24. Plann.

411 37 9
                                        

"Ndut, nanti mau liat bunga abadi gak sama aku?"

"Maksudnya?" Mendengar penuturan Flora, Freya jadi memandang pada gadis itu.

"Heum. Aku mau ajak kamu liat bunga Edelweiss. Di puncak Mahameru."

"Woah kamu mau ajak aku naik gunung kah?" Freya bertanya dengan excited.

Flora membawa kepala Freya untuk bersandar di bahunya. Sekarang mereka sedang berada di pinggiran dermaga yang berlokasi tak jauh dari tempat penginapan mereka.

Mereka duduk samping sampingan sambil memandang ke arah laut Banda.

"Iya. Kamu mau gak?" Tanya Flora pelan sambil mengelus lembut kepala Freya.

"Mau dong! Selagi sama kamu, aku pasti mau." Freya terseyum.

"Aku punya rencana buat ajak kamu ke Seven Summit Java. Aku mau bawa kamu ke tempat bunga abadi tumbuh. Biar kamu tau, cantik kamu itu abadi kayak bunga Edelweiss."

"Caelahh bisa aje bang," Balas Freya.

"Btw udah berapa cwk yang di godain?"

Flora gak jawab dan malah merem, pura pura gak denger.

Freya jadi tertawa. "Kenapa sih aneh banget..."

"Abis ini mau kemana lagi?" Flora mengalihkan pembicaraan.

Freya diam sejenak, "Eum... kemana ya yang enak...?"

"Portofino deh. Kalo enggak... Madeira aja." Ujar Freya.

Flora mengangguk, "Tapi habis itu kamu ikut aku ya ke Monaco? Aku mau nonton F1."

"Mauu! Terus ke Stockholm ya??"

"Mau ngapain ke Sweden?" Flora menyeritkan keningnya.

"Eum... sejujurnya, aku udah punya mimpi buat keliling dunia sama kamu itu dari lama. I just–scared to say that. Aku takut kamu gak mau kalo aku ajak travelling keliling dunia."

Flora menggeleng dan tertawa, "Mana mungkin aku gak mau. Yaudah, sepulang kita dari sini, kamu list list in negara negara mana aja yang mau kamu kunjungi. Pertengahan tahun, aku ambil cuti ke Papah. 2 tahun cukup buat explore apa yang pengen kamu explore?"

Bola mata Freya berbinar. "Serius sayang??"

Flora mengangguk, "Of course. Kita keliling dunia, lalu negara terakhir yang bakalan kita kunjungin itu Italy. Di Como. Aku mau pernikahan kita di selenggarakan di sana."

"Mauuu! Aaaa makasih ya kamu udah selalu mengusahakan kebahagian aku." Freya memeluk Flora.

"Loh, gak usah terimakasih, ndut. Yang nemenin aku waktu aku gak punya apa apa itu cuma kamu. Yang ngeliat aku sebagai berlian di tumpukan sampah itu cuma kamu. Jadi aku gak bakal biarin kamu memohon untuk segala sesuatunya. Aku bakalan selalu usahakan keinginan kamu. Makasih banyak ya?"

"Makasih untuk apa??" Freya menatap heran sang tunangan.

"Makasih untuk kamu yang gak pernah kepikiran untuk pergi di saat aku gak punya apa apa." Sambung Flora pelan.

"Di saat semua orang gak ada yang melirik aku bahkan gak menotice keberadaan aku, kamu jadi satu satunya orang yang mau natap aku sebagaimana manusia pada umumnya. Kalo tau semua kesusahan aku di masa lalu itu hadiahnya kamu, tau gitu susah aja terus."

Freya langsung reflek menepuk lengan Flora. "Hush! Ngaco." Sinis Freya.

Flora hanya cekikikan.

"Oh iya! Nanti ke panti yuk. Jenguk adik adik."

Freyana.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang