegel Kamar Rahasia, sehingga tidak seorang pun dapat membukanya sampai pewaris aslinya tiba di sekolah ini.

Hanya si pewaris itulah yang bisa membuka segel Kamar Rahasia, melepas horor di dalamnya, dan menggunakannya untuk memumikan sekolah dari mereka yang tak layak mempelajari ilmu sihir."

Kelas menjadi sunyi saat Profesor Binns menyelesaikan ceritanya, namun bukan keheningan mengantuk yang biasanya memenuhi kelas ini. Ada kegugupan dalam dirinya karena semua anak masih memandangnya, berharap mendapat lebih banyak cerita. Profesor Binns tampak sedikit kesal.

"Semua itu omong kosong, tentu saja," katanya. "Dengan sendirinya sekolah diselidiki untuk mencari bukti-bukti adanya kamar itu. Sudah banyak kali para penyihir yang terpelajar"

"menyelidikinya, tapi kamar itu tidak ada. Itu cuma cerita bohong yang disebar-kan untuk menakut-nakuti mereka yang mudah di-tipu."

Tangan Name kembali terangkat. "Sir-apa tepatnya yang Anda maksud dengan 'horor di dalam' kamar?"

"Menurut cerita itu semacam monster yang hanya bisa dikontrol oleh pewaris Slytherin," kata Profesor Binns dengan suaranya yang kering mendesah.

Anak-anak saling bertukar pandang dengan cemas

"Sudah kubilang, semua itu tidak ada, "kata Profesor Binns, membalik-balik catatannya. "Tidak ada Kamar Rahasia dan monster."

"Tapi, Sir," kata Seamus Finnigan, "kalau kamar itu hanya bisa dibuka oleh pewaris sejati Slytherin, orang lain tak akan ada yang bisa menemukannya, kan?"

"Omong kosong, O'Flaherty," kata Profesor Binns jengkel. "Kalau sederet kepala sekolah Hogwarts tidak menemukannya..."

"Tapi, Profesor," celetuk Parvati Patil dengan suara kecil, "Anda mungkin harus menggunakan Ilmu Hitam untuk membukanya..."

"Kalau penyihir terhormat tidak menggunakan Ilmu Hitam, bukan berarti dia tidak bisa, Miss Pennyfeather, "sela Profesor Binns tajam. "Kuulangi, kalau orang seperti Dumbledore..."

"Tapi mungkin orang itu harus keluarga Slytherin, makanya Dumbledore tidak bisa...." Dean Thomas hendak menjelaskan, tetapi Profesor Binns sudah tidak mau melanjutkan

Dean Thomas hendak menjelaskan, tetapi Profesor Binns sudah tidak mau melanjutkan.

"Cukup," katanya tajam. "Itu cuma dongeng! Kamar itu tidak ada! Tak ada setitik pun bukti bahwa Slytherin pernah membuat bahkan cuma lemari sapu rahasia! Aku menyesal sudah menceritakan kepada kalian cerita tak masuk akal begitu! Kita kembali ke sejarah, ke fakta-fakta yang solid, bisa dipercaya, dan bisa dibuktikan,"

Dan dalam waktu lima menit seluruh kelas sudah kembali tertidur nyenyak seperti biasa.

"Dari dulu aku sudah tahu Salazar Slytherin itu sin-ting,"Ron berkata kepada Name, Harry dan Hermione. Saat itu mereka sedang berdesakan di koridor yang penuh sesak pada akhir pelajaran untuk menaruh tas mereka, sebelum makan malam. "Tetapi aku tak pernah tahu dialah yang punya ide soal darah murni ini. Dibayar pun aku tak mau tinggal di asramanya. Benar, kalau Topi Seleksi dulu mencoba menempatkanku di Slytherin, aku akan langsung pulang naik kereta api...."

Hermione mengangguk bersemangat, Name tertawa geli mendengar itu, berpikir apakah dia akan melakukan hal seperti itu juga jika ia masuk Slytherin. Tentu saja tidak, tapi mungkin akan terasa aneh untuknya berada di asrama yang ayah ibunya tidak berada di asrama ular itu, bahkan dari garis keturunannya dominan Gryffindor dan Hufflepuf.



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 10, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A Story-Name WoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang