Deburan ombak pantai terdengar sangat menenangkan hati. Saling sahut dengan suara kicauan burung yang menemani di siang hari ini. Bola plastik seharga 5 ribu mendarat di kaki Flora dengan pelan. Membuat sang empu jadi menoleh.
Seorang anak kecil dengan wajah polos nya sedang tersenyum pada Flora seraya menenteng sebuah kantung plastik berwarna hitam.
"Mau beli Boboto?" Ujar nya sambil tersenyum. (Fyi Boboto itu makanan khas Maluku Utara yang berbahan dasar Ikan Cakalang yang di kukus dengan daun pisang.)
Flora ikut tersenyum, kemudian ia menyamakan tinggi tubuh nya dengan tinggi tubuh bocah kecil itu. "Adik kemari deng sapa?" Tanya Flora seraya tersenyum.
Bocah kecil itu menggeleng, "Sa pu rumah di belakang bukit sana Kaka," Ujar nya pelan sambil kemudian menunjuk ke area belakang dari penginapan Flora.
"Oohh..." Flora mengangguk paham. "Lalu—apa ini? Ko bedagang kah?"
"Iyo. Sa ada jual Boboto. Mo beli?" Anak itu betul betul polos. Membuat Flora jadi tidak tega melihat nya.
"Ko duduk sini dulu, Sa ingin batanya sedikit. Boleh kan Sa batanya?" Flora menepuk space kosong di samping nya untuk Adik kecil itu.
"Iyo Kaka. Tra papa."
"Kalau Sa boleh tau, Ko su umur berapa?"
Tatapan mata polos itu menatap Flora, seakan meminta penjelasan dari apa yang Flora katakan.
"Adik su umur berapa?" Ulang Flora sekali lagi.
Bocah kecil itu menggeleng, "Tidak tau umur berapa." Jawab nya dengan polos.
Flora tersenyum dan mengelus lembut kepala bocah itu, "Nama ko siapa?"
"Emannuel Antonius."
Flora mengangguk, "Ko sekolah kah tidak?"
Bocah itu menggeleng.
"Lalu sehari-hari hanya bedagang saja? Ujar Flora yang kemudian di angguki oleh Bocah bernama Antonius itu.
Flora tersenyum, "Sa mo borong semua ko pu dagangan. Semua berapa?" Flora menatap Antonius yang seperti nya bingung.
"100 ribu bisa? Untuk Mamak beli beras. Beras di rumah habis." Jawab Antonius.
Flora tersenyum dan mengangguk, "Sa ada rejeki lebih untuk ko. Kalau Ko pu adik, kas beli jajan untuk dorang yo."
Antonio mengangguk, "Tapi Gabriella sedang sakit." Ujar nya dengan raut wajah sedih.
"Tra papa, Ko belikan ko pu adik obat, ya? Sa kasih sekalian nanti ko beli sandal, oke?" Kata Flora yang nyadar kalau si Antonius ini gak pakai alas kaki. Padahal cuaca terik. Kok bisa kaki nya kuat tahan panas nya pasir pantai.
"Ini jajan untuk Ko dan adik. Belikan Mamak makanan yang enak yo? Janji deng sa, jang kelaparan." Flora memeluk Antonius dengan lembut.
"Terimakasih Kaka." Antonius balas memeluk Flora.
"Sama-sama."
Lalu tanpa Flora mau pun Antonius sadari, dari atas sana ada Freya yang sedang memantau Flora dan Antonius. Ia bahkan dengan inisiatif merekam dan memfoto diam-diam interaksi antara Flora dan Antonius yang menurutnya sangat menenangkan hati.
Hati Freya lega, ia tak merasa salah dan rugi sudah memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan teman teman nya. Tak pernah terbesit sedikit pun di pikiran nya rasa menyesal karena sudah memilih Flora untuk menemani nya di perjalanan yang panjang ini. Flora gadis sederhana yang tak punya pikiran buruk pada orang lain. Hati dan pikiran Flora selalu melihat orang dari sisi positif nya. Flora sangat tau cara memanusiakan manusia. Lalu terlepas dari apapun itu, Freya lebih bersyukur karena dia itu Flora. Bukan orang lain.
