Satu bulan berlalu dari kejadian saling berkata jujur Adma dan Esa. Adma pikir setelah mengungkapkan apa yang ia pendam dengan sejujurnya, Esa akan terbuka jalan pikirannya. Namun meleset, semua kemungkinan yang Adma pikirkan setelah hari itu tidak ada yang tepat.
Esa seperti di reset, Tingkahnya tak banyak berubah bahkan justru kembali ke setelan awal saat mereka baru pindah ke rumah Kasa. Esa tak pernah pulang. Nyatanya Esa menetap di rumah orang tua mereka.
Adma sudah di titik benar-benar tidak mengerti dengan Esa. Di titik dimana Adma sudah tak ingin membujuk si sulung untuk kembali ke rumah Kasa, dimana Adma sudah tak ingin ikut campur perihal perasaan diantara ketiga anak Haidar.
Adma hanya ingin bertindak sesuai apa yang ia pilih, Adma sudah lelah bila harus menerima pendapat orang lain lagi sebab nyatanya Adma akan berakhir tertekan kembali. Seperti kata Esa, Adma ingin egois.
Satu bulan lamanya, Adma tak pernah ingin bersitatap dengan Bian. Bukannya Adma benci. Namun ketika matanya bertemu dengan netra Bian yang hitam dan dalam, Adma kalah. Seakan sesak satu bulan lalu kembali merambat dari dada hingga tenggorokan. Adma kerap terbayang ledakan emosinya bersama dengan Esa kemarin, bahkan lima hari setelahnya Adma selalu mendapat mimpi buruk.
Bahkan untuk mengobrol dengan penghuni Kasa yang lain Adma hanya melakukan sebatasnya, seperlunya. Perubahan itu tentu terlihat oleh kelimanya, terutama Bian. Bocah itu kerap kali berpapasan dengan Adma ketika keluar dari kamar, namun tak ada sapaan. Adma kembali dingin seperti Esa.
Esa juga tidak ada kabar sama sekali, Anilas beberapa kali menanyakan namun Adma hanya menjawab tidak tahu. Sudah terhitung satu bulan, Anilas tidak ingin ikut campur lebih jauh. Karena selama dua minggu ini, Anilas diam-diam mengambil tiga butir obat milik Bian yang Esa temui hari itu.
Anilas gunakan obat tersebut sebagai sampel untuk ia teliti, rasa penasaran bercampur khawatir sudah membayangi Anilas. Pemuda itu ingin membuktikan dugaannya salah, berkali-kali menyakinkan diri bahwa Bian hanya kelelahan dan asma biasa.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Seluruh penghuni Kasa sudah mendekam nyaman dibalik kamar masing-masing kecuali Adma yang kini melangkah menuruni tangga karena dilanda haus, badanya juga sekilas hangat. Mungkin sebentar lagi demam, pikirnya.
Melewati ruang makan, Adma justru menemukan presensi Aray yang tengah duduk disana dengan segelas air putih. Nampak Aray juga sama sepertinya. Adma ikut bergabung, menarik kursi dihadapan Aray dan duduk disana.
"Mikirin apa sih, kusut banget" Aray menoleh pelan mendengar suara Adma.
"Biasa, disuruh pilih-pilih lagi kita. Cape juga ya diatur terus hidup lo sama orang dewasa." Adma tersenyum kecut, ucapan Aray terlalu jujur. Adma hampir lupa jika tak hanya dirinya yang selalu disudutkan, tapi Aray pun sama.
Aray perlu memilih untuk mempertahankan hidup aman kedua adiknya. Agar Danes dan Iel tak perlu merasa tertekan, agar keduanya bisa hidup seperti yang mereka mau. Tapi apa harus dibayar dengan pengorbanan Aray?
"Om Raja suruh lo tinggalin hobi dance lagi?" Adma lihat kepala Aray mengangguk pelan di balik wajahnya yang menunduk. Senyum lemah kembali terlihat di wajah Adma, pemuda itu meraih gelasnya lalu meneguknya sekali.
Baru saja Adma ingin bertanya sekali lagi, Aray lebih dulu membuka suaranya. Membuka topik baru sebab tak ingin berlarut sedih.
"Berantem ya, sama abang lo?" Tepat sasaran, Adma menelan berat air yang baru saja ia minum sementara dihadapannya Aray meraih air minumnya dan meneguknya hingga habis.
"Gue ga mau sok bijak kaya bang Esa, tapi gue mau lo inget nasihat bang Nilas waktu itu. Good luck, bro!" Aray bangkit, melangkah pergi meninggalkan Adma yang hanyut dalam pikirannya kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBLIVION
General FictionTujuh kepala yang tinggal di dalam satu atap, saudara satu kakek tapi asing satu sama lain. Bagaimana mau hidup bersama jika terus saling tidak peduli? Rumah perlahan-lahan menjadi sesuatu yang memuakkan hanya dalam tiga bulan. Ingin pulang tapi ti...
