26. Ending.

159 24 4
                                        

Adel kini sedang berdiri di depan cermin, menatap diri nya yang baru saja selesai memakai kemeja hitam nya.

Ceklek...

Tanpa Adel menoleh pun ia sudah tau bahwa itu pasti Mario.

"Nak..." Mario berjalan menghampiri Adel yang masih setia berdiri di depan cermin.

"Kamu udah selesai siap-siap nya? Yuk kita ke bawah. Kakak kamu sama Freya harus segera di makam kan, kasihan mereka kalau harus lebih lama lagi." Mario menyentuh lembut bahu Adel.

Adel menunduk, "Pah kita beneran kehilangan Flora, ya?" Ujar nya lirih.

"Nak, sesuatu yang sudah menjadi takdir, harus di terima..."

"Aku baru ngerasain punya saudara, Pah. Kenapa Tuhan sejahat itu? Aku hidup selalu kesepian dari kecil, gak punya tempat buat bercerita, gak punya tempat buat berkeluh kesah. Kenapa pas udah ada Flora, Tuhan ambil juga Flora nya?" Suara Adel bergetar. Ia gak sanggup untuk ikut ke pemakaman Kakak dan Sepupu nya.

"Apa di kehidupan sebelum nya aku pernah buat salah, Pah? Apa aku pantes nya sendirian?"

Mario langsung memeluk Adel erat. "It's not your fault, sayang. Ini takdir. Kalau bisa pun Papah gak akan mau kehilangan Kakak kamu. Kalian berdua anak Papah, Papah sayang sama kalian."

Mario mengelus punggung Adel yang kini bergetar hebat. Anak itu menangis. Ini pertamakali nya Mario melihat Adel menangis tanpa embel embel apapun.

"Aku capek Pah. Dunia jahat banget. Tuhan gak sayang sama aku. Aku cape hidup sendirian, aku butuh saudara. Kenapa malah di ambil?" Suara Adel begitu bergetar. Ia betul-betul terpukul. Sepupu dan Kakak nya di ambil secara berbarengan. Siapa yang akan menyukai hal itu?

Mario diam tak menjawab. Ia tau Adel begitu terpukul. Ia pun sama, tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan putri sulung nya.

"Kamu mau ikut ke pemakaman? Kalau kamu gak kuat, gak papa, kamu di sini aja." Ujar Mario pada Adel.

"Aku ikut Pah, aku butuh waktu sebentar lagi buat nenangin diri."

"Yasudah, kalau udah tenang kamu langsung ke bawah, ya? Semua udah pada nungguin kamu di bawah."

"Iya."

Lalu setelah nya Mario pergi keluar dari kamar Adel, sedangkan Adel langsung runtuh jatuh ke lantai. Gadis itu memeluk erat lutut nya. Tak terima jika harus menerima ending seperti ini.

Sedangkan situasi di bawah...

"Mas, gimana Adel?" Tanya Sisca pada suami nya.

"Nangis kejer di atas." Jawab Mario pada istri nya itu.

"Aku gak tega, Mas. Apa kita pergi tanpa Adel aja? Aku gak pernah liat anak itu nangis. Aku takut gak kuat kalau liat dia nangis." Sisca masuk ke dalam pelukan sang suami.

"Gak papa kita tungguin aja dulu, biar dia bisa lihat Kakak nya untuk yang terakhir kali nya sebelum di kebumikan." Mario mengelus lembut bahu Sisca yang sama terpukul nya dengan dia dan Adel.

Walaupun Flora adalah anak sambung nya, Sisca tetap menyayangi Flora sama seperti Adel. Sebab Adel adalah anak tunggal, ia senang jika Adel memiliki teman untuk di ajak ngobrol, pasalnya, ia dan Mario kerap kali sibuk dan jarang berada di rumah. Sisca suka sedih jika mengingat Adel selalu sendiri jika mereka berdua sedang tak berada di rumah.

Tak lama dari percakapan singkat itu, pintu lift terbuka, menampilkan Adel yang sudah rapih lengkap dengan kacamata hitam nya.

"Kamu udah siap, sayang?" Tanya Mario seraya merangkul bahu Adel. Adel sendiri tak menjawab, ia hanya mengangguk lalu menunduk.

Freyana.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang