Author's POV
Dico memandangi selembar kertas berwarna biru yang ditemukannya di taman tadi sore. Ia menghampiri bangku balkon kamarnya, duduk disana sambil memandangi langit yang gelap. Bulan dibiarkan sendirian tanpa bintang.
"Kalo gue buka, gaada kutukannya kan ya?" Dico membolak-balik kertas biru yang masih terlipat itu. Menyadari hal yang baru ia ucapkan adalah hal yang tidak masuk akal, Dico pun membuka lipatannya.
"Oh puisi toh. Eh, atau sajak? Yah gue kan gak ahli banget gini-ginian," gumam Dico setelah membaca barisan kata yang tertulis didalamnya. "Bagus juga nih, apa ini punya Emily?"
Dico mencoba berpikir, mengingat sedikit kenangan masa lalunya. Tapi ia tidak mau menerka terlalu dalam. Peristiwa kecelakaan tiga tahun lalu sangat berpengaruh baginya, walaupun ternyata Dico tidak bisa membenci hobinya bermain skateboard.
Ditengah hembusan angin malam, ketukan pintu yang diikuti pekikan seorang anak kecil membuyarkan bayangan dalam pikiran Dico. "Kak! Kak Dico! Aku mau masuk ya!"
Diana membuka pintu kamar Dico dan menerobos ke arah balkon. "Kak, kita telpon Kak Emil yuk!"
"Hah? Ngapain? Baru juga beberapa jam lalu Kak Emilnya pulang, masa kamu udah kangen aja," Dico mengernyit heran.
"Kita telpon rumahnya dulu, Kak, baru tanya nomor hape-nya," Diana mulai memasang tampang melasnya. Dico mendengus pelan, lalu berdiri untuk menuruti permintaan adiknya yang saat ini sedang kegirangan. "Emang kamu tau nomor rumahnya?"
"Aku kan udah tanya sama Mama!" Diana menunjukkan deretan gigi putihnya. Mereka berdua segera turun menuju telepon rumah.
Sepuluh menit berbincang-bincang lewat telepon, akhirnya Diana mengantuk. Ia menyuruh Dico untuk menyimpan nomor Emily di handphone-nya.
Dico menggendong Diana yang mengantuk di punggungnya, menaruhnya di kasur kemudian masuk kembali ke kamarnya. Entah mengapa, Dico memandangi handphone-nya sambil tersenyum kecil.
Sementara ditempat lain, Sammy yang sedang memetik gitar dan menunggu balasan chat dari Emily di halaman belakang rumahnya terpaksa berhenti karena Cicha menghampirinya. "Kak, kalo aku ikut dance club gitu kakak setuju gak?"
"Setuju-setuju aja, asal kamu seneng sih gakpapa," balas Sammy, pelan-pelan memulai petikan gitarnya lagi. "Kamu juga suka ngikutin dance Korea gitu kan?"
Cicha terkekeh pelan. "Hehehe, iyasih. Tapi aku gak K-popers banget kok!"
"Emang kamu udah tanya Mama?" Sammy memandangi adiknya lagi.
"Udah kok, tanya Papa juga udah. Kalo kakak setuju, aku bahkan udah tau mau masuk ke club mana!" Cicha tersenyum antusias, berharap kakaknya mendukung keinginannya penuh.
"Yaudah bagus kalo gitu. Mau daftar kapan, Cha?" Sammy berdiri, berniat masuk karena hari semakin malam.
"Minggu depan, abis UKK. Berarti kakak setuju kan? Yeay, makasih ya, Kak!" Cicha dan Sammy masuk ke dalam rumah mereka, melangkahkan kaki bersama-sama menuju kamar tidur mereka.
-SIAS-
Satu minggu kemudian, tepatnya hari Jumat siang, anak-anak SMA Cahaya Bangsa bersorak kegirangan karena UKK sudah terlewati. Sebagian dari mereka ada yang menunggu di sekolah untuk melihat nilai yang sudah keluar, ada juga yang sudah meninggalkan sekolah untuk kumpul-kumpul dan merayakan UKK yang sudah selesai.
Walaupun sudah ada rencana pergi bersama Ditha, Emily tetap menunggu sebentar bersama Ditha. Mereka tidak ingin ketinggalan kabar dari teman-temannya perihal nilai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sunshine in Another Sky
Teen FictionDisaat baru membuka kelopak mata pun, aku sudah tahu. Aku bukanlah orang yang pernah mengisi hatimu. Bukan orang yang pernah membuat perutmu seperti kupu-kupu yang berterbangan ketika kau melihatku, atau membuat jantungmu berdegup lebih kencang dari...
