Baru saja keduanya ingin beranjak memasuki kamar, setelah Esa mengatakan setuju untuk menemani Adma bertemu Haidar.
Suara dari lantai atas berhasil menarik rasa perhatian keduanya, bahkan jantung Adma rasanya berhenti sedetik mendengar teriakan Aray.
"BANG ANILAS!" Suara itu kembali terdengar, Adma memutuskan memacu langkahnya menaiki tangga bersamaan dengan Danes yang menuruni tangga terburu-buru.
Adma menghentikan langkahnya, netranya mengikuti Danes yang bergerak cepat menuju kamar Anilas. Untungnya Anilas lebih dulu keluar dari kamarnya sebelum Danes mengetuk pintu tersebut.
"Kenapa? Ada apa?" Anilas tak kalah panik saat mendengar teriakan Aray dari lantai atas.
Danes dengan nafas yang memburu dan panik ingin mengeluarkan suaranya namun terlihat sulit sekali.
"Bian—" Sontak Anilas berlari menuju lantai atas, bahkan sempat hampir tersandung namun dengan cepat Adma bantu dan keduanya tergesa menaiki tangga untuk cepat sampai ke kamar Bian.
"Bian pingsan, ada ruam di kakinya." Esa menoleh pada Danes yang bersuara lirih sekali. Bodohnya Esa justru malah terpaku disana. Danes memilih untuk kembali naik ke atas.
Esa berdiam diri di hadapan anak tangga, hatinya menggerakkan kaki untuk menyusul ke atas namun pikirannya buntu. Merusak segala batin Esa yang tanpa disadari juga khawatir melihat situasi yang menegangkan seperti tadi.
Bian tidak sadarkan diri, dan mengapa ada ruam? Apa dia habis dipukuli, tidak mungkin sebab dua hari kemarin Bian berada di rumah Anilas. Apa iya disana Bian diperlakukan buruk?
Esa menyingkirkan ego pikirannya dan dengan langkah mantap dirinya ikut menaiki tangga menuju kamar Bian.
Setelah pintu kembali Esa tutup, Esa melihat Anilas dan Adma yang tengah membaringkan Bian di kasurnya. Sementara Aray tengah merengkuh Iel yang terlihat cemas dan Danes yang berdiri di dekat pintu enggan mendekat.
Padahal belum ada lima menit Danes adalah orang yang paling khawatir sampai rela naik turun tangga untuk menjemput Anilas. Tapi sekarang, panik yang sempat mencekam seakan hilang dari Danes. Rautnya biasa saja mengamati apa yang Anilas tengah lakukan.
Begitupun Esa yang ragu-ragu untuk mendekat. Sama seperti apa yang Danes lakukan, mengamati Anilas yang kini tengah memeriksa pergelangan tangan Bian untuk mengetahui denyut nadinya.
"Bian, bisa denger gue?" Anilas nampak menjentikkan jarinya sebanyak dua kali lalu kepala Bian mengangguk kaku.
Melihat gerakan yang teramat kecil itu akhirnya Esa memilih maju mendekati Adma yang berdiri di samping ranjang.
"Kenapa?" Tanya itu Esa suarakan, sontak seisi kepala yang berada di kamar tersebut menoleh ke arah Esa kecuali Bian yang masih terlihat lemas. Bahkan netra bocah itu nampak terpejam dengan nafasnya yang sedikit tersendat-sendat.
Anilas sekilas menoleh ke arah Esa lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah Danes yang masih berdiam diri di dekat pintu.
"Danes, tolong ambilin peralatan gue di lemari kamar gue." Meski tak menjawab permintaan tolong itu, Danes tetap bergerak dengan sigap keluar kamar.
"Kenapa lagi dia, Nilas?" Esa suarakan kembali tanyanya hingga terdengar decak kesal dari Anilas.
"Belum tau Esa, ini makanya mau gue cek. Kalian semua baiknya keluar aja, sekalian minta tolong ambilin baskom air sama handuk. Bian demam." Ujar Anilas sambil sibuk membenarkan letak posisi Bian agar anak itu nyaman.
"Gue bantu ambilin!" Usul Aray bersedia membantu lalu pemuda itu berjalan keluar di ikuti Iel yang juga ingin membantu.
Kini, di dalam ruang kamar Bian yang tidak begitu luas. Keempat pemuda itu tak ada yang mengeluarkan suara. Dua diantaranya hanya mengamati apa yang Anilas lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBLIVION
Fiksi UmumTujuh kepala yang tinggal di dalam satu atap, saudara satu kakek tapi asing satu sama lain. Bagaimana mau hidup bersama jika terus saling tidak peduli? Rumah perlahan-lahan menjadi sesuatu yang memuakkan hanya dalam tiga bulan. Ingin pulang tapi ti...
